Sigi Wimala – Di Balik Layar

Semenjak memenangkan pemilihan model Gadis Sampul pada tahun 1999 silam, berbagai kesempatan emas menghampiri seorang Sigi Wimala Somya Dewi. Paras ayunya kemudian bermunculan di berbagai iklan produk brand ternama dan kehadirannya di panggung catwalk pun tak pernah absen. Nama Sigi Wimala pun mulai diperhitungkan di jagat modeling. Meski begitu, puncak karir Sigi justru ketika berperan sebagai Gadis di film arahan Rudi Soedjarwo “Tentang Dia” (2005).

Lewat debutnya di layar lebar tersebut, Sigi diganjar penghargaan sebagai aktris pendatang baru terbaik pada Indonesian Movie Awards 2007 dan juga meraih nominasi aktris terbaik pada perhelatan Piala Citra. Pada tahun 2005, Sigi memutuskan untuk hiatus dari modeling dan fokus dengan dunia perfilman. Menariknya, wanita kelahiran 21 Juni 1983 tak hanya menggeluti seni peran, tetapi juga merambah bidang penyutradaraan. Istri dari sutradara Timo Tjahjanto ini pun mulai merintis karir di balik layarnya dengan menyutradarai beberapa film pendek dan video klip musik.

Kepada M&I Magazine, Sigi Wimala pun bercerita tentang profesi barunya sebagai sutradara serta segala aktivitas pendukung yang mampu mewadahi hasratnya di dunia kreatif dan kesehatan. Berikut petikan wawancara kami dengan kakak kandung dari aktris Agni Pratistha tersebut.

Semenjak memenangkan pemilihan model Gadis Sampul pada tahun 1999 silam, berbagai kesempatan emas menghampiri seorang Sigi Wimala Somya Dewi. Paras ayunya kemudian bermunculan di berbagai iklan produk brand ternama dan kehadirannya di panggung catwalk pun tak pernah absen. Nama Sigi Wimala pun mulai diperhitungkan di jagat modeling. Meski begitu, puncak karir Sigi justru ketika berperan sebagai Gadis di film arahan Rudi Soedjarwo “Tentang Dia” (2005).

Lewat debutnya di layar lebar tersebut, Sigi diganjar penghargaan sebagai aktris pendatang baru terbaik pada Indonesian Movie Awards 2007 dan juga meraih nominasi aktris terbaik pada perhelatan Piala Citra. Pada tahun 2005, Sigi memutuskan untuk hiatus dari modeling dan fokus dengan dunia perfilman. Menariknya, wanita kelahiran 21 Juni 1983 tak hanya menggeluti seni peran, tetapi juga merambah bidang penyutradaraan. Istri dari sutradara Timo Tjahjanto ini pun mulai merintis karir di balik layarnya dengan menyutradarai beberapa film pendek dan video klip musik. Kepada M&I Magazine, Sigi Wimala pun bercerita tentang profesi barunya sebagai sutradara serta segala aktivitas pendukung yang mampu mewadahi hasratnya di dunia kreatif dan kesehatan. Berikut petikan wawancara kami dengan kakak kandung dari aktris Agni Pratistha tersebut.

Sedang sibuk apa akhir-akhir ini?

Sekarang sedang persiapan untuk roadshow keliling Indonesia demi mengampanyekan gaya hidup sehat. Kalau sekarang kita lihat kan trennya cenderung lebih banyak mengarah kepada aktivitas olahraga. Contohnya yang lagi hip, kayak lari 5k – 10k, triathlon, bersepeda, dll. Banyak orang yang sudah aware dengan mengonsumsi makanan sehat yang berbahan organik dan mengatur pola makan mereka. Ya, untuk sekarang aku memang lebih banyak terlibat pada project yang berbau gaya hidup sehat.

Apakah green campaign project tersebut didukung oleh LSM atau brand produk tertentu?

Aku jadi brand ambassador untuk beberapa produk tertentu yang memang mengusung green campaign tersebut. So far, ada tiga brand yang meminta aku untuk mengampanyekan semangat hidup sehat. Contohnya, sepatu olahraga branded yang meminta aku untuk jadi brand ambassador mereka. Kebetulan brand mereka ingin menghidupkan tren olahraga lari di Indonesia.

Berarti Sigi memang suka olahraga?

Ya, aku memang suka olahraga dari dulu. Mulai dari lari, sepedaan, boxing, pokoknya hampir semua jenis olahraga aku suka. Tapi akunya tuh paling enggak bisa yang namanya menjaga pola makan. Banyak cewek yang bisa membiasakan dirinya dengan makanan yang low fat atau vegetarian. Tapi aku malah enggak bisa seperti itu. Aku paling enggak bisa, kalau disuruh membatasi makanan. Enggak enak rasanya, apalagi hobiku itu kulineran. Nah, kalau aku enggak jaga pola makan, otomatis aktivitas mesti aku tingkatkan lagi. Jadi buat aku, olahraga bisa dibilang cara aku untuk bisa nyaman melampiaskan hasrat berkuliner. Ya, yang penting bisa happy, hehehehe.

Kapan buat film lagi?

Kalau tidak ada halangan Oktober ini akan mulai syuting sebuah film pendek yang aku sutradarai sendiri. Sudah lama nih enggak buat film pendek lagi, terakhir itu dua tahun lalu, sebuah project film Omnibus bareng Luna Maya yang ceritanya bertema perempuan. Tahun ini, konsepnya bakal Omnibus lagi, tetapi genre-nya horror.

Wah, suka nonton film horror juga ya?

Justur aku ini tipikal orang yang enggak bisa nonton film horror. Tapi di situ aku lihat challenge-nya. Aku penasaran banget dengan genre ini. Ternyata membuatnya tidak semudah yang kita pikirkan. Kalau orang lagi takut itu terkadang imajinasinya banyak. Nah tantangannya, bagaimana menuangkan imajinasi tersebut ke dalam bentuk skrip film.

 —————————— Baca juga : Ika Kusuma Dewi – Secangkir Kopi dengan Sang Putri Bali ———————————-

Sigi cenderung tertarik dengan genre film seperti apa?

Aku itu malah lebih suka yang tipikal psychological thriller dan drama atau malah yang lebih surreal. Kayak waktu ini aku nonton film Under The Skin. Nonton film itu seperti nonton filmnya Stainley Kubrick. Aku suka dengan shot-nya dan gaya penceritaannya yang unik.

Kalau disuruh milih antara Hollywood dan European Cinema, pilih yang mana?

Lebih suka dengan european film sih. Beda banget feel-nya dan narasinya pun selalu beda dari film-film Hollywood. Barangkali, ini juga yang membantu dan mempengaruhi aku dalam membuat narasi untuk film. Entahlah, aku merasa Hollywood itu filmfilmnya cenderung monoton dan feel-nya kurang. Mungkin, karena terbawa industri dan memang dipersiapkan sebagai produk komersil.

Kenapa tertarik berkecimpung di bidang penyutradaraan?

Sebenarnya dari dulu memang tertarik jadi sutradara. Tapi, kalau dulu itu kan di mata orang tua, seniman atau director itu sendiri enggak dianggap sebagai sebuah profesi yang menjamin masa depan. Apalagi saat itu, industri film di Indonesia sempat mati suri. Jadi, mungkin untuk masukin anak sulungnya ke sekolah film itu bagi mereka agak beresiko. Terlebih, ketika ngeliat anak-anak film itu gayanya nyeleneh. Ya, akhirnya aku pilih alternatif kedua, yakni jurusan arsitektur. Sebenarnya banyak hal di arsitektur dapat aku terapkan dalam kerja kreatif film. Di arsitektur, aku belajar cara membangun konsep, research, desain, dan cara pengaplikasiannya. Cara bekerja dan berpikir di arsitektur itu terbawa sampai sekarang. Jadi, kalau lagi bikin project film atau project kreatif lainnya, pasti pola pikirnya hampir sama dengan arsitek.

Apa nilai plus menjadi sutradara ketimbang aktris bagi Sigi?

Berada di posisi sutradara itu memungkin kita untuk jadi lebih kreatif dan terutama ikut involve lebih besar di dalam sebuah film. Beda kalau jadi aktris, kita hanya disodorin naskah dan harus mempelajarinya serta hanya sebatas memberi masukan dalam pengembangan karakter. Kita enggak bisa masuk ke hal-hal yang lebih general dalam film. Di film, sutradara itu adalah kaptennya. Dia yang take everything dan dengan visinya, ia bisa memimpin sebuah tim yang solid. Dan aku pikir, peluang terbesar untuk berkarya justru datang saat aku menjadi sutradara. Semua orang pasti ingin berkarya. Ingin dikenal, bagaimana cara kita bercerita dalam sebuah film dan bagaimana gaya penyutradaraan kita. Dengan menjadi sutradara, aku bisa mendapatkan kepuasan di film secara emosional, visual, dan audio. Tentu banyak medium lagi yang bisa dieksplor dari posisi director.

Boleh ceritakan project pertama Sigi sebagai seorang sutradara?

Pertama kali itu dapat tawaran untuk menyutradarai itu untuk sebuah video klip musik. Aku langsung excited dan mengiyakan tawaran tersebut. Produksi video klip itu pun sangat singkat, hanya dalam hitungan hari saja. Meski begitu, kesempatan ini bagiku sangat langka dan sulit datang untuk kedua kalinya ke aku yang belum punya banyak pengalaman dan latarbelakang pendidikan film.

Sulitkah menyutradarai film itu?

Enggak ribet. Kalau kita melakukan sesuatu tanpa merasa dibebani, itu artinya memang you belong there. Seberat-beratnya masalah, kalau kita jalani dengan senang dan passionate pasti akan dimudahkan jalannya. Aku ini sebenarnya hanya modal nekat saja bikin film. Saat pertama kali aku directing, itu sudah bikin aku enjoy banget dengan pekerjaan tersebut. Membuat aku penasaran dan nagih lagi untuk bikin film pendek. Syuting yang cuma 3 hari saja itu udah kerasa enaknya. Apalagi pas liat hasilnya.

Dengan menjadi sutradara, aku bisa mendapatkan kepuasan di film secara emosional, visual, dan audio. Tentu banyak medium lagi yang bisa dieksplor dari posisi director.”

Darimana Sigi mendapatkan ilmu penyutradaraan?

Dulu sempat ngambil short course untuk editing saja sih serta beberapa basic komposisi dan knowledge untuk fotografi dan sinematografi.

Dari sekian film yang pernah melibatkan Sigi, project film apa yang paling berkesan?

Yang paling berkesan adalah waktu syuting film Rumah Dara. Di film ini juga akhirnya aku kenalan sama Timo yang juga banyak memberi aku motivasi untuk jadi sutradara. Jujur, aku belum pernah berada di set film dengan sutradara senekat Timo. Ia ingin menawarkan suatu yang beda dan punya goal untuk bikin film yang bagus. Dengan suasana produksi semacam itu lah yang memotivasi aku. Kalau dia aja berani mengambil resiko, masak aku mau main aman terus. Oleh karena itu, ketika ada tawaran jadi sutradara datang, aku langsung mengambilnya.

Tentang awal karir Sigi terjun ke dunia modeling, apakah itu juga merupakan salah satu impian kamu selama ini?

Enggak. Justru di awal-awal, aku belum kepikiran untuk terjun dunia model. Dulu aku itu anak basket. Pokoknya sporty abis. Sebagai anak sekolahan, aku enggak pernah punya kesempatan untuk mencicipi gaya hidup yang diinginkan. Ada teman-teman yang bawa barang-barang branded yang aku pengen. Tapi untuk beli itu kan mahal banget dan enggak mungkin juga minta sama orang tua, karena orang tuaku itu selalu menekankan kesederhanaan dan hemat. Kalau minta
dibelikan sesuatu, tentu aku harus punya prestasi tertentu di sekolah. Dulu pas langganan Majalah Gadis, aku lihat kompetisi Gadis Sampul dan tertarik ikut, karena lihat sponsornya yang banyak. Hadiah-hadiah yang diinginkan sama remaja saat itu ada di Gadis Sampul. Dari sanalah kemudian aku pasang target untuk jadi finalis Gadis Sampul. Saat itu, aku hanya sebatas berpikir untuk dapat hadiah. Masih pendek pemikiran saat itu. Kalau jadi finalis kan, hadiah-hadiah dari sponsor sudah lumayan buat aku. Tapi dasar rezeki enggak kemana, aku dapat juara satu. Dan dari sanalah, tawaran untuk modeling berdatangan. Dari sana juga, aku mulai dapat honor pertama dan bisa kesampaian untuk beli sesuatu yang diinginkan. Kemudian akhirnya modeling ini keterusan, sampai aku dapat kesempatan modeling ke Hongkong.

Apakah akhirnya sempat terlintas niatan untuk memiliki karir profesional di dunia model begitu?

Jujur, dulu belum ada pemikiran yang panjang. Maklum anak sekolahan, enggak pernah yang namanya melangkah dengan dua kaki. Pasti benar-benar satu kaki di modeling dan satu kakinya lagi di sekolah. Jadi, aku coba-coba saja semua kesempatan yang ada. Aku belum berpikir untuk fokus serius di satu bidang. Tapi, dari pengalaman-pengalaman itulah akhirnya yang membentuk karakter diri aku sendiri. Melalui modeling, mental aku ditempa dan itulah aku bisa melihat dunia luar serta belajar mandiri. Aku menjadi lebih apresiasi terhadap segala pekerjaan dan pencapaianku. Aku juga bangga dengan honor dari pekerjaan, aku bisa membiayai sendiri kuliah dan kehidupanku.

Kamu sempat berkarir di arsitektur kan? Lantas kenapa tidak diteruskan?

Aku sempat berkarir di bidang itu, namun akhirnya aku memilih untuk fokus di dunia entertainment. Bukannya enggak senang dengan pekerjaan arsitek, tapi karena network yang aku bangun selama ini sebagian besar berasal dari dunia modeling dan entertainment, jadi banyak kesempatan yang aku dapatkan di sini. Kalau aku di arsitek berarti aku harus membangun lagi jejaring dari awal di bidang tersebut. Aku pikir, kenapa enggak dimanfaatin aja jejaring di modeling yang sudah lama aku bangun.

Dulu, Sigi senang mencoba semua hal, namun kini nampaknya hanya fokus pada satu bidang profesional saja. Bagaimana proses itu bisa terjadi?

Ada satu masa, di mana kita bisa mencoba segala sesuatu, namun di satu titik kita akan sampai pada masa, dimana kita harus fokus pada satu hal saja.

Ada impian yang belum terwujud?

Bikin film panjang layar lebar dan bisa ikutan triathlon, hahahaha..

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri