Wirawan Tjahjadi – Three Generation in Coffee Industry and Going Strong

Di Bali sendiri, industri kopi menjadi salah satu unggulan dari para petani, dan tidak sedikit perusahaan kopi yang sudah merintis usahanya sejakjaman kemerdekaan. Salah satu yang terbesar adalah Kopi Kupu-Kupu Bola Dunia. Perjalanan perusahaan kopi yang mereknya demikian branded itu tidak sebentar, namun panjang, berliku dan menantang. Secara bertahap perusahaan tersebut kian membesar, bahkan hingga saat ini dikelola oleh Wirawan Tjahjadi sebagai generasi ketiga. Namun dulu, ketika pertama kali terjun di bisnis kopi, produk yang dihasilkan oleh perusahaan keluarga Bhineka Jaya ini, sering mendapat perlakuan yang tidak “adil” dalam pemasaran kopinya. Namun saat ini, menjadi salah satu pemasok terbesar kopi ke hotel-hotel dan bahkan mancanegara. Wirawan yang ditemui Anton HPT Reporter M&I menyampaikan perjalanan bisnis kopinya tersebut dari salah satu Coffee House yang didirikannya di kawasan By Pass sanur.

Bagaimana Anda mengawali karir bisnis sebagai generasi penerus di bisnis kopi ini?

Saya awalnya bersama Ayah menjadi marketing kopi ke hotel-hotel. Namun kopi kami dulu, dianggap sebagai produk kelas dua. Kami juga pernah menawarkan mesin kopi capuccino ke hotel Bali Beach dengan membawa mesin kecil yang kami beli di toko, saat itu kami ditertawakan, namun dari situlah kami sadar untuk berbenah jika mau kedepannya lebih baik, dari pengalaman itu ayah saya belajar dengan mengenal mesin kopi espresso dan lain-lain.

Bagaimana dengan kualitas kopi yang dibawa pada masa itu?

Orang-orang pada umumnya belum tahu bahwa kopi lokal produksi Indonesia pada umumnya bisa bersaing dengan merek dunia, karena kopi-kopi yang terkenal dari seluruh dunia, yang terbaik itu ada tiga dari Indonesia, seperti kopi Toraja, Sumatera dan kopi Bali, yang secara geografis diakui sebagai kopi spesial karena rasanya yang enak. Mungkin sekarang Anda sering menemui kopi Kintamani di banyak tempat yang terbukti enak, karena daerah Kintamani merupakan area perbukitan tinggi di Bali, karenanya kopi daerah tersebut masuk jenis arabika. Kopi yang ada di daerah Kintamani tersebut kualitas rasanya beda tipis dengan kopi Toraja.

Bukankah sebelumnya Anda tinggal diluar negeri?

Awalnya saya tinggal selama 13 tahun di Amerika, kemudian pulang ke Bali tahun 1993. Awalnya di toko itu saya menyapu dulu, lalu membungkus kopi, jadi betul-betul dari bawah dulu. Tiap pagi saya juga diajak oleh ayah ke pabrik untuk mencoba kopi buatan kita, jadi kopi memang sudah menjadi bagian hidup saya sejak muda dibawah didikan ayah.

Apa perbedaan antara bisnis kopi dulu dengan sekarang?

Dulu untuk memproses kopi masih tradisional, menggunakan kayu bakar untuk menggorengnya. Tapi ayah saya cepat mengadaptasi teknologi, dan tahun 1940-an kami membeli sebuah mesin otomatis. Saat itu kakek sempat marah kepada ayah saya, karena pembelian mesin otomatis pengolah kopi tersebut yang harganya sangat mahal, US $ 25.000. Sebuah harga yang saat itu sangat mahal sekali, mesin itu kami datangkan dari Jerman dan menjadi mesin satu-satunya pada masa itu di Bali, dari sana kami belajar bahwa makin lama permintaan kopi itu makin tinggi dan kami tidak bisa menyanggupi bila terus-menerus menggoreng menggunakan kayu bakar, sebagian pabrik kopi masih ada yang menggunakan kayu bakar, tapi bagi saya itu tidak bagus, karena bila kita menggoreng kopi dengan kayu bakar, nyala api yang dihasilkan tidak stabil, padahal untuk mempertahankan kualitas kopi nyala api itu harus stabil. Dengan menggunakan kayu bakar menurunkan dan menaikkan temperatur itu susah untuk menghasilkan kualitas kopi yang terbaik. Karena itulah kami secara cepat mengadaptasi teknologi untuk kemajuan perusahaan kami.

Jenis kopi apa saja yang ditawarkan?

Cukup beragam, ada kopi Sumatera, Toraja, organik dan lain-lain. Biasanya saat ada show kopi, saya selalu mengikuti, dan arah perkembangan kopi itu selalu saya update. Termasuk varian kopi organik, yaitu kopi yang bebas dari pestisida, dan kopi produk kami memiliki sertifikat asli kopi organik. Saya membeli kopi jenis ini dari perusahaan besar yang sudah memiliki akses banyak dan mereka juga mengekspor kopi tersebut ke mancanegara, sehingga produk yang dihasilkan lebih aman dan menjadi jaminan keaslian label organik tersebut.

Apakah kopi organik tersebut hasil perkembangan teknologi?

Saat ini sebenarnya banyak sekali kemajuan-kemajuan kopi yang mungkin masyarakat belum tahu, contohnya ya kopi organik itu, ada juga kopi Rain Forest yaitu kopi yang ditanam di sebuah lahan dengan tidak merusak daerah sekitarnya, sehingga tidak merusak lingkungan. Ada juga sistem fair trade, artinya tidak merugikan petani karena kopi yang dibeli itu dengan harga yang cukup mahal dan tidak menekan harga dari petani, hal ini dirasa penting demi kelangsungan kehidupan petani kopi kedepannya. Hal-hal seperti ini diluar negeri sudah berjalan dengan cukup baik.

Bagaimana dengan persaingan di industri ini?

Saya sebagai marketing dari IGE, yaitu indikasi geografis di Kintamani berfungi sebagai controller untuk mengurangi berbagai kebohongan mengenai kuantitas kopi arabika yang dihasilkan dari Kintamani, contohnya bila kopi yang dihasilkan itu 50 ton tapi yang keluar sejumlah 70 ton, berarti ada sejumlah 20 ton yang dicampur atau dibawa dari daerah lain, dengan adanya IGE, kita bisa mengontrol, karena perkilonya, kita charge 200 rupiah, ini merupakan program pemerintah untuk mengontrol kualitas kopi arabika Kintamani sehingga kita tidak kecolongan.

Kecolongan?

Saat ini kita sudah kecolongan, merek kopi Toraja sudah dipatenkan oleh Jepang, berarti kalau kita menjual kopi dengan nama Toraja di luar negeri sudah tidak bisa, dan kopi Gayo dari Sumatera sudah dipatenkan juga oleh Belanda, jadi ini lucu, kopi dengan nama lokal tapi kita sebagai orang Indonesia tidak boleh menjual dengan nama kita, ini sebabnya untuk melindungi kopi dari daerah Kintamani, maka pemerintah membuat IGE untuk melindungi kopi dari daerah tersebut sehingga kita tidak kecolongan lagi.

Pasar kopi demikian beragam, bagaimana dengan pasar dalam negeri sendiri?

Untuk daerah Tabanan dan sekitarnya, termasuk dataran rendah lainnya termasuk jenis robusta, sedangkan daerah dataran tinggi seperti Kintamani dan Bedugul masuk produk Arabika. Untuk pasar di Indonesia kebanyakan jenis kopi yang diminum itu robusta, yang membedakan adalah karakter kopinya, bukan datarannya. Di Indonesia sebanyak 70% itu kopi robusta, sedangkan sisanya 30% itu arabika, kalau konsumen luar itu bisa dipastikan memilih arabika karena kandungan kafein kopi arabika itu setengah dari kopi robusta. Untuk konsumen Indonesia, mereka tidak suka kopi yang ada rasa kecut seperti yang terdapat pada kopi arabika, salah satu karakter kopi robusta itu kalau digoreng, diatasnya itu lebih tebal sedangkan arabika lebih tipis, karena itu untuk kopi jenis cappucino dan espresso kami menggunakan kopi arabika, kalau menggunakan robusta rasa yang diperoleh kurang nikmat.

Sejauh mana penguasaan pasar kopi kupu-kupu bola dunia?

Untuk market di Bali setidaknya kami pegang 70%, dan hampir semua hotel-hotel di Bali sudah kita layani, sekitar 70-80%, hotel-hotel besar seperti Bvlgari, Grand Hyat, All Season, Intercon Hotel dan lain-lain. Untuk export, kami kirim ke Jepang, Singapore, Guam dan lain-lain. Kita saat ini lebih banyak main di packaging karena sudah ready pack jadi customer itu gampang menjualnya.

Apa yang membedakan market hotel dengan selain hotel?

Kalau hotel itu sangat sensitif dan menjadi prioritas nomor satu karena langsung customer yang mencoba, sehingga bila mereka komplain, maka kita akan cepat merespon, yang kedua yaitu bahwa tiap manager hotel itu akan bangga dengan blend sendiri. Blend itu adalah campuran racikan kopi yang kita special-kan di masing-masing hotel seperti ada yang minta campuran arabika 10%, ada yang minta campuran arabika dan robusta, atau ada yang minta dicampur dengan kopi luar negeri.

Kami sudah terbiasa dengan orderan seperti ini, karena kami sudah sehari-hari bergulat dengan dunia kopi, bahkan kami juga memiliki sekolah kopi sehingga bila ada orang meminta racikan campuran kopi untuk hotel, kami akan memberi yang terbaik untuk tamu-tamu hotel mereka. Hal inilah yang membuat hotel akan merasa bangga karena memiliki blend kopi sendiri, jadi merek kopi-kopi arabika yang top seperti Sumatera arabika, Bali, Ethiopia, Kolombia dan lainnya juga bisa dicampur.

Untuk pasar hotel yang dilayani sekarang lebih cenderung ke kopi apa?

Untuk hotel yang saya layani di Bali saat ini kebanyakan jenis arabika, sedangkan yang robusta biasanya dari kalangan orang lokal Bali sendiri. Ada satu pesan ayah saya yang sangat berharga, bahwa pesanan dari hotel, villa dan cafe-cafe itu jangan sampai mengalahkan perhatian kita kepada konsumen lokal, sehingga jangan sampai kita menaikkan harga saat menjelang upacara besar seperti Galungan dan Kuningan, karena kopi itu konsumsi sehari-hari dan grade kopi kita kan macam-macam, ada 3 jenis yaitu Kopi Warung Pojok, Kopi Ikan Bola Dunia dan Kopi Kupu-kupu Bola Dunia. Ini yang jadi pesan ayah saya, untuk tidak berekspansi terlalu jauh bila kandang sendiri saja tidak bisa kita jaga.

Saya dengar ada kopi dengan aroma buah, bagaimana itu bisa terjadi?

Campuran kopi sedikit saja berbeda, akan merubah aroma dan rasa, karena karakter kopi itu banyak. Ada yang rasa daun, buah seperti nangka, strawbery, orange dan lainnya. Yang membedakan rasa dan aroma itu adalah karakter kopi yang berbeda karena daerah, tanah dan ketinggian tempat menanam kopinya. Bila di Bali ada sebagian petani yang karena ingin mendapatkan jumlah kopi yang banyak, maka ada pohon kopi yang dikawinkan, hal ini membuat rasa kopi tidak karuan, padahal kalau mereka bisa menjaga kopi seperti memetik saat sudah merah, maka hargapun bisa menjadi mahal.

Saat ini, Anda mendirikan Coffee Bali House, apa yang ingin Anda lakukan dengan café ini?

Rumah kopi saya dirikan tahun 2004, rumah kopi ini saya buat untuk orang-orang umum agar bisa lebih menikmati kopi Bali. Kedua seperti yang diawal saya bilang, kalau saya bawa kopi ke hotel, kopi kami menjadi prioritas kedua, makanya saya membuat rumah kopi ini untuk menunjukkan ke manajer-manajer hotel bahwa kopi saya banyak peminatnya, sehingga saya bisa meyakinkan mereka kalau saya bisa membuat kopi sesuai pesanan mereka, didukung juga dengan pengalaman saya yang pernah belajar kopi ke Singapore. Di rumah kopi ini saya selalu menyajikan kopi yang fresh, sehingga bisa menjadi jaminan bagi tamu yang datang.

Sudah ada berapa cabang?

Ada gerai di Jl Gajah Mada Denpasar, disana ramai pengunjung, hingga saat ini banyak orang-orang lokal dan pegawai pemerintahan yang suka ngopi di tempat saya itu. Selain di Denpasar, sudah ada juga di Ubud. Memang saya prioritaskan dulu untuk konsentrasi pada pasar di Bali karena mudah dikontrol, ketimbang buka di Jakarta tapi belum bisa mengontrolnya, sehingga hasilnya tidak maksimal. Bisnis yang saya jalani ini juga bukan semata-mata hanya menyajikan kopi.

Ada juga restaurannya, galeri kopinya yang berisi lukisan, yang semuanya terbuat dari kopi dan beragam macam pernak pernik kopi yang sangat unik seperti patung dan sepatu, ada juga study training center kopi yang tujuannya adalah untuk melatih barista-barista, tapi sayang peminatnya saat ini belum banyak, padahal kami ingin sekali membantu para barista untuk bisa lebih profesional di bidang kopi.

Apakah visi rumah kopi ini akhirnya berhasil?

Pada awalnya banyak teman yang pesimis saat saya membuka Kopi Bali House ini, karena lokasinya dijalan by pass, jalan cepat, jadi pasti tidak akan laku. Tapi saya punya konsep yang menarik, misalkan kopi luwak yang dijual 200 ribu, orang akan bertanya-tanya kenapa bisa semahal itu. Tapi bila kita ada penjelasan, bagaimana mengolahnya dan bagaimana cara memperolehnya, maka orang akan lebih sadar dan memahaminya, dan sekali lagi kopi yang kami sediakan ini selalu fresh, untuk apa kami order 200 pack kopi luwak kalau yang laku hanya 5, kami ingin tetap menjaga kualitas kopi kami.

Bagaimana dengan kopi luwak yang saat ini tengah trend?

Saat ini banyak petani kopi luwak yang tahu kalau harga kopi luwak itu tinggi, tapi cara penanganan kopinya kurang baik, banyak mendiamkan kotoran luwak sampai berbulan-bulan sehingga campur dengan bau tanah, hal ini karena tidak ada yang mengajari dan memberikan pendampingan.

Bagaimana agar menjaga kualitas produksi stabil dan menghasilkan yang terbaik?

Untuk kopi dari pabrik, kita memiliki standard ISO 9001-2010, jadi pada prinsipnya kita ingin bekerja secara professional. Untuk memperoleh ISO juga tidak gampang dan kita ditunjuk oleh pemerintah untuk memperoleh standard ISO sebagai salah satu perusahaan kopi teladan. Karyawan saya kebanyakan orang Bali semua, dan kopi yang saya jual juga kopi Bali, sehingga kadang saya merasa sedih kepada orang Bali yang lebih membanggakan kopi luar negeri daripada kopi Bali sendiri. Dan untuk hotel-hotel, saya selalu mengutamakan pelayanan.

Service dan kualitas menjadi kunci agar sebuah perusahaan itu tetap berjalan dengan baik. Dengan brand kopi ini, saya merasa bangga untuk bisa mempromosikan Bali. Sampai saat ini partner utama saya adalah para petani yang dulu telah bekerja sama dengan ayah saya, dan telah berlangsung puluhan tahun, dan sekarang dilanjutkan oleh anak dan cucunya. Dengan merekalah saya tetap menjalin partnership yang bagus dan berkelanjutan.

Saya juga memiliki staf profesional yang kita sebut kigrader yaitu staf yang mencoba kopi sebelum kita melepas ke pasaran, hotel-hotel atau warung-warung sehingga kita jarang sekali mendapatkan komplain karena sebelumnya telah dites kualitasnya terlebih dahulu. Untuk menjadi kigrader juga ada sekolahnya yang tidak tiap tahun belum tentu buka, paling tidak butuh biaya 10 juta untuk menjadi kigrader dan itu belum tentu menjamin kelulusan karena banyak orang yang tahu kopi ternyata tidak lulus juga ketika ikut tes kigrader.

Bagaimana rencana Anda kedepan, apakah nanti bisnis ini juga akan diwariskan?

Untuk anak-anak saat ini masih remaja belum bisa saya arahkan ke bisnis kopi, tapi saya selalu menanamkan konsep marketing yang benar dalam menghadapi customer, karena saya menjual kopi langsung kepada pemakai, bahkan customer yang membeli kopi hanya satu ons tetap kami layani, jadi saya tetap mempertahankan gaya pelayanan yang diwariskan oleh ayah saya dulu. Jadi bisnis kopi saya ini bisa dibilang family bisnis dari kakek saya, berlanjut ke ayah dan kini ke saya.

Anda pernah lama di luar negeri, apakah ini membantu dalam mengasah insting bisnis saat ini?

Saya basic nya belajar marketing di Los Angeles Amerika. Sampai saat ini masih banyak teman-teman yang menetap di sana, ada di LA, Boston dan lain-lain, harus diakui bila kita study di luar negeri maka pandangan kita akan berbeda, dalam arti kita akan lebih banyak melihat, belajar dan lebih terbuka terhadap sesuatu yang baru.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri