Teaching With The Heart – Rani Rai

Di tengah serbuan preschool berlabel asing sedemikian marak, diam-diam sejumlah pengusaha lokal berani membuka preschool yang tak kalah ‘kinclong’-nya. Mereka tak mau tinggal diam dalam berkontribusi pada pengembangan pendidikan anak-anak di Indonesia. Terlebih, jika dunia anak adalah bagian dari kecintaannya untuk terus mengembangkan bakat kreatif. Adalah Rani Rai, sosok wanita muda yang merintis usaha di dunia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Hooray Kids sejak 2008 silam. Berawal dari sebuah garasi kecil di rumahnya, kini wanita kelahiran 2 Oktober 1979 ini mampu mengembangkan Hooray Kids dengan konsep yang lebih besar. Sebanyak 12 kelas disediakan, di mana terdiri dari Baby Class (bayi yang baru lahir, 0-1 tahun), Toddler Class (anak berusia 1-3 tahun), Playgroup (berusia 3-4 tahun), Kindergarten (usia 4-6 tahun), dan ada pula Special Need Class (untuk anak-anak berkebutuhan khusus).

Oleh alumni University of Queensland, Brisbane – Australia di bidang Psikologi ini, Preschool yang berada di bilangan Teuku Umar Barat No. 335 Block B-C itu pun menjelma sebagai Taman PAUD yang tak biasa. Beragam inovasi dan konsep kreatif menyertai tujuh tahun pengembangan Hooray Kids. Ibunda dari Sheva, Ruben, dan Devon ini fokus dalam mengoptimalisasikan pendidikan anak usia dini melalui beragam pengembangan strategi pengajaran dan fasilitas pendukung sekolah. Tak hanya fokus terhadap tumbuh kembang anak, Rani juga punya misi khusus dalam menyuntikan pemahaman kepada para orang tua tentang bagaimana memberikan pendidikan yang baik dan tepat terhadap anak-anak di usia dini.

Kepada M&I Magazine, wanita yang hobi masak dan membaca buku ini pun berkisah tentang mimpi-mimpi yang ia tanamkan di Hooray Kids. Tentang bagaimana ia berusaha fokus mengembangakan dan memproyeksi titik cerah bisnis di dunia PAUD. Serta tentang bagaimana ketertarikan Rani yang begitu besar terhadap dunia anak-anak. Berikut kutipan panjangnya khusus untuk Main Story edisi ini.

Bagaimana ide untuk membuat Hooray Kids ini muncul? Hooray Kids ini merupakan impian saya sejak kecil. Saya memang suka dengan dunia anakanak. Saya merasa lebih dekat dengan mereka ketimbang orang dewasa. Latar belakang pendidikan saya adalah psikologi. Namun, saya tidak terlalu tertarik untuk menangani psikologi orang dewasa. Saya sudah pernah merasakan bagaimana bekerja di sebuah biro psikolog dan menangani klien-klien yang notabene orang dewasa dengan segala persoalannya. Saya enggak mau lagi kerja dengan orang lain. Saya benar-benar ingin mewujudkan impian saya sendiri.

Kenapa Anda lebih suka menangani anak-anak? Entah, saya lebih nyaman dengan anak-anak. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak itu karakternya lebih mudah untuk mengungkapkan sesuatu. Mereka lebih lepas dan tanpa beban. Kalau orang dewasa itu terlalu banyak pikiran, terkadang persoalan mereka pun sulit untuk mereka share.

“Saya enggak punya modal yang cukup besar untuk membangun semua ini. Saya mendapat banyak dukungan dari keluarga. pertama kali berdiri, Hooray Kids ini tujuh tahun yang lalu. waktu itu, lokasinya masih di renon. Karena baru awal, jadi saya pikir buat yang kecilkecilan dulu. Saya sulap garasi di rumah saya menjadi kelas untuk preschool.“ (- Rani Rai)

Bagaimana dengan masalah permodalan? Bagaimana Anda merintis Hooray Kids untuk pertama kali? Saya enggak punya modal yang cukup besar untuk membangun semua ini. Saya mendapat  banyak dukungan dari keluarga. Pertama kali berdiri, Hooray Kids ini tujuh tahun yang lalu. Waktu itu, lokasinya masih di Renon. Karena baru awal, jadi saya pikir buat yang kecilkecilan dulu. Saya sulap garasi di rumah saya menjadi kelas untuk preschool. Meski tidak terlalu besar, tapi cukup kondusif untuk ruang belajar. Untuk preschool sendiri yang diajarkan seputar baca tulis yang sederhana di sana.

Lantas mengapa akhirnya Hooray Kids pindah ke bilangan Teuku Umar Barat? Pertimbangannya sih bukan karena lokasi yang strategis atau bagaimana, kebetulan ada properti milik keluarga di sekitar Teuku Umar barat ini. Jadi saya pikir kenapa tidak dimanfaatkan saja. Sudah sejak lama saya memendam hasrat untuk mengembangkan Hooray Kids ini lebih besar dan tidak hanya  fokus pada preschool saja. Hooray Kids di Teuku Umar Barat ini mulai beroperasi sejak 2011 lalu, sementara yang di Renon sudah saya tutup. Saya ingin fokus untuk mengembangkan yang di sini saja, belum siap untuk mengelola dua tempat sekaligus, karena keterbatasan SDM.

Apa goal yang sebenarnya ingin Anda capai dari konsep Hooray Kids yang Anda tawarkan? Sejak awal saya memang berkomitmen, agar Hooray Kids ini tidak hanya memberikan pendidikan kepada anak-anak itu sendiri, tetapi juga kepada orang tua mereka. Saya lihat banyak pasangan-pasangan muda yang bingung dan keteteran, ketika baru memiliki momongan. Di situ kita mencoba untuk mengarahkan mereka bagaimana sebaiknya  mendidik anak di usia paling dini. Apalagi anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama orang tua, ketimbang dengan guru-guru di sekolah. Kita membuka pintu selebar-lebarnya bagi orang tua yang ingin konseling perihal anak-anak mereka.

Dewasa ini, banyak tempat semacam playground atau preschool didirikan di Bali dan beberapanya ada yang punya segmen pasar khusus, misalkan anak-anak expatriate. Kalau di Hooray Kids sendiri bagaimana? Tidak. Saya tidak pernah membeda-bedakan segmen. Untuk saya, semua anak itu sama, all children are exceptional and unique. Semua anak punya hak untuk diperhatikan dan diberi pendidikan yang layak. Bagi saya, tidak ada yang namanya, kalau anak berkebutuhan khusus berbeda dengan anak-anak yang normal. Di Hooray Kids, mereka bermain dan mendapat pendidikan yang sama. Di Hooray Kids, kita juga sudah lama menangani beberapa anak yang berkebutuhan khusus.

———————————————Baca juga : Still Beauty! From Generatioan to Generation—————————————–

Bisa ceritakan tentang perekrutan tenaga pengajar di sini, persyaratan penting apa yang mesti dipenuhi untuk menjadi pengajar di Hooray Kids? Guru memiliki peranan penting dalam perkembangan anak. Tidak ada yang namanya anak kurang cerdas atau pun anak nakal, jikalau gurunya tahu bagaimana menyiasati cara mengajar yang baik dan benar. Ya semuanya balik ke gurunya itu sendiri. Oleh karena itu, dalam perekrutan untuk tenaga pengajar di sini pun sangat ketat. Kami memang mematok persyaratan untuk pengajar minimal telah mengantongi predikat Strata 1. Namun, bagi saya yang terpenting adalah mereka itu harus suka anak kecil. Pernah saya menemukan seorang pengajar dengan latarbelakang S2 di bidang pendidikan, tapi anehnya, saya lihat cara mengajarnya tidak mencerminkan bahwa ia adalah seseorang yang cinta dengan anak-anak. Di situ juga menjadi pertimbangan saya dalam perekrutan.

Ketika pertama kali Hooray Kids dibuka di Renon, ada juga yang orang yang hanya tamatan SMA ingin menjadi tenaga pengajar di sini. Saya lihat orangnya sangat mencintai anak-anak. Lalu, saya pikir tidak ada salahnya untuk memberikannya semacam training tentang cara mengajar anak-anak. Itu tidak masalah, bagi saya poin pentingnya adalah harus suka dan cinta dengan anak-anak. Tentu mendidik anak-anak itu bukan dengan jalan membentak, berteriak, dan marah di depan mereka. Ada cara-cara yang lebih halus dan dapat diterima oleh anak-anak itu sendiri. Mendidik anak-anak, terutama yang masih di bawah enam tahun itu memang perlu kesabaran. Di Hooray Kids, juga kami memberikan training kepada tenaga pengajar hampir setiap hari. Ini sangat penting untuk mengembangkan skill mereka.

Bagaimana latarbelakang pendidikan Anda bisa berkontribusi secara signifikan terhadap bisnis yang kini Anda geluti? Tentu saja dengan bekal Ilmu Psikologi yang saya punya ini sangat membantu dalam memahami perilaku dan keinginan anak-anak. Ini yang membuat saya mampu mengenali karakter dan kebutuhan anak-anak itu sendiri, sehingga saya dan tim bisa merancang strategi pengajaran yang tepat untuk mereka. Jadi meskipun saya tidak memiliki latarbelakang ilmu pendidikan dan pengajaran, namun ilmu psikologi yang saya punya sudah merupakan aset terpenting dalam hidup.

Apa bedanya konsep Hooray Kids di Renon dulu dengan yang di Teuku Umar Barat sekarang? Kalau Hooray Kids kami yang di Renon dulu itu lebih fokus pada preschool saja. Nah kalau di lokasi yang baru ini, Hooray Kids yang saya bawa lebih mengarah ke konsep yang lebih besar. Tidak lagi hanya menawarkan preschool, tapi juga ada konsep “Home Care” yang baru-baru ini kami soft launching. Home Care ini terinspirasi dari persoalan yang dialami oleh kebanyakan pasangan muda yang baru memiliki anak. Banyak yang bingung bagaimana cara merawat bayi dengan baik dan benar. Oleh karena itu, kami kirimkan jasa perawatan khusus bagi bayi yang baru dilahirkan. Nanti, petugas kami yang akan ke rumah mereka untuk memberikan beberapa treatment kepada bayi. Selain itu, kami juga memberikan pemahaman kepada mereka yang baru menjadi ayah untuk bisa ikut berperan aktif dalam merawat bayi mereka. Umumnya, ayah-ayah muda sering kagok ketika merawat anak mereka. Kita juga ingin si ayah bisa membantu ibunya dalam merawat bayi. Tak hanya itu, dalam Home Care ini nantinya kita juga akan buatkan semacam fasilitas khusus untuk perawatan orang-orang yang barangkali terkena semacam stroke. Kita ingin meringankan beban keluarga bersangkutan dalam hal perawatannya. Selain itu, saya juga akan rutin mengadakan workshop atau seminar di sini untuk memberikan wawasan kepada orang tua seputar dunia anak.

Bagaimana Anda melihat fenomena bisnis preschool yang marak bermunculan dan telah menjadi trend di kalangan orang tua? Karena orang tua zaman sekarang sudah paham bahwa pendidikan untuk anak-anak sejak dini itu sangat penting. Selain itu, tempat-tempat semacam preschool itu juga muncul, karena banyaknya pasangan muda yang kerap kebingungan dalam merawat dan mendidik anak mereka. Oleh karena itu keberadaan preschool akan sangat membantu.

Kompetitor untuk bisnis di bidang seperti yang Anda geluti kini kan cukup banyak. Bagaimana Anda menyikapinya? Saya tidak terlalu mengkhawatirkan dengan kompetitor atau semacamnya. Karena Hooray Kids sendiri memang sangat berbeda dari playgroup atau preschool lainnya di luar sana. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, tentang konsep kami yang lebih luas dari sekadar preschool. Jujur dari segi harga untuk Hooray Kids di sini dengan Hooray Kids di lokasi sebelumnya sangat jauh berbeda. Namun, para orang tua tetap mempercayakan anak-anaknya kepada kami.
Kendala apa yang sejauh ini sering Anda hadapi dalam mengelola preschool ini? Sebenarnya tidak terlalu banyak kendala yang saya temukan, ketika menghadapi anak-anak. Namun, justru kendala terbesar berada pada orang tua. Orang tua terlalu memberikan ekspektasi yang lebih kepada si anak. Mereka mengharapkan hasil yang cepat dan instan, tanpa mau melihat dan mengikuti proses tumbuh kembang si anak. Ada orang tua yang berharap anaknya bisa berbahasa Inggris dengan cepat. Di Hooray Kids, kami memang memberikan pembelajaran tentang Bahasa Inggris, bahkan gurunya sendiri adalah seorang native speaker. Tapi bukan berarti dengan begitu orang tua bisa langsung lepas tangan. Orang tua sepatutnya juga ikut serta dalam melatih kemampuan berbahasa anaknya. Kan si anak sebagian besar waktunya dihabiskan bersama orang tua di rumah, sementara jam bersama guru-gurunya terbilang terbatas. Seharusnya orang tua juga bisa bercakap-cakap menggunakan Bahasa Inggris sedikit dengan anaknya di rumah. Ini akan sangat membantu untuk mendapatkan hasil yang signifikan. Mendidik anak-anak di masa golden age itu memang tidak mudah, sehingga kita harus benar-benar jeli untuk menemukan tempat yang tepat untuk itu.

Terakhir, apa harapan-harapan Anda ke depan terhadap Hooray Kids? Saya berharap Hooray Kids maju secara holistic dan dapat memberikan kontribusi yang maksimal di bidang pendidikan khusus untuk anak-anak usia dini. Semoga inovasi yang kami lakukan lewat Home Care ini juga bisa diterima dan membantu banyak orang tua. Perjalanan masih panjang dan kami sedang berusaha untuk berkembang.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri