Wahyu Aditya – Kreatif Sampai Mati

Wahyu aditya membuktikan bawah tak mustahil untuk mengawinkan passion dan bisnis.

Atas segala kegigihan dalam memperjuangkan passion dalam hidupnya, Wahyu Aditya memang layak merengkuh kegemilangannya. Pria kelahiran 4 Maret 1980 ini menjadi salah satu pemain utama di industri kreatif, terutama di bidang bisnis animasi dan desain grafis. Kegemarannya dalam menggambar mengantarkan Wahyu Aditya kepada profesi seorang animator yang sangat diperhitungkan di Indonesia.

Tak seperti animator pada umumnya, pria yang juga akrab disapa Waditya ini mampu menggunakan seluruh skill yang ia punya untuk menjadi seorang creativepreneur. Pria asli Malang ini percaya bahwa dengan jalan wirausaha, ia bisa ikut berkontribusi membangun bangsa. Tengok saja bagaimana kesuksesan HelloMotion Academy, sebuah institusi pendidikan informal yang fokus pada bidang animasi dan desain grafis, yang didirikan sejak 2004 silam – saat itu usianya baru 24 tahun. Kursus desain ini pun mampu menarik atensi positif dari generasi muda, di mana lebih dari 3000 siswa telah menimba ilmu di sana. HelloMotion Academy menjadi debut termanis seorang Waditya di dunia creativepreneur. Keberadaan HelloMotion Academy ini pun dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas animator serta desainer di Indonesia.

Tak hanya berkontribusi untuk dunia pendidikan animasi dan desain, Waditya juga menginisiasi sebuah festival pop culture yang punya misi dalam mendukung kemajuan perfilman animasi di Indonesia. Tak hanya itu, festival ini mencoba memberi inspirasi dan mendorong inovasi di dalam diri animator maupun penikmatnya. Festival yang diselenggarakan sejak 2006 ini menampilkan 25 kategori kultur pop, di mana salah satunya merupakan film pendek dan animasi. Setiap tahun penyelenggaraannya, festival ini mampu menampilkan lebih dari 250 film animasi pendek lokal terbaru.

Nampaknya slogan “Inovasi Tanpa Henti” mengalir di dalam tubuh sang digital artist ini. Waditya dengan kreatifnya mendirikan sebuah toko pakaian online bernama KDRI yang memiliki kepanjangan Kementerian Desain Republik Indonesia. Produk yang dijualnya berupa T-Shirt dengan ilustrasi dan desain yang identik dengan semangat nasionalisme.

Sebelum merambah produk T-Shirt, ide KDRI sejatinya berawal dari kegelisahan Waditya terhadap logo-logo institusi pemerintahan yang terkesan kaku dan jauh dari “nyeni”. Lewat KDRI, ia pun merancang logo-logo tandingan untuk beberapa kementerian guna me-refresh pengalaman estetika kita dalam memandang institusi tersebut. Dalam perjalanannya, KDRI menjadi wadah untuk menampung inovasi-inovasinya terhadap desain. Tak hanya itu, ia juga berhasil menarik atensi desainerdesainer dari seluruh nusantara untuk turut berbagi ide di halaman website-nya.

Tak hanya itu, Wadit yang juga mempunyai website pribadi sebagai tempat menampung desain-desain terbarunya tersebut juga menambahkan bahwa sebagai kreator, selain jiwa wirausaha, inovasi juga perlu mengingat gencatan teknologi modern yang semakin mendominasi dunia. Meski tak ingin terlalu bergantung pada pemerintah, Wadit berharap agar pemerintah mau memberikan kuota penayangan terhadap film-film animasi dalam negeri seperti yang telah dilakukan Cina dan Korea Selatan. Baginya, sekian persen kuota sudah berharga bagi animator lokal.

Berkat keahlian yang ditunjang oleh ide-ide briliannya, Waditya sempat diminta untuk menangani beberapa brand komersial ternama, seperti PLN, Bushway, Kampanye Pemilu, Jakarta Internasional Film Festival (JIFFEST), dan Pertamina. Bahkan, Waditya juga menjuarai International Young Screen Entrepreneur of the Year 2007 yang diprakarsai oleh British Council.

Tim M&I Magazine berhasil mewawancarai Wahyu Aditya di sela-sela kesibukannya sebagai pembicara di sebuah workshop Online Marketing beberapa bulan lalu di Bali. Dalam waktu 30 menit yang begitu singkat tersebut, si penulis buku Sila Ke6: Kreatif Sampai Mati ini pun berbagi kisah tentang perjalanan karir, inovasi, dan dedikasinya terhadap dunia animasi dan industri kreatif Tanah Air. Berikut petikan wawancaranya panjangnya!

Sejak kapan Anda tertarik untuk menggambar?

Sejak kecil saya sudah suka gambar dan menemukan satu momen di mana saat saya SD ikut sebuah kompetisi gambar dengan inisiatif saya sendiri dan ternyata saya langsung dapat juara satu. Saya tak menyangka kegiatan yang saya sukai ini juga diapresiasi. Ini yang membuat saya ingin mempelajari bidang ini. Alhamdulilah, dari keluarga juga punya minat yang sama. Terutama Bapak saya yang meski dokter, tapi punya hobi melukis.

Di dunia gambar sendiri, Anda lebih suka untuk mengemasnya dalam bentuk ilustrasi, animasi, komik, desain, atau apa?

Saya tidak membuatnya menjadi spesifik. Payungnya hanya satu yakni memvisualkan imajinasi. Bagi saya, cara memvisualisasikan imajinasi itu bisa bermacam-macam tergantung mediumnya. Bisa animasi, desain, kartun, ilustrasi, dan lain-lain. Tapi, intinya adalah bagaimana saya bisa memvisualisasikan imajinasi yang saya punya.

 

Bagi saya, cara memvisualisasikan imajinasi itu bisa bermacam-macam tergantung mediumnya. Bisa animasi, desain, kartun, ilustrasi, dan lainlain. “ -Wahyu Aditya

 

Apa yang membuat Anda terdorong mendirikan HelloMotion Academy?

Sebetulnya HelloMotion Academy itu merupakan bagian dari ambisi saya untuk berkontibusi dalam membangun dunia animasi di Indonesia. Nah, di dalam benak saya, kontribusi itu perlu kendaraan. Kendaraannya ya bisa dengan kita kerja di sebuah perusahaan atau kita membuat sendiri usaha tersebut. Berbekal banyak ilmu yang telah saya peroleh, akhirnya saya memutuskan untuk mendirikan institusi sendiri. Basisnya memang harus di pendidikan, karena pendidikanlah yang semestinya harus dibenahi terlebih dahulu. Masih banyak informasi yang tidak akurat tentang animasi dan masih banyak orang yang tidak tahu animasi itu seperti apa. Makanya saya mengawalinya dari sebuah tempat kursus informal. Bagi saya ini media yang paling mudah untuk mengajarkan animasi.

Bisa dibilang HelloMotion Academy ini debut entrepreneurship Anda begitu?

Ya HelloMotion Academy ini merupakan entrepreneurship pertama saya. Sebelumnya saya memang masih menangani proyek freelance yang masih berkaitan dengan industri kreatif, mulai dari advertising, sutradara video klip, pengerjaan visual efek, dll. Pernah saya membuat usaha bersama teman, namun akhirnya gagal. Tapi dari kegagalan itulah saya mendapatkan banyak pelajaran. Saya pun berusaha membangun impian saya sendiri.

Bagaimana Anda memandang bidang kreatif ? Apakah prospek industrinya cukup cerah?

Buat saya sih sangat cerah sekali. Yang kita butuhkan itu bukan desainer. Desainer sudah banyak sekali. Di KDRI (Kementerian Desain Republik Indonesia) saja sudah ada sekitar dua ratusan lebih desainer. Tapi yang perlu diperbanyak
adalah mastermind-nya. Dia lah yang akan meramu semua, meracik desain, menjadikannya sebagai sesuatu yang sellable dan bermanfaat. Itu enggak cukup dari segi desainnya saja. Tapi harus dari semua sisi bisa bekerjasama. Sayangnya di Indonesia, desainer masih berpikir hanya sebagai service saja. Masih belum banyak yang mau menciptakan produk dan konten. Kita hanya sebagai penonton akhirnya. Masih belum banyak, padahal industrinya sudah sangat besar sekali. Kita bisa lihat tolak ukurnya dari konten-konten luar yang banyak berdatangan ke sini. Ini mengindikasikan Indonesia punya potensi pasar yang bagus.

Banyak orang Indonesia yang kreatif, tapi banyak pula yang belum bisa mengolaborasikan kreativitas dengan bisnis. Bukankah begitu?

Ya, benar. Sesungguhnya ada tiga hal yang harus kita pelajari sebagai bekal, yakni kreativitas, teknologi, dan pasar. Rata-rata mereka masih hanya berkutat di kreativitasnya saja. Mereka belum seluruhnya nyemplung ke persoalan teknologinya dan penentuan target pasarnya bagaimana. Mereka belum mau mempelajari itu. Jadi akhirnya ranah komunikasinya masih di kreativitas saja. Masih di situ-situ saja. Padahal mereka seharusnya bisa memperluas jaringannya, cara berkomunikasinya. Jadi, PR utamanya itu tidak hanya tentang bagaimana berkarya, tetapi juga bagaimana mendistribusikan karya tersebut.

Apakah pencapaian industri kreatif bisa sesignifikan industri produk massal?

Buat saya sih bisnis era sekarang sifatnya long term ya, jadi sangat segmented. Masing-masing punya segmennya sendiri. Kita bisa menjual apapun sekarang, karena pasarnya ada dan tugas kita adalah mencari orang-orang yang suka dengan produk kita. Jadi mainnya bukan massal. Oke, jika kita masuk ke sana, step awalnya juga kita harus tahu niche dulu. Kita harus paham siapa customer kita, umurnya berapa, perilakunya bagaimana. Kita bisa track itu di teknologi. Kalau kita main secara massal, kita akan bersaing dengan dompetnya masing-masing orang yang berbeda. Konsepnya adalah kita enggak bergantung dengan isi dompet mereka. Mereka lah yang mencari duitnya. Karena mereka sudah loyal dan memang butuh produk kita. Nah, itulah niche. Enggak gajian, enggak makan pun mereka enggak apa-apa, yang penting dapet barang yang diinginkanya. Misalnya niche seperti JKT48. Komunitas fans-nya itu mau dan rela membeli merchandise-nya berapa pun harganya. Intinya harus punya value dan story-nya.

Dari mana Anda mendapatkan ide untuk membuat Hello Fest itu?

Inspirasi Hello Fest itu awalnya dari pengalaman saya yang juga pernah sebagai filmmaker tahu betul kalau tidak punya “panggung” untuk bisa menayangkan film saya sendiri. Akhirnya saya memutuskan untuk bikin sendiri. Ya, semuanya dilatarbelakangi dari kegelisah saya, kebutuhan saya. Tapi di sisi lain, saya punya kekuatan untuk membangun itu karena memang tidak ada panggungnya untuk saya.

Dari sekian banyaknya brand yang telah Anda kembangkan. Mana yang menjadi “anak emas” untuk Anda?

Saya menganggap kalau sedang punya empat anak ya. Masing-masing memang saya pupuk. Bahkan sebentar lagi saya bakal ngelahirin “anak” kelima. Ini berupa konten untuk anak-anak namanya Fun Cican. Produknya nanti turunannya bisa ke buku dongeng, komik, animasi, dll. Itu sudah ada di Instagram. Saya memang suka bereksperimen, mencoba hal yang baru. Karena model tiap bisnis itu berbeda-beda. Kalau Hello Academy itu kita dapat uang dulu baru bisa beri service –nya, sifatnya stabil. Kalau Hello Fest, kita harus cari sponsor dulu dan untungnya gede, tapi resikonya juga gede. Kalau KDRI sifatnya eceran, kita bikin produk dulu, kita bisa simpan produk itu biar tahan lama dan enggak basi. Saya juga pernah membuat service animasi dan sekarang bereksperimen membuat konten, di mana saya bikin sekali nanti argonya akan jalan terus, sistemnya lisensi. Fun Cican akan diluncurkan pada bulan Agustus dalam bentuk buku dongeng. Itu sudah kerjasama dengan penerbit besar dan mudah-mudahan juga segera dirilis di Frankfurt Book Fair Jerman bulan Oktober. Selain itu saya juga punya project animasi yang masih berkaitan dengan Fun Cican. Kita lihat saja nanti.

Brand mana yang memiliki potensi lebih besar dan mendatangkan banyak profit?

Hampir equal ya. Cuma kita mau dongkrak lagi yang HelloMotion Academy dan retail KDRI-nya. Tugas saya tahun ini ialah hiring lebih banyak orang profesional. Dulu saya CEO dan kini saya sudah mengundurkan diri, dan ganti jabatan menjadi CMM alias Chief of Master Mind. Itu yang membuat saya nyaman, karena saya bisa bereksperimen dan bisa bebas tanpa memfokuskan ke hal yang sifatnya administratif.

Apa yang membuat Anda untuk optimis bisa fokus mengembangkan lebih dari satu brand?

Sebetulnya saya sih menciptakan sebuah ekosistem. Ya ekosistem buat diri saya sendiri misalnya. Kalau ada yang enggak bisa bikin, saya ajari. Yang bisa bikin, saya ekspos di festival. Yang punya produk saya distribusiin. Saya punya massa, saya tawarkan konten. Sebetulnya itu yang membuat saya optimis, karena saya menciptakan niche saya sendiri.

 

Kesuksesan bagi saya adalah itu bisa tidur nyenyak dan enggak mikirin apa-apa. – Wahyu Aditya

 

Bagaimana cara Anda memupuk kreativitas agar selalu tetap berkembang dalam diri Anda?

Lewat teknologi saya bisa memantau perbincangan, komentar, dan permintaan. Hal tersebut yang merangsang saya untuk menjawab bahwa itu sebagai sebuah produk atau service. Jadi apa yang saya ciptakan itu hanya untuk membantu menjawab atau memberi solusi. Jadi saya memposisikan diri saya di atas sebagai pemberi solusi. Bukan uang yang saya cari, tapi saya coba memberi jawaban.

Kiat Anda untuk membuat bisnis kreatif agar bisa sustain seperti apa?

Kita punya dua telinga dan satu mulut. Kita harus lebih banyak mendengar daripada ngomong. Artinya kita harus lebih banyak mendengar suara konsumen kita. Agar konsumen bukan menjadi pasif, tetapi aktif, bahkan mereka garda terdepan yang menjual dan menikmati produk kita. Itu yang harus kita jaga.

Sebagai seorang entrepreneur tentu pernah mengalami fase pasang surut dan berada di titik kritis. Bagaimana dengan Anda?

Buat saya sih banyak momen ya. Mulai saya pernah ditipu 70 juta, saya harus bayar utang 35 juta, hingga saya harus berhadapan dengan karyawan yang nyolong. Banyak sebetulnya yang telah saya hadapi. Namun tombak terpenting malah ketika transisi dari seorang profesional menjadi wirausaha, karena saya tidak punya pegangan apa-apa lagi saat itu. Pegangan saya hanya diri saya sendiri. Itu yang membuat saya berpikir untuk tetap bertahan. Rugi adalah resiko
yang sudah kita persiapkan sejak awal. Kita tidak hanya siap menanggung untung saja, tapi juga harus siap untuk rugi. Prinsip saya meski rugi tetap harus bisa membuat kita tersenyum. Jadi enggak terlalu rugi-rugi amat ya, kita juga harus punya back-up plan lainnya yang telah kita siapkan.

Apa yang mendorong Anda untuk menjadi seorang entrepreneur?

Pemikiran saya awalnya karena saya memang nekat, masih muda, dan masih punya banyak energi. Tapi juga karena keluarga saya itu entrepreneur. Jadi setidaknya saya sudah tahu kehidupan entrepreneur itu, bagaimana susah senangnya. Jadi, ya santai-santai saja.

Tantangannya dalam dunia bisnis kreatif berdasarkan pengalaman Anda sendiri seperti apa?

Tantangannya ya mempertahankan. Bikin bisnis online ya mudah, kita hanya perlu beberapa jam dan ada banyak fasilitas e-commerce yang bisa kita pakai. Tantangannya bagaimana membuat brand itu menjadi sebuah cerita, cerita yang engaged dengan customer-nya. Itu yang harus dibangun.

Kalau industri animasi itu sendiri memang susah dikembangkan ya di Indonesia? Sepertinya jarang ada animator Indonesia yang membuat proyek film animasi lagi?

Bukan susah dikembangkan, tapi masih belum banyak mastermind ke arah sana. Masih menanggap animasi itu mahal, tapi kalau kita tahu jeroannya enggak serumit itu. Di sisi lain juga bisnis film sudah berubah, bisa dibilang kita harus bisa membuat konten yang saling terintegrasi. Enggak bisa buat masing-masing sendiri. Jadi bikin animasi bisa dengan komik atau novel, dsb. Bisa saja animasi menjadi bagian promosinya saja.

Siapa yang menjadi inspirasi Anda selama berkarya?

Semua saya jadikan inspiriasi. Inspirasi bisa ditemukan melalui online, offline, kehidupan pribadi. Kayak Fun Cican itu dari anak saya. Saya suka dongeng dan anak saya suka gambar karakter. Jadi awalnya dari sana.

Oh ya dengar-dengar karya Anda pernah dibajak. Lalu tindakan apa yang Anda lakukan?

Tergantung kapasitasnya ya. Kalau memang pembajakannya benar-benar masif dan dilakukan oleh perusahaan besar, memang harus kita tuntut. Tapi kalau sifatnya perseorangan dan masih alay-alay ya enggak perlu, buang-buang energi. Tapi di sisi lain informasi seperti ini malah saya dapatkan dari customer saya. “Oh mas ada yang bajak nih karyanya”. Jadi bukan saya yang mengamati, melainkan mereka. Mereka lah yang jadi garda depan kami. Tidak hanya membeli, tetapi loyal untuk mempertahankan brand ini.

Harapan Anda ke depan untuk karir?

Harapan saya bisa menciptakan solusi yang tepat untuk costumer saya, bisa bertahan, dan bisa memberikan manfaat bagi banyak orang dan saya bisa tidur nyenyak. Kesuksesan bagi saya adalah itu bisa tidur nyenyak dan enggak mikirin apa-apa

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri