Tiga Dekade Bergelut Dalam Dunia Alkes Tri Kartono Andries

Niat jadi medical representative, berujung jadi salah satu supplier terbesar di Pulau Dewata

Surat pemanggilan itu tak pernah lagi datang, kabar yang dinanti-nantinya tak jua kunjung bertandang. Sepekan sudah penantian ini ditambatkan, akhirnya dengan menghela napas panjang, Tri Kartono Andries, atau yang biasa disapa Andries, memutuskan untuk tak lagi menunggu. Keputusan bulat akhirnya dicanangkan. Tak lagi ada pilihan yang tersisa, plan B itu harus segera dieksekusi.
Inilah keputusan besar yang akhirnya mengantarkannya memasuki fase baru dalam hidup, berkelana sebagai entrepreneur. Seandainya saja pemanggilan itu datang, yang memintanya untuk kembali bekerja di perusahaan sebelumnya, mungkin hari ini tak lagi sama dengan apa yang diidamkan pemuda kelahiran tahun 1954 itu.

Kejadian itu berlangsung di tahun 1976. Setahun sebelum akhirnya Andries memutuskan untuk memulai berkarir di jalur usahanya sendiri. Pria muda ini memulai perjalanannya profesionalnya sejak tahun 1974, tahun yang sama ketika ia lulus dari bangku Sekolah Menengah Farmasi Semarang. Tidak mau lama menyandang gelar pengangguran, Andries langsung mengajukan lamaran kerja ke salah satu perusahaan besar penjual alat-alat kesehatan. Selain untuk mengasah kemampuan ilmu farmasinya, tentunya juga untuk mendapatkan uang sebagai biaya hidupnya.

Kemiskinan memang menjadi alasan utama mengapa Andries remaja nekat merantau. Tak ingin terus menerus hidup dalam lingkaran marginal, Andries memberanikan diri menantang kota. Setelah 10 tahun sejak masa perantauannya, PT. Sanidata berdiri –dulu UD- dan hingga kini telah 30 tahun bertahan sebagai salah satu supplier Alkes (Alat Kesehatan) terbesar di Pulau Bali. Kepada Money & I, Andries bercerita panjang soal perjalanan hidupnya. Semua terurai dalam wawancara berikut :

Pak Andries, ceritakan bagaimana bapak memulai perjalanan karir?

Saya itu berasal dari keluarga kurang mampu. Itu sebabnya sejak masih sekolah saya itu nyambi kerja jadi salesman. Kalau asli saya jauh di daerah, di Purwodadi. Saya ke Semarang itu, karena mau sekolah dan bekerja. Kebetulan ada kakak juga yang sudah lebih dulu tinggal di Semarang. Itu tahun 1969, saya ambil SMF, Sekolah Menengah Farmasi.

Mengapa Farmasi, apa yang mendorong bapak tertarik terjun dalam bidang kesehatan?

Saya itu tertarik karena inginnya jadi Medical Representative [MR]. Itu lho, orang yang bawa obat dan promosi ke dokterdokter. Saya lihat MR itu, kok jadi tertarik. Dan rasanya bisa dijangkau. Soalnya kalau mau jadi dokter, itu kan biaya sekolahnya besar. Orang tua sendiri sebenarnya berat mengizinkan saya untuk sekolah, karena masalah biaya. Saya anak ketiga dari 6 bersaudara, di mana dua kakak saya sudah lebih dulu merantau dan keduanya juga kuliah. Sementara bapak saya hanyalah pekerja di pabrik kawasan Porwodadi. Kalau ibu membuka toko klontong kecil, menjual sembako.

Setelah lulus, langsung menekuni bidang sales?

Betul, tahun 1974 saya lulus, tapi malah dapat kesempatan untuk jadi marketing, melanjutkan pekerjaan dari masa freelance sebelumnya. Daripada nganggur, akhirnya saya ambil peluang ini, dan sambil menunggu kesempatan untuk pindah haluan jika kesempatan lain datang. Saya kerja di salah satu perusahaan supplier besar di Semarang yang memang bergerak di bidang penjualan alat-alat kesehatan. Cuma waktu itu, untuk daerah penjualan di kawasan seputar Jawa Tengah, sudah ada sales lain yang meng-cover daerah itu. Saya waktu itu kebagian jualan kanvas ke daerah-daerah pinggiran Jawa Tengah. Sesekali hingga ke Cirebon. Bahkan waktu itu, saya sampai berinisiatif sendiri membuka jalur baru untuk jualan ke rumah sakit-rumah sakit, klinik atau tempat-tempat dokter praktek di kawasan Jawa Timur, malah sampai Malang.

Pada November 1984, saya pindah ke Bali dan mendirikan UD Sanidata. Saya kontrak toko sejuta pertahunnya, di Jalan Sutomo No. 29A, ukurannya 4×7. Selama 3 bulan awal tidak ada penjualan. Saya hanya menggunakan 3 rak dengan  barang-barang yang seadanya saja. Produk yang dijual juga yang umum-umum saja, seperti despocible, stetoskop dan timbangan. Pokoknya produk-produk yang bisa memberikan cash flow. Bahkan, saya juga sempat menjadi supply di bagian alat peraga laboratorium Unud di awal-awal tahun itu.”

Itu kanvas lintas propinsi dong Pak?

Iya, saya jarang pulang. Sekali angkut bawa barang dagangan bisa berhari-hari. Tidur di penginapan di kota tempat saya singgah. Waktu itu, walaupun harus kirim barang sampai ke Malang, tapi kadang hati ini senang. Apalagi jika ada rumah sakit yang langsung pesan produk dalam jumlah besar. Wah, di situ semangat saya semakin terpacu. Saya mulai jalan itu dari kantor di Semarang, tidak mengambil jalur Solo. Saya itu ngambilnya langsung ke Ngawi, kemudian Nganjuk, Kediri, Blitar, sampai kemudian tembus Malang. Dari Malang nanti lanjut lagi ke Mojokerto. Itu bisa sampai berharihari, keliling naik mobil box. Kerjaan ini saya jalani hingga 3 tahun, sampai saya tahu seluk beluk bisnis ini, darimana mengambil barang dan kemana harus menjualnya. Apalagi saya sudah banyak kenal dengan customer, terlebih yang di Kota Malang. Hampir semua klien saya kenal dengan baik, karena saya yang dulu buka jalan untuk distribusi di kota ini. Saya tinggal urus perizinannya dan pada tahun 1977, saya sudah mulai jalan lagi. Kali ini independen sebagai pengusaha, tapi kerjaannya sama, jualan alat-alat kesehatan ke klien-klien.

Bagaimana kemudian bisa jualan sampai ke Bali?

Waktu itu saya banyak mengambil barang untuk dijual dari dr. Herman. Ia adalah salah satu importir besar untuk alat-alat kesehatan di Solo. Awalnya saya disarankan untuk membuka jalur penjualan hingga ke Bali. Jadi, seminggu sekali saya berangkat kemari. Senin mulai jalan, Selasa sampai di Bali, terus naik bis, dan keliling berjualan.
Balik dari Denpasar hari Jumat, dan Sabtu sudah kembali lagi ke Semarang. Ini saya jalani selama kurang lebih 2 tahunan, baru belakangan kemudian dr. Herman menyarankan kepada saya untuk buka toko saja di Bali. Dan ide ini baru saya wujudkan pada November 1984.

Bagaimana memulainya di Bali?

Awalnya Saya kontrak toko yang harganya sejuta per tahunnya, di Jalan Sutomo No. 29A, ukurannya sekitar 4×7. Belum ada telepon saat itu, malah selama 3 bulan awal itu penjualan tidak ada. Saya hanya menggunakan 3 rak dengan barang-barang jualan yang seadanya saja waktu itu. Produk yang dijual juga yang umum-umum saja, seperti disposable, sthethoskop dan timbangan. Pokoknya produk-produk fast moving yang bisa memberikannya cash flow. Bahkan, saya juga sempat supply alat peraga laboratorium Unud di awal-awal tahun itu. Dari Jalan Sutomo itu dengan perlahan usaha ini mulai berkembang. Saya sudah bisa menambah beberapa orang karyawan lagi. Baru pada tahun 1987, saya akhirnya bisa beli tanah di Jalan Teuku Umar tempat showroom Sanidata saat ini berdiri.

Tapi belakangan, Anda akhirnya juga membuka cabang di Semarang?

Iya, itu tahun 2002. Kebetulan saya punya 2 orang anak yang sudah mulai menyelesaikan pendidikannya. Yang pertama itu perempuan, bersama suaminya tinggal di Semarang. Di sana, mereka mengelola Sanidata Semarang. Organisasinya persis sama dengan di Bali, baik pengelolaan, operasional maupun produk yang dijual. Hanya saja untuk administrasinya sudah mandiri. Dengan membuka cabang Semarang yang ternyata direspon baik pasar, kami semakin yakin dengan konsep ekspansi ini. Tapi, kami tidak buru-buru. Pertama, kami melakukan modernisasi tampilan showroom. Persaingan yang kian ketat terlebih dengan munculnya banyak pemain baru dengan konsep toko yang futuristik, mau tidak mau memaksa kita sebagai pemain lama ikut beradaptasi. Sejak tahun 2007, saya membangun satu blok showroom baru 2 lantai, lengkap dengan office dan ruang meeting yang modern. Pembangunannya baru selesai tahun 2009. Selain modernsisasi showroom, upaya kami juga mulai merapikan legalitas perusahaan, agar lebih profesional dan fleksibel. Kalau dulu namanya UD Sanidata, yang saat ini tetap eksis sebagai retailer, kami juga membuat mendirikan PT Sanidata Indonesia yang dikelola oleh anak saya.

Perubahan ini untuk target berikutnya dalam mengembangkan usaha secara masif?

Jadi strateginya begini, saya ingin keberadaan alat-alat kesehatan yang dijual Sanidata bisa menjangkau ke lebih banyak daerah. Dengan datangnya anak kedua saya dari studinya di Australia, kami memulai langkah ekspansi ini dengan cara yang sederhana sebagai permulaan, yakni membangun Sanimed, anak perusahaan Sanidata yang layanannya berkonsep retail store. Idenya di dapat dari konsep waralaba minimart yang selama satu dekade terakhir tumbuh menjamur.

Apa beda Sanidata dengan Sanimed?

Secara fisik, bangunan yang dibutuhkan tidak sebesar Sanidata, namun dengan produk penjualan yang lebih sederhana, yakni produk-produk alat kesehatan yang sifatnya fast moving saja yang dijual. Hampir sebagian besar isinya produk home care dan tidak melayani permintaan khusus seperti dari rumah sakit. Jika ada permintaan untuk produk alat kesehatan yang sifatnya spesial, baru kemudian dialihkan ke Sanidata.

Apakah semua ini masih dikerjakan oleh pak Andries sendiri?

Untuk Sanimed dari semua konsep sampai dengan SOP-nya yang buat anak saya, Sanidata hanya support dari belakang. Dan hingga saat ini, Sanimed telah dibuka di beberapa tempat. Ada 3 outlet di Jawa Tengah, satu outlet di Semarang, satu outlet di Kudus dan satu outlet lagi di Solo. Sementara kalau di Bali juga sama ada 3 outlet, satu outlet di Denpasar, lainnya ada di Singaraja dan Tabanan.  Dan untuk sementara ini kita akan evaluasi dulu outlet-outlet yang sudah berjalan ini. Demikian pula dengan program promosinya, kami enggak gembar-gembor, tidak terlalu di ekspos berlebihan, lebih pelan dan konvensional saja. Pelan tapi pasti.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri