Shine Bright Like A Pearl- Ni Luh Putu Citawati

Orang-orang mungkin lebih mengenal billboard Ubud Property yang wara-wiri di seputaran Ubud, ketimbang sosok wanita di balik kesuksesan usaha properti tersebut. Ia adalah Ni Luh Putu Citawati, wanita yang lebih suka disapa Putu ini berduet dengan suaminya Ramon Genz yang berdarah Jerman, dalam membangun usaha properti yang benar-benar berawal dari titik nol tersebut.

Kini wanita kelahiran Kayumas, 8 Januari 1982 itu tengah mengemban misi untuk mensosialisasikan keindahan mutiara ke tengah-tengah perempuan Indonesia, khususnya perempuan Bali. Lady’s Bazzar adalah ruang bisnis sekaligus letupan passion-nya terhadap dunia mutiara. Wanita yang berdomisili di daerah Tegalalang, Ubud itu memang tipikal wanita aktif yang tidak pernah bisa diam.

Akhir tahun 2011 lalu, wanita yang hobi travelling dan membaca itu bergabung dengan sebuah LSM Internasional bernama Bali International Women’s Association (BIWA) demi menyuarakan wanita dan anak-anak Bali. Putra Adnyana Reporter Money & I Magazine menemui Putu usai kesibukannya menggelar luncheon untuk BIWA dalam rangka penggalangan dana. Berikut beberapa perbincangan inspiratif bersama putri dari Ni Made Kuandi dan I Made Sudana ini.

Apa yang membuat Anda terjun menggeluti dunia usaha?
Dari kecil saya sudah dididik untuk hidup mandiri. Mungkin karena keadaan juga, saat itu orang tua saya harus pindah tugas ke Lombok. Jadilah saya tinggal di Denpasar dengan nenek dan paman saya. Sebagai cucu pertama dalam keluarga Bali, saya memang tidak diijinkan untuk ikut pindah bersama orangtua. Keluarga kami tergolong keluarga yang sederhana. Saya masih ingat untuk menambah uang saku sekolah, saya kelilingberjualan sayur dan buah ke pasar dan warung-warung. Selain karena doktrin dari paman, bahwa hanya diri kita sendiri yang bisa menolong untuk keluar dari kesusahan, saya termasuk tipikal orang yang tidak bisa diam alias aktif.

Usaha pertama Anda?
Toko pertama yang saya buka itu justru toko yang menjual perlengkapan sembahyang Umat Hindu di Bali. Saat itu saya melihat kondisi wanita-wanita Bali modern, terutama para wanita karir yang punya paradigma baru dalam berbelanja kebutuhan untuk upakara. Seiring perkembangan jaman dan padatnya rutinitas, terkadang membuat mereka tidak sempat untuk ‘mejejahitan’ sendiri. Bahkan ada yang ogah untuk berdesak-desakan pergi ke pasar demi membeli segala kebutuhan persembahyangan tersebut. Jadilah, Toko Alam Puja didirikan sekitar tahun 2004.

Lalu, bagaimana ceritanya hingga Anda beralih ke bisnis perhiasan mutiara dan property?
Saya sempat menetap di Lombok sampai akhir tahun 2003 menjalankan bisnis boutique resort bersama suami, sebelum akhirnya pulang ke Bali. Kebetulan diajak bekerjasama dengan salah satu penduduk lokal disana untuk membuka tambak mutiara, dan secara perlahan juga fasilitas laboratoriumnya. Pada saat bersamaan, kami juga mulai merintis bisnis property, kedua binis yang baru kami rintis tersebut membutuhkan perhatian yang sama. Jadilah saya dan suami setiap minggu pergi bolak balik Ubud – Lombok.

Kenapa Lombok terdengar lebih punya prospek dalam hal produksi mutiara ketimbang Bali?
Selain kondisi laut yang bagus, Lombok memiliki ruas pantai yang lebih panjang dibandingkan dengan Bali. Lombok memang terkenal sebagai penghasil mutiara berkualitas tinggi, terutama mutiara air lautnya. Tingkat kesuksesan pembiakan mutiara sangat bergantung pada kondisi laut, seperti kedalaman, temperatur/suhu, tingkat kadar garam, aruslaut, danbeberapa faktor lainnya. Dan beberapa ruas pantai di Bali tidak memiliki kriteria tersebut

Bukankah ada juga mutiara air tawar?
Ada dua macam mutiara, yakni mutiara air laut dan mutiara air tawar. Kalau mutiara air laut diproduksi dilaut, mutiara air tawar diproduksi disungai atau danau. Dari segi kualitas dan harga, mutiara air laut lebih mahal. Apalagi, jika kita mendapatkan warna mutiara yang keemasan itu harganya bisa sangat tinggi, bisa ratusan juta tuh! Selain emas, kerang yang dikembangbiakan jenis ini juga menghasilkan mutiara hitam dan putih. Beda dengan mutiara air tawar yang warnanya bisa bervariatif seperti ungu, merah muda dan putih. Yang membuat mutiara laut lebih mahal juga dapat dilihat dari ukurannya. Semakin besar dan semakin bulat bentuk mutiaranya itu sudah pasti harganya bakal gila-gilaan. Di samping itu. Kita juga bisa melihat seberapa muluskah permukaan mutiara tersebut. Bahkan mutiara yang berkualitas pun dapat terlihat dari pancarannya. Biasanya permukaan mutiara tersebut akan bersinar dengan sendirinya. Nah itu bisa jadi faktor yang menentukan tingkat kemahalannya.

Berapa banyak mutiara air laut yang bisa Anda peroleh saat panen?
Memang untuk mendapatkan sesuatu yang berkualitas butuh kesabaran. Bayangkan untuk panen mutiara air laut saja, kita harus betah menunggu hingga empat tahun, dan itu pun satu kerang hanya mampu menghasilkan satu mutiara saja. Beda dengan mutiara air tawar yang sudah bisa dipanen setiap 4 atau 6 bulannya. Dan satu kerang bisa menghasilkan puluhan mutiara.

Dimana Anda belajar segala hal tentang bisnis ini?
Saya sebenarnya nggak ada basic ataupun wawasan tentang pengembangbiakan kerang dan mutiara. Saya terjun ke bisnis ini pun karena melihat prospeknya. Saya lebih banyak belajar dari internet, buku-buku dan sharing pengalaman dengan orang-orang yang pernah berbisnis ini. Maka dari itu saya sampai membuka lab sendiri, agar bisa fokus untuk menghasilkan bibit kerang yang bermutu dan sekaligus meningkatkan kualitas produksi mutiara. Sayangnya, tambak dan laboratorium harus saya tutup pada 2009 lalu, karena ada perbedaan prinsip antara pihak kami dan pihak yang di Lombok serta SDM yang makin minim. Karena itu koleksi perhiasan mutiara air laut yang kami pajang ditoko relatif sedikit dibandingkan dengan mutiara air tawar yang disupply dari China dan Hong Kong.

Tapi Anda tetap fokus dengan passion Anda dalam bisnis ini?
Pastinya iya, karena melihat perempuan di Bali khususnya, saat ini begitu concern dengan style dan mode. Dengan tambahan aksesoris atau perhiasan mutiara akan membuat tampilan terlihat lebih anggun dan elegan. Dalam waku dekat ini, Lady’s Bazaar, butik yang saya dirikan, juga akan me-launching brand fashion kita sendiri.

Apa yang Anda lihat dari mutiara?
Mutiara adalah batu permata yang lembut, yang mampu mengeluarkan sisi feminim dan inner beauty pada perempuan yang memakainya. Sederetan wanita terkenal dan celebrity dunia sangat menganggumi keindahan mutiara, sebut saja Lady Diana, Jacqueline Kennedy, bahkan hingga Ratu Elizabeth II. Disinilah tantangan yang saya lihat dibisnis mutiara, memperkenalkan kepada wanita Bali khususnya, untuk tampil anggun dan elegan dengan mutiara, ketika menghadiri undangan atau dengan kebaya saat ke Pura, atau untuk para gadis dan anak-anak juga bisa memakai aksesoris berbahan mutiara. Dan kabar gembiranya adalah harga yang ditawarkan sangat terjangkau.

Bagaimana dengan target market Anda untuk bisnis ini?
Ya masih susah untuk bisa menarik atensi pasar lokal terhadap mutiara. Ada beberapa tapi tidak terlalu banyak, ya itu tadi karena stigma mutiara itu mahal. Malah bule-bule yang lebih banyak datang ke toko saya untuk membeli perhiasan mutiara. Aneh ya, padahal Indonesia itu memiliki potensi SDA penghasil mutiara yang melimpah, terutama di daerah bagian Timur. Sayangnya yang lebih banyak mengapresiasi mutiara itu sendiri adalah orang luar, bukan orang Indonesia. Saya prihatin untuk itu.

Harga perhiasan mutiara itu berkisar berapa?
Bagi para pemburu mutiara air laut mungkin mengeluarkan kocek agak lebih, apalagi kalau yang mutiara emas itu bisa ditaksir puluhan juta deh. Tapi untuk perhiasan mutiara yang single, artinya hanya satu bandul yang dikalungkan itu bisa mencapai 700 ribu. Tapi untuk mutiara air tawar hanganya terjangkau kok, malah yang 30 ribu rupiah saja sudah bisa mendapatkan anting-anting yang chic di toko saya.

Konsep Lady’s Bazzar yang Anda dirikan sebenarnya seperti apa?
Memang konsep awalnya saya ingin menjadikan Lady’s Bazzar sebagai toko mutiara, tapi karena potensi pasarnya lemah untuk lokal, maka saya barengi dengan produk fashion seperti dress, baju dan lain-lain. Itu juga lantaran ada teman yang supply produk fashionnya, maka konsepnya jadi saya rubah. Sekarang ada dua toko yakni di Denpasar dan Seminyak. Kalau di Seminyak mungkin pangsa pasar untuk perhiasan mutiara masih ada, karena banyak bule ekspatriat di sini. Kalau di Denpasar, fashion yang lebih ditonjolkan. Sekarang saya berkeinginan untuk membuat brand sendiri. Beberapa desain sudah ada yang direalisasikan. Tapi kita lihat nanti, masih dalam proses untuk menuju ke sana.

Bagaimana dengan Ubud Property?
Ubud Property itu awalnya kebetulan saja. Kami benar-benar blank soal properti, bahkan rencana untuk mendirikan bisnis ini pun tak sekalipun terbesit di benak saya. Begini, saya kan membangun rumah dengan suami saya di daerah Tegalalang. Kemudian kami banyak bersentuhan dengan masyarakat setempat, pokoknya sudah mampu melebur sebagai bagian dari masyarakat di sana. Suatu hari, ada orang lokal yang menjual tanahnya kepada kami karena dilihatnya suami saya adalah seorang bule yang barangkali bisa membantunya untuk itu. Kami pun bingung karena sama sekali nggak ada niat untuk beli tanah. Setelah dipertimbangkan akhirnya kami membeli tanah itu. Anehnya setelah membeli tanah tersebut, banyak warga di sana yang berduyun-duyun datang ke rumah saya untuk menjual tanah mereka, dengan harapan mungkin suami saya bisa membantu untuk menjualkannya ke pihak-pihak yang lain. Hampir segepok fotokopi sertifikat tanah waktu itu terkumpul di rumah saya. Dari sanalah saya dan suami mulai berpikir gimana kalau kita bikin jasa properti, maka tercetuslah Ubud Property.

Termasuk menjadi developer?
Kami belum sampai kesana, masih sebatas menjual atau menyewakan properti. Karena banyak juga ekspatriat yang menjual villa atau rumahnya di Bali saat mereka sudah tidak stay di sini lagi.

Anda lebih menyukai bisnis mutiara atau properti?
Ya, bisnis properti dan mutiaranya hampir berbarengan. Kita benar-benar mulai dari nol untuk semua itu. Selagi kita bisa mengerjakan, kenapa nggak dicoba. Kini, suami saya yang lebih concern untuk bisnis properti, sedangkan saya lebih fokus dengan bisnis mutiaranya, namun kita saling support dan mengisi satu sama lain. Kalau dibilang mana yang lebih saya sukai, tentu masing-masing punya keunggulan tersendiri ya. Property itu lebih ke investment dan quality of life, sedangkan mutiara lebih ke passion saya. Kedua bisnis tersebut telah memberikan saya pengalaman dengan nilai tinggi yang berbeda-beda.

Anda juga menyempatkan diri untuk ikut serta dalam Non-Government Organization seperti Bali International Women’s Association (BIWA) ini. Bagaimana ceritanya?
Akhir-akhir ini saya punya banyak waktu luang, jadi saya pikir ini merupakan saat yang tepat mencurahkan energi saya untuk membantu sesama. Saya dari dulu memang suka berorganisasi, sehingga mengikuti Bali International Women’s Association (BIWA) merupakan hal yang tepat. Saya selalu ingin berbagi, karena saya tahu bagaimana rasanya hidup susah. Buat saya, tidak harus kaya baru kita bisa berbagi. Sebelum akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk ikut BIWA, saya sempat melakukan riset terlebih dahulu. Karena saya memang berniat untuk mencari LSM yang benar-benar concern dengan permasalahan wanita dan anak. Saat itulah saya mengetahui keberadaan BIWA. Track record-nya nggak usah diragukan lagi, sudah berdiri sejak 1974.

Pengalaman apa yang Anda dapatkan di BIWA?
Awal-awalnya sempat kaget, kok di BIWA ini banyakan bule-bule kaum ekspat. Masih sedikit orang lokal yang berpartisipasi di sini. Ini yang membuat saya bingung kenapa orang luar lebih care terhadap kondisi orang-orang kita ketimbang saudaranya di sini. Di BIWA malah saya belajar banyak tentang kondisi perempuan dan anak Bali yang di pelosok-pelosok. Mata saya lebih terbuka setelah melihatnya. Melihat kondisi pendidikan untuk anak-anak Bali yang kian memprihatinkan, terutama di desa-desa seperti Kintamani dan sekitarnya.

Apa impian atau harapan yang ingin Anda wujudkan ke depan?
Saya ingin tetap berkarya karena itu adalah modal yang nggak bisa kita beli. Banyak orang yang nggak seberuntung kita dalam hal mencari nafkah. Selagi saya sehat, semoga saya bisa terus berkarya dan berbagi. Dan semoga brand fashion saya dapat direalisasikan sesegera mungkin. Paling lambat akhir tahun sudah bisa diwujudkan.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri