Perang Pandan Tenganan

Setiap Sasih Kelima dalam penanggalan Kalender Bali, warga Desa Adat Tenganan Pegrisingan – sebuah desa tertua di Bali, di Kabupaten Karangasem menggelar sebuah ritual unik yang dikenal dengan sebutan Perang Pandan atau ‘Mekare-kare’. Upacara ini digelar tiap tahun sebagai penghormatan kepada Dewa Indra, Sang Dewa Perang. Dalam ritual Perang Pandan, dua pemuda akan saling berhadapan. Di kedua tangan mereka tergenggam daun pandan berduri dan sebuah tameng dari anyaman rotan. Tanpa basa-basi mereka pun saling melawan satu sama lain. Saling memukul punggung lawan. Seusainya, hanya raut keceriaan yang terlihat. Tiada dendam, terlebih amarah.

Usai berperang pandan, luka-luka di sekujur tubuh pemuda akibat duri daun pandan pun segera diobati dengan obat anti septik tradisional yang berasal dari umbian-umbian. Keunikan lainnya ialah, sebelum memulai Perang Pandan ini, para pemuda juga diwajibkan menenggak tuak yang telah disucikan. Kehadiran gadis-gadis asli Tenganan yang mengenakan kain tenun khas Pegrisingan pun menjadi salah satu daya tarik di sana. Tradisi yang dalam perkembangannya menjelma sebagai sebuah festival budaya ini juga memberikan ruang bagi warga di luar Desa Adat Tenganan Pegrisingan atau bahkan turis mancanegara untuk ikut berpartisipasi, merasakan sensasi berperang pandan secara langsung.

By. Putra Adnyana

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri