Piping – The Magic Wave

Berbeda dengan Hawaii yang hanya memiliki masa 6 bulan untuk melakukan surfing, di Indonesia surfing bisa dilakukan sepanjang tahun. Saat musim angin barat, surfing dimainkan di Timur, begitu pula sebaliknya. Di Bali sendiri terdapat sekitar 150 titik ombak yang dapat dijadikan tempat bermain surfing, dan kalau kita berbicara olahraga extreme tersebut, kita tidak akan bisa lepas dari sosok pria yang satu ini. Ia adalah Irawan atau yang lebih akrab disapa Piping. Pria yang tengah mengabdikan hidupnya untuk berjibaku dengan ombak tanah air.

Kecintaannya akan surfing tumbuh sejak tahun 1984, justru lewat sebuah pengalaman pahit ketika dirinya terseret arus pantai Kuta, seorang bule Australia menyelamatkannya. Ditengah masa kritisnya, ia melihat orang-orang yang tengah surfing di pantai Kuta justru tengah asyik menari diatas ombak dan bermain dengan arus. Bak melihat dunia yang baru, ia melihat orang-orang yang tengah surfing tersebut memberikannya ilham. Beberapa waktu berselang, Piping kemudian memutuskan untuk membuka usaha penyewaan surfboard. Mula-mula ia membeli surfboard ini dari uang saat sebelumnya menjadi supir taksi, usahanya saat itu belum mendapat banyak pesaing, karena memang diera itu penyewaan papan selancar sangat sedikit. Usahanya berkembang sampai dirinya memiliki 80 surfing board untuk disewakan. “Itu yang enak, bisa kerja sambil main surfing,” tuturnya ketika ditemui Anton HPT reporter Money & I.

Ditahun 1986, Piping berangkat ke Swiss. Disana kecintaan akan Indonesia semakin terbuka lebar, walaupun di Swiss nama Indonesia tidak familiar, namun kebanggaan akan Indonesia semakin tumbuh dinegeri orang. “Aku ingin lihat Indonesia dari luar Indonesia, dan ini menumbuhkan rasa nasionalismeku akan Indonesia,” paparnya.

Saat kembali ke Indonesia, diakhir tahun 80-an, ia melihat potensi surfing belum tergarap dengan serius, olahraga ini masih belum dilirik banyak orang kecuali turis-turis Australia. Padahal menurutnya, selama ini ombak dan angin adalah kekuatan dari Tuhan yang diberikan kepada bangsa ini, namun belum dimanfaatkan dengan baik. Demi memajukan surfing ia akhirnya menjadi fotografer surfing. “Ini agar orang tahu, dan juga saat orang surfing, mereka pasti ingin diabadikan,” terangnya.

Piping pun belajar teknik fotografer surfing, namun menjadi fotografer surfing saat itu sangat sulit, ia saat itu bisa menghabiskan 1 box film yang harganya berkisar Rp 60 juta. Sekalipun merugi, namun dirinya merasa keuntungan yang sebenarnya berasal dari publikasi yang ia hasilkan, sehingga kawasan yang belum popular sebagai tempat surfing menjadi dikenal sebagai salah satu spot selancar di Indonesia. “Kalau dihitung material, aku rugi, tapi coba lihat setiap kita mengadakan event, tempat itu langsung boom. Sehingga masyarakat sekitar langsung mendapat rejeki” terangnya.

“Sebagai contoh, di Pacitan itu sebelum ada surfing harga tanah disana itu Rp 4-5 juta, tapi setelah kita expose, tahu berapa harganya sekarang, Rp 50-200 juta,” lanjutnya kembali.

Di tahun 1999 demi eksistensi dan promosi olahraga yang satu ini, ia membuat media surfing pertamanya. Berlanjut ditahun 2002 ia membuat medianya yang kedua Magic Wave, media surfing gratis. Keduanya masih eksis saat ini dan seolah menjadi bacaan wajib para peselancar. Media ini menjembatani komunitas surfing dari Aceh hingga pulau Rote. Mereka saling tahu perkembangan surfing dunia khususnya Indonesia,” ungkapnya. Dan Magic Wave sendiri untuk versi digitalnya sudah di download hingga 110 negara.

Hingga saat ini Surfing masih menjadi olahraga yang digemari kelompok minoritas, Piping menyatakan dari 230 juta lebih orang Indonesia, mungkin baru 3 juta orang yang tahu akan surfing, itu pun baru 500 ribu orang yang tergabung dalam komunitas surfing. Hal ini karena pemerintah belum memberi perhatian yang serius, selain sebagai olahraga industri, surfing di Indonesia juga masih banyak dikuasai oleh brand-brand asing.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri