The Raid 2: Berandal

Tanggal 28 Maret 2014 itu tidak hanya menandakan 180 tahun sejak Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan Belanda ke Menado, namun juga menandakan sejarah lain. Dua tahun tujuh hari berlalu sejak sutradara asal Wales, Gareth Evans melepas sebuah kehebohan luar biasa di pentas perfilman lokal maupun Internasional dengan Serbuan Maut a.k.a The Raid-nya yang edan untuk ukuran sebuah film aksi martial arts.

Ya, seperti masih baru kemarin rasanya kita melihat bagaimana Iko Uwais bersama tim pasukan elitnya menyerbu apartemen bertingkat banyak guna meringkus Ray Sahetapy yang diakhiri pembantaian besarbesaran dan pertarungan puncak; sebuah threesome berdarah antara Uwais, Doni Alamsyah dan si “anjing gila”, Yayan Ruhaian, dan kini kita sudah harus berhadapan kembali dengan sekuelnya, Berandal. Tentu saja ada semburan hype begitu tinggi mengiringi kemunculan sekuel film aksi bela diri yang paling dinanti tahun ini, mengingat apa yang sudah dilakukan Evans 2 tahun lalu, dan seperti yang kamu tahu, hype besar itu akan menciptakan ekpektasi besar, dan ekspektasi besar biasanya akan membunuhmu. Hanya saja rumus itu sepertinya tidak berlaku kali ini karena percayalah, Berandal akan memberimu lebih banyak dari yang kamu minta.

Layaknya formula sebuah sekuel, segalanya harus punya unsur “lebih” dan Evans tahu benar memberikan penontonnya sesuatu yang lebih besar, lebih berdarah dan lebih berkarakter, bahkan skripnya pun naik kelas. Jika The Raid yang pernah memukaumu itu hanya menampilkan narasi yang begitu  simpel dan terlalu lurus, maka Evas mencoba lebih kompleks dalam menghadirkan dunia Berandal yang skalanya ditingkatkan menjadi lebih luas dari sekedar satu blok apartemen bertingkat. Melibatkan kembali Iko sebagai Rama, salah satu polisi yang berhasil selamat dari serbuan maut itu dengan set waktu dua jam setelah persitiwa film pertamanya. Tidak butuh waktu lama buat penontonnya untuk dijebloskan bersama Rama yang menyamar ke dalam sebuah cerita besar dari Ucok (Arifin Putra), putra semata wayang Bangun (Tio Pakusadewo) bos geng kriminal paling ditakuti dalam usahanya merebut kekuasaan mutlak dari klan mafia Jepang, Goto yang selama 30 tahun ini sebenarnya sudah hidup rukun berdampingan.

Lihat kan? Narasinya sudah mengalami peningkatan besar ketimbang pendahulunya, melibatkan cerita balas dendam, perebutan kekuasaan antar gangster dan penyamaran ala Infernal Affairs, sebuah pondasi kuat dan meyakinkan untuk sebuah film bela diri memabukan, meskipun sedikit kedodoran di pertengahan film. Tetapi jujur saja, kamu datang jauh-jauh menonton Berandal, tentu saja bukan repot-repot sekedar untuk mencari ceritanya bukan? Dan jika kamu memang ingin kembali guna merasakan sensasi luar biasa yang pernah kamu alami dua tahun lalu maka kamu berada di tempat yang benar. The Raid itu identik dengan kekacauan besar yang menyenangkan. Kekacauan luar biasa yang berisi banyak adegan baku hantam, tulang patah, jeritan kesakitan dan dan sayatan tajam merobek kulit, sampai suara-suara gaduh dari setiap peluru yang dimuntahkan dan tabrakan otot dari sebuah pertarungan berkoreografi epik. Di Berandal kamu tidak hanya mendapati kesenangan itu semua kembali, namun dosisnya sudah dinaikan dua kali lipat lebih sinting dan lebih brutal yang sampai-sampai membuat para penjaga bioskop harus selalu menanyakan kartu identitas setiap penontonnya dan juga larangan keras untuk membawa anak-anak di bawah umur, sebelum menyaksikannya. Lebih gilanya, kekacauan yang kamu lihat di bioskop itu masih versi sensornya yang sudah dipotong 20 menitan.

—————————————— Baca juga : Movie Review  – Neerja ———————————————

Jadi tidak ada gedung sempit di sini, dan teror klaustrofobiknya diganti dengan lebih banyak pertarungan dan stuns epik dari kamar mandi sempit, lapangan penjara penuh lumpur, sampai jalan raya dari Jakarta alternatif versi Evans lengkap dengan salju melankolis yang turun menutup sub plot Prakoso (Yayan Ruhaian) dan puncaknya, sebuah parade car chase spektakuler dan mobil menghantam halte Busway. Lalu tentu saja selalu ada final showdown, kali ini melibatkan duel silat Panglipur yang bisa jadi akan selalu kamu ingat selamanya antara Rama dan Mad Dog baru dalam wujud The Assassin yang diperankan dengan garang dan dingin oleh Cecep Arif Rahman yang bersanjatakan Karambit mematikan. Ya, pertarungan puncak di Berandal itu bisa jadi adalah salah satu pertarungan terbaik yang pernah ada dalam sejarah sinema bela diri, begitu kompleks, begitu brutal, namun juga begitu cantik.

Cerita dan fighting scenes-nya jelas sudah lebih, tetapi tidak hanya berhenti sampai di situ. Set piece Evans pun mengalami peningkatan luar biasa. Dari visual sinematografi yang semakin ciamik dan artsy, membuat setiap momennya terasa begitu membius dan puitis, editing yang super cepat dan taktis tanpa harus kehilangan pesona dari setiap sekuens-nya, dan saya masih belum menyebut pergerakan banyak kamera ‘liar’ dari Matt Flannery dan Dimas Imam Subhono yang seperti melompat sana kemari, sampai-sampai membuat saya geleng-geleng dan bertanya, “Hei! Bagaimana mereka melakukan itu?!”. Sementara scoring keroyokan Fajar Yuskemal, Aria Prayogi, dan Joseph Trapanese pun sama suksesnya, ketika mengiringi setiap momen penuh darah dan kebrutalan ini.

Karakter sentralnya masih dipegang oleh Iko Uwais dengan peningkatan luar biasa di bagian pertarungannya, bahkan Evans seperti membuat tokoh Rama kini seperti super human dengan daya tahan tubuh yang di atas rata-rata. Tetapi sebenarnya bukan Uwais yang memesona, adalah Arifin Putra yang menjadi alasan kenapa Berandal bisa tampil solid di bagian karakternya. Menjadi penerus dari klan Bangun, karakter Ucok yang dihadirkan Arifin adalah gambaran sebuah chaos sempurna dengan kombinasi wajah tampan, tatapan mata dingin, dan kelakuan buas. Ucok itu fantastis sebagai sebuah villain. Lalu masih ada lebih banyak rombongan baru yang datang untuk meramaikan pesta penuh darah ini.

Dari gerombolan Jepang yang kurang maksimal macam Ryuhei Matsuda, Kenichi Endo dan Kazuki Kitamura, sampai aktoraktor gaek macam Cok Simbara yang didapuk sebagai Bunawar, atasan baru Rama. Tio Pakusadewo yang bisa menjadi apa saja, Roy Marten sebagai polisi korup, sampai penampakan Pong Hardjatmo, dan Dedi Sutomo. Sementara di jajaran pemain mudanya ada Julie Estelle sebagai Hammer Girl tampil buas tanpa dialog dengan dual palu besinya yang mematikan. Kombinasinya dengan Very Tri Yulisman Sang Baseball Bat Man adalah kombinasi mematikan pasangan pembunuh bayaran besaudara yang sukses mencuri perhatian tersendiri di Berandal.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri