The Theory of Everything

The Theory of Everything bisa jadi punya judul yang terdengar paling indah di antara film-film lainnya tahun lalu. Judul yang juga dicomot dari salah satu judul buku non-fiksi populer Stephen Hawking; Stephen Hawking and The Theory of Everything, di mana Hawking pula yang dijadikan objek bercerita untuk biopik garapan sutradara Man on Wire, James Marsh. Siapa sih Stephen Hawking? Bagi yang belum mengenalnya, Stephen William Hawking adalah matematikawan dan ilmuwan kosmologis asal Inggris yang paling tenar di muka bumi ini, yang kepopulerannya mungkin bisa disetarakan dengan dua raksasa macam Bill Gates-nya Microsoft atau Steve Jobs dengan Apple-nya. Ia juga dikenal sebagai seorang atheis sejati, “I’m an atheist because science is ‘more convincing’ than God,” katanya dalam sebuah wawancara. Dan secara fisik susah untuk tidak mengenal seorang Stephen Hawking. Ia mengalami transformasi tubuh yang tidak biasa akibat penyakit langka yang menyerang sitem motoriknya. Penyakit yang juga disebut dengan Lou Gehrig Disease membuatnya nyaris lumpuh sepenuhnya.Tubuhnya mengerut kecil dan aneh di kursi rodanya, seperti sayuran layu. Hanya meninggalkan pemikiran dan inspirasi hebat yang dikumandangkan lewat suara robotnya.

Di setiap cerita-cerita hebat selalu ada awalnya. Dalam kasus The Theory of Everything, James Marsh mencoba memulainya jauh sebelum sang profesor matematika itu menjadi seperti sekarang. Diceritakan dari sudut pandang Jane Wilde Hawking yang narasinya disadur Anthony McCarten dari buku mantan istri Hawking sendiri; Travelling to Infinity: My Life with Stephen. The Theory of Everything memulai segalanya dengan pertemuan Hawking (Eddie Redmayne) dan Jane Wilde (Felicity Jones) pada tahun 1963 di sebuah pesta yang diisi murid-murid Universitas Cambridge. Meskipun berbeda pandangan dan kepercayaan akan Tuhan, termasuk studi yang diambil, keduanya bak pasangan sempurna yang tidak terpisahkan. Namun cerita ini baru benarbenar dimulai ketika Hawking didiagnosa terkena Lou Gehrig Disease.

 

I’m an atheist because science is ‘more convincing’ than God” – Stephen Hawking

 

The Theory of Everything itu punya tampilan secantik judulnya. Visual gloomy dari sinematografer veteran Benoît Delhomme berbalut scoring magis dari nada-nada elegan dan melakolis garapan komposer Islandia, Jóhann Jóhannsson, menghasilkan kombinasi momen-momen sentimentil romantis yang mendukung penceritaan James Marsh di paruh pertamanya yang diisi banyak cinta. Bisa dibilang scoring dan visual adalah bagian terbaik The Theory of Everything, bersanding mesra dengan penampilan luar biasa Eddie Redmayne yang bertransformasi sempurna dari karakter Marius Pontmercy kharismatik di Les Misérables menjadi sosok ‘monster’ jenius pencentus Teori Lubang Hitam bernama Stephen Hawking lengkap dengan segala proses rumit dan yang pastinya, melelahkan.

Redmayne yang solid lalu disandingkan dengan Felicity Jones sebagai obat penawar dari segala cacat fisik Hawking.  Tidak hanya menjual paras ayu dengan gigi ‘kelincinya’ yang imut, namun Jones juga mampu menandingi pesona Redmaye sebagai istri super tegar, yang di sisi lain juga mengalami tekanan luar biasa; menyeimbangkan kesulitan fisik karakter Hawking dengan pancaran emosi kompleks tersendiri sebagai seorang istri yang berusaha berbakti buat suami dan anak-anaknya.

Solid di teknis visual, scoring, dan aktingnya, tidak diikuti dengan kualitas dari adaptasi naskahnya. Bagian pertama yang diisi romansa berujung tragedi memulai segalanya dengan baik. Setelah itu plotnya beberapa kali sering digeber terlalu terburu-buru, meninggalkan kedalaman yang seharusnya bisa lebih dieksplorasi lagi untuk menciptakan ikatan emosi buat penontonnya. Hasilnya, narasi The Theory of Everything seperti tidak mampu berkembang dinamis. Sebaliknya, ia tampak seperti potongan-potongan kasar yang lebih banyak berisi momen Hawking ‘mempermalukan’ dirinya sendiri sembari meminta simpati penontonnya akibat penyakit yang dideritanya.

Beruntung untuk sebuah biopik yang menceritakan seorang jenius matematika dan fisika, naskahnya tidak sampai harus melibatkan segala teori-teori Hawking yang super njelimet tetang asal muasal alam semesta, namun tanpa tetek-bengek berlebihan tentang teori-teori kuantum fisika, kuantum mekanik dan lain-lain termasuk kepercayaan atheis-nya. Marsh masih mampu menangkap semangat Hawking dalam usahanya mencapai citacitanya mengungkap rahasia alam semesta.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri