Urban Sketchers Bali – Merekam Suasana Urban Dalam Bentuk Sketsa

Setiap hari Sabtu, mereka berkumpul dari satu sudut ke sudut kota Denpasar lainnya. Berbekal pensil, drawing pen, cat air, dan kertas gambar, mereka mulai membuat sketsa tentang rutinitas dan situasi perkotaan. Kesempurnaan sketsa bukanlah hal prioritas yang ingin mereka capai. Di balik itu, mereka sekadar ingin menikmati sensasi menggambar kilat dan langsung rampung on the spot. Mereka adalah para pecinta aktivitas bersketsa. Di bawah payung sebuah komunitas bernama Urban Sketcher Bali, mereka menemukan titik terang dalam mencurahkan passion berkesenian.

Sebagai sebuah komunitas yang resmi terbentuk pada 10 November 2012 lalu, Urban Sketchers Bali masih tergolong baru dan segar. Apalagi tak ada komunitas lain yang mengusung aliran serupa dengan Urban Sketcher Bali, tak ayal membuat komunitas ini sangat unik. Pada dasarnya pendirian komunitas ini justru mengadopsi komunitas-komunitas serupa yang beridentitas Urban Sketchers dan telah tersebar di berbagai wilayah Eropa maupun Asia Tenggara. Komunitas Urban Sketchers merupakan komunitas yang global, bahkan setiap daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja juga memiliki komunitas serupa. “Tapi kiblat kita justru lebih pada Urban Sketchers Singapore” lontar Neli Gunawan, selaku sekretaris Urban Sketcher Bali.

Rudy Ao menjadi otak dibalik kemunculan nama Urban Sketchers Bali. Pria asli Bandung ini awalnya mengadopsi konsep Urban Sketchers di Singapore. Kebetulan ia pernah menetap selama 3 tahun di sana. Sering Ia menyimak sekelompok orang berkumpul di sebuah taman di Singapore dan terlihat sedang sibuk menggambar sesuatu. Pada akhirnya, pria yang sudah setahun menetap di Bali ini pun terkesima semenjak mengetahui komunitas Urban Sketchers Singapore tersebut mampu membuat sebuah pameran sekaligus peluncuran buku yang hanya menampilkan karya-karya para anggota komunitas mereka. “Disamping itu, kami juga memiliki kerinduan untuk mensketsa sesuatu dengan tangan sendiri. Biasanya kan arsitek jaman sekarang hanya mengandalkan komputer saja. Nah lantaran itu juga komunitas ini terbentuk” papar suami dari Neli Gunawan ini saat ditanya latar belakang terbentuknya komunitas ini.

Kopi Darat
Mengawali aktivitas pertama dengan kopi darat, Urban Sketchers Bali pun berhasil menjaring 16 orang untuk berkumpul sambil mulai membuat sketsa. Anggota pun mulai bertambah dan bertambah hingga mencapai 40-an anggota. Kebanyakan anggota masih didominasi dari mereka yang berlatarbelakang arsitek dan desain grafis, namun tak menutup kemungkinan jika ada orang-orang yang profesinya di luar dari ranah menggambar atau sketsa ingin bergabung. “Mensketsa itu bagi saya adalah cara ampuh untuk keluar dari kepenatan. Apalagi dengan kehadiran komunitas ini, hobi pun makin tersalurkan” terang Herry Himawan, salah seorang anggota Urban Sketchers Bali.

Pria yang berprofesi sebagai arsitek ini juga menambahkan bahwa sketsa menjadi sebuah kegiatan menarik karena membuat dirinya mampu menangkap hiruk pikuk suasana atau pun bentuk sebuah benda ke dalam media gambar dengan ekspresinya sendiri. Sketsa itu sejatinya adalah menggambar cepat. Menggambar langsung salah satu objek yang kita jumpai di suatu tempat. Ia serupa fotografi, dimana sejatinya merekam suatu objek, suasana atau peristiwa yang ada di tempat itu dan saat itu juga ke dalam sebuah media gambar. “Dengan memanfaatkan media seadanya dengan waktu secukupnya, itulah kunci kegiatan mensketsa” tambah Rudy yang berprofesi sebagai arsitektur.

Untuk mengeratkan rasa keakraban antar anggota, jejaring sosial Facebook pun menjadi media sharing dan komunikasi praktis. Mereka pun dapat mengunggah karya-karya sketsa yang pernah dikerjakan selama gathering atau workshop. Kritik dan masukan antar sesama pun menjadi hal yang diburu untuk mengevaluasi karya dan kemampuan sketsa bersangkutan. Untuk menemukan mereka di jejaring sosial Facebook, Anda cukup mengetik nama Urban Sketchers Bali di kolom search.

Tak Harus Mahal
Senjata utama dari seorang sketcher ulung adalah pensil dan kertas gambar. Jadi salah bagi mereka yang mengira hobi ini harus mahal. Namun, memang jika ingin menambah sensasi pengalaman mensketsa yang lebih liar. Anda bisa memanfaatkan pelbagai peralatan pendukung sebagai alat pewarnaan semisal drawing pen, pensil warna atau pun cat air. Untuk mendapatkan kualitas gambar yang baik, memang dianjurkan untuk memakai kertas gambar khusus sketsa. Meski begitu, tidak memungkiri Anda pun bisa memanfaatkan kertas gambar biasa, buku tulis hingga tisu untuk jadi media gambar dadakan.

Semuanya memang bisa serba murah meriah. Namun terkadang untuk menginginkan hasil yang berkualitas tak menampik akan ada bujet lebih untuk dikeluarkan. “Untuk sebuah cat air berkualitas terbaik bisa berkisar 400-500 ribu rupiah, bahkan kertas sketsa paling bagus saja hampir 100 ribu” urai Rudy, alumni jurusan arsitektur dari Universitas Parahyangan.

Beraksi
Urban Sketchers Bali menjadwalkan secara rutin untuk mengadakan kegiatan kumpul bersama anggota entah itu berupa workshop atau sketsa on the spot setiap hari Sabtu. Biasanya akan ada urunan uang sebesar Rp 5.000 per anggota untuk mendukung konsumsi alakadarnya di setiap workshop.

Mereka pernah mengadakan workshop teknik mewarna dengan cat air bagi para anggota dan kalangan umum di area Denpasar. Usut punya usut, meski rata-rata anggota Komunitas Urban Sketchers Bali berasal dari latar belakang arsitek dan desain. Ternyata tak semuanya lihai dalam menguasai teknik cat air, terutama dalam hal gradasi dan pencampuran warna. Bahkan beberapa diantaranya harus kembali belajar dari nol.

Untuk itulah mengapa sangat tepat bagi Rudy Ao dan kawan-kawan menyelenggarakan workshop tersebut. Rudy Ao, selaku penggagas terbentuknya komunitas ini juga tak menampik kalau teknik pewarnaan cat air memang tergolong rumit.

Dua pertemuan lainnya yang diselengarakan oleh Urban Sketchers Bali lebih cenderung memilih untuk mengeksplor kemampuan sketsa para anggotanya dengan menerjunkan mereka secara langsung ke lapangan. Ada pun area seperti Niti Mandala Renon dan Pantai Sanur pernah menjadi objek sketsa mereka. Kegiatan mensketsa memang sedikit berbeda ketimbang melukis. Medianya pun lebih kecil.

Meski terbilang mungil dan dalam fase merangkak, Urban Sketcher Bali berusaha untuk lincah dalam mengisi warna di tengah-tengah komunitasnya. Banyak mimpi yang ingin mereka realisasikan. Mereka tak ingin menjadi komunitas yang lesu akan kegiatan berkreativitasnya. Membuat sebuah buku antologi sketsa adalah impian terbesar bagi Urban Sketchers Bali saat ini. Tak hanya itu, komunitas ini pun tengah mendorong para anggotanya untuk membuat blog pribadi yang mampu mengetalasekan seluruh karya-karya mereka selama berkegiatan bersama Urban Sketchers Bali. “Kami ingin mengikuti jejak Urban Sketchers Singapore yang telah berhasil menghasilkan sebuah output berharga bagi komunitas serta anggota-anggotanya” pungkas Neli yang pernah mengenyam pendidikan di STISI Telkom Bandung ini.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri