TERMINATOR GENYSIS RESET THE FUTURE 2015

Tidak ada yang memungkiri bahwa Terminator adalah sebuah franchise besar. Seri pertamanya, The Terminator yang dirilis 31 tahun lalu mungkin tidak sampai semeledak The Judgment Day yang merupakan jilid terbaiknya, bahkan sampai saat ini. Meskipun secara finansial masih tergolong untung besar mengingat budget yang digelontorkan hanya berkisar 6 juta dolar, tetapi jelas tidak akan ada The Judgment Day jika Cameron tidak meletakan dasarnya pada The Terminator, dan itu yang kemudian menjadikan posisi The Terminator menjadi penting.

Lahir tahun ini setelah lagi-lagi melalui serangkaian masalah, dari hak cipta sampai gonta-ganti sutradara, pemain dan skrip, Terminator Genisys yang kini diproduksi oleh Skydance Productions di bawah lebel Paramount Pictures memproyeksikan dirinya sebagai sebuah reboot. Di bawah kendali sutradara barunya, Alan Taylor, serta dukungan narasi dari Laeta Kalogridis dan Patrick Lussier, Genisys mencoba menghadirkan awal baru.

Saya suka idenya, mencoba melakukan fresh start dengan mengacak-acak time line aslinya. Dua puluh menit awal Genisys tampak seperti sebuah remake dari The Terminator. Berlatar di bumi pasca kimat tahun 2029, ada Kyle Reese (Jai Courtney) yang ditugaskan oleh sang pemimpin umat manusia melawan mesin, John Connor (Jason Clarke) kembali ke tahun 1984 guna mencegah pasukan mesin Skynet membunuh ibu bos-nya, Sarah Connor (Emilia Clarke). Dari sini plotnya tampak familiar, bahkan masih disertai kemunculan ikonik T-800 dalam wujud Schwarzenegger CGI mulus, plus si cairan metal, T-1000 dari Judgment Day.

Narasi Genisys langsung berubah drastis ketika Sarah Connor muncul. Sebuah kejutan ketika Sarah Connor bukan lagi Sarah Connor sang pelayan restoran yang kita kenal di The Terminator, ia sudah menjelma menjadi Sarah Connor sang pejuang tangguh, jauh sebelum The Terminator terjadi. Tidak hanya itu, Sarah sudah tahu semua tentang rencana Skynet membunuhnya sekaligus mencegah kelahiran John Connor.

Ya, ketimbang para pendahulunya, Genisys bisa jadi punya potensi plot yang (seharusnya) paling rumit. Elemen perjalanan waktunya benar-benar mendominasi, tabrakan paradoks jelas tak terelakan. Hal ini bak dua sisi mata uang. Di satu sisi dengan segala lompatan waktunya, ia bisa saja menjadi seri Termintor dengan kualitas cerita terbaik. Sementara di sisi lain, ia pun bisa hancur lebur jika penulisnya tidak mampu menguasai premis kompleksnya itu. Nah, sayang yang kita dapatkan di Genisys adalah sisi yang buruk. Alih-alih menjadi sajian action time travel yang menantang.

Baik Laeta Kalogridis dan Patrick Lussier, seperti tidak ingin menyulitkan penontonnya. Apalagi buat penonton yang baru mencicipi franchise ini dengan konflik waktu yang berbelit. Masalahnya jika kamu sudah menetapkan sebuah konsep reboot besar yang bersentuhan dengan seri-seri sebelumnya, tentu saja kerumitan cerita jelas tak terlekan. Nah, ini yang gagal dikuasai kedua penulis itu. Genisys memang harus rumit, itu sudah konsekuensi besar ketika kamu lancang menganggu sebuah garis waktu yang sudah ditetapkan selama tiga dekade lebih ini. Hasilnya, Genisys menderita banyak di penceritaannya. Gagal memberikan detail yang membutuhkan jawaban, semisal yang paling mencolok adalah bagaimana T-800 bisa sampai ‘tersesat’ di tahun 70’an, menyelamatkan Sarah dari serangan Skynet di saat ia masih berusia 9 tahun? Siapa yang mengirimnya dan mengapa?

Car chase, ledakan, dan aksi-aksi heroik, semua masih tergolong asik untuk dinikmati. Apalagi dengan kembalinya jagoan kita, Arnold Schwarzenegger yang merupakan maskot kebesaran Terminator setelah sempat absen di Salvation. Arnie masih memerankan sosok ikonik, T-800, robot usang berusia 30 tahun yang setia melindungi Sarah Connor. Menarik melihat karakter Schwarzenegger di sini. Bukan hanya kembali memerankan karakter yang membesarkan namanya, namun bagaimana ia berkembang. Sang Terminator uzur dibalut dengan kulit sintetis yang menyelubungi tulang-belulang bajanya. Kulit bukan hanya sekedar kulit mirip manusia, namun juga mampu menua dan mengeriput layaknya sebuah kulit alami. Belum lagi Taylor memberi sentuhan humanis untuk karakternya. Elemen ini yang kemudian mampu membuat T-800 versi Genisys menjadi jauh lebih manusiawi ketimbang seri-seri sebelumnya lengkap dengan jokes one liner khas Arnie. Yah, kamu bisa menyebut tokoh T-800 ini sudah layaknya ayah buat Sarah Connor.

Sementara karakter lain yang tak kalah pentingnya tentu saja adalah Sarah Connor sendiri. Diperankan oleh Emilia Clarke, aktris manis pemeran Daenerys Targaryen dari serial populer Game of Thrones (FYI, Clarke adalah jebolan Game of Thrones kedua setelah Lena Headey yang juga sempat memerankan tokoh Sarah Connor di serial televisinya). Meskipun masih mampu menampilkan akting pejuang tangguh yang cukup meyakinkan, namun secara fisik jelas Emilia Clarke terlalu manis untuk dilihat. Jelas bukan pilihan cocok untuk heroine macam Sarah Connor.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri