THE WOLF OF WALL STREET

Perhatian! Tidak ada serigala jadi-jadian meneror pasar saham Wall Street di sini dan Leonardo Di Caprio juga tidak menjadi Jacob Black baru. Ini hanya kegilaan luar biasa yang dilepaskan oleh salah satu master sinema, Martin Scorsese di film terbarunya setelah sedekade ini seperti mencoba tampil ‘sopan’ dengan film-filmnya yang tergolong ‘aman’. “Ya, kegilaan yang keren, nakal dan menyenangkan”, kata-kata itu mungkin terasa cocok menggambarkan apa yang terjadi di The Wolf of Wall Street, adaptasi kisah nyata dari cerita lama sosok Jordan Belfort, seorang motivator asal New York yang dulunya dikenal sebagai broker dan penipu ulung finansial di pasar saham Wall Street, miliuner pada era 80′an sampai 90′an, sebelum akhirnya FBI merebut segalanya dan menyebloskannya ke dalam penjara selama 22 bulan.

Tidak penting, apakah kamu sebelumnya tahu siapa Jordan Belfort itu atau tidak atau mengerti soal bursa saham dan istilah ekonominya. Ini bukan film tentang itu, dan tidak pernah mementingkan soal bagaimana ia berakhir nanti. Ini adalah sebuah proses perjalanan panjang dari sosok nothing menjadi something, from zero to hero, sebelum akhirnya harus kembali ke nol lagi. Di buka dengan salah satu opening terbaik tahun lalu yang seperti biasa dilakukan Scorsese; diambil dari pertengahan film. Sutradara berusia 72 tahun seperti dari jauh-jauh sudah ingin memberikan gambaran besar tentang apa yang akan kamu hadapi nanti di sisa durasinya yang super panjang, ya, chaos! a.k.a kekacauan. Tapi tenang, ini adalah kekacauan yang seperti saya bilang, menyenangkan.

Kembali mengajak Leonardo Di Caprio untuk kelima kalinya, Scorsese semakin membuktikan bahwa si “Jack Dawson” dewasa ini memang adalah anak emasnya, setelah berlalunya era Robert De Niro. Di Caprio tentu saja didapuk menjadi Jordan Belfort, penipu ulung bergelimang harta dan wanita, dari sosok nyata yang sedikit banyak mengingatkan saya pada karakter Frank Abagnale Jr. di adaptasi Catch Me if You Can-nya Stephen Spielberg 2002 lalu. Tetapi sosok Jordan Belfort versi Scorsese ini jelas jauh lebih ‘ganas’ ketimbang Abagnale yang ‘pemalu’. Ganas sampai-sampai media pernah menjulukinya sebagai serigala, ketika ia dengan rakusnya menguasai panggung Wall Street. Yang kamu lihat dalam sosok Belfortnya Di Caprio di sini, itu seperti versi modern Kaisar Romawi, Caligula; penguasa, kaya raya, bercita rasa tinggi, dan pecandu seks. Hanya saja Scorsese menambahi lebih banyak drugs dan tumpukan menggunung dollar untuk semakin menegaskan arti sebuah versi dark dari apa yang biasa kamu sebut sebagai “American Dream”.

Baca juga : Movie Review Money Monster

Sederhananya, ini adalah cerita tentang kejahatan kerah putih. Kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang berdasi, berpakaian necis, rambut rapi, bermodal kecerdikan dan mulut mereka yang tajam. Tetapi tentu saja dengan style khas Scorsese bersama editing jempolan; black comedy, dialog-dialog cerdas dan segala teknis sinematik luar biasa. The Wolf of Wall Street akan menjadi salah satu cerita drama criminal, white collar yang mungkin akan selalu kamu ingat sepanjang masa. Apalagi dengan segala konten kontroversial dan kebejatannya. Lihat saja parade pesta orgy dari kantor Belford sampai pesawat terbang, setiap mereka sukses besar. Dada dan bokong mulus nan polos Margot Robbie yang didapuk menjadi istri seksi Di Caprio, kokain, dan pil-pil Methaqualone yang memabukan, sampai pengunaan kata-kata umpatan yang bahkan memecahkan rekor penggunaan ‘F’ word “Casino”-nya Scorsese sendiri dengan 569 kata “f*ck”. Meskipun kenyataanya tidak sampai terlalu vulgar (kecuali pengunaan drugs-nya yang frontal) dan terhindar dari rating NC-17. Toh, Arab Saudi tetap mengebirinya sampai 45 menit, sementara negeri kita hanya memotong 25 menit, jauh lebih mending ketimbang Malaysia yang melarang penayangannya.

The Wolf of Wall Street menunjukkan kehandalan Scorsese dalam mengeskusi sebuah premis sederhana dengan teknis sinematis tingkat tinggi yang eksplosif dan over-dramatis, ya itu sudah jelas. Dan bersama naskah gubahan Terence Winter (Broadwalk Empire), Scorsese tahu benar bagaimana menghadirkan sebuah biopik bagus, namun secara bersamaan ia juga sukses mengeksploitasi sub text tentang hedonisme total, kehidupan glamor, kegilaan manusia akan uang, pesta dan seks. Mengundang kita sebagai penonton ke dalam dunia itu bersama  tuan rumah yang diwakili oleh Di Caprio yang sering berbicara sendiri ke penontonnya dan terlihat mengerti betul kemauan sang sutradara untuk tampil lepas dan bersenang-senang di sepanjang filmnya bersama dukungan segudang cast pembantu dari Jonah Hill, Margot Robbie, Rob Reiner, Spike Jonze, sampai Jean Dujardin yang sama gilanya.

Belfort sendiri termasuk ke dalam tipikal karakteristasi “abu-abu” khas Scorsese, seperti yang pernah kita lihat di diri J Travis Bickle di Taxy Driver, Jake LaMotta di Raging Bull atau Henry Hill di Goodfellas. Pesonanya jelas besar, sebuah karakter yang bisa kita cintai sama besarnya dengan kita membencinya. Contoh sebuah sosok anti-hero sempurna yang dalam kasus ini dimainkan dengan sangat baik oleh aktor kharismatik, yang sayang selalu kurang beruntung di ajang sebesar Oscar (tidak terkecuali tahun ini, ketika ia lagi-lagi harus menghadapi lawan berat macam Matthew McConaughey yang turut menjadi mentornya di sini).

Mungkin kelemahannya, ia sedikit terlalu kepanjangan untuk film yang sebenarnya bisa selesai dalam tempo, hmm…mungkin 2 jam. Ini jelas melelahkan ketika harus melihat Scorsese menghadirkan momen yang sama berulang-ulang, meskipun ya, harus diakui itu fu,  dan melihat pesta seks dan drugs di sebuah film besar yang disutradarai oleh Scorsese itu adalah pengalaman tak tergantikan.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter