Patagonia Ride

Perjalanan 4500km (Chile) Menuju THE END OF THE ROAD menggunakan motor dan dibayar oleh pemandangan yang tak pernah Anda bayangkan.

Riding keliling Eropa adalah salah satu yang ada di bucket dream saya. Kelihatannya enak, naikmotor hop on dari desa ke desa, udara yang bersih serta sejuk, dan jalanan aspal yang mulus. Tapi Patagonia? I have no idea, di mana Patagonia itu ? Judul turnya menantang Riding To The End Of The World. Wow! Okelah, tidak ke Eropa, namun kalau dilihat dari gambar yang saya temukan di internet, kelihatannya menarik. Dan benar-benar kita ifnish di kota ujung selatan di Amerika Selatan, literally the end of the world.

Setelah ‘clear’ dengan jadwalnya, saya kemudian mendaftar. Aji, pihak penyelenggara tur sempat ragu dengan saya. Dia tidak mengenal saya sebagai ‘orang motor’, tidak pernah ikut touring naik moge [motor gede]. Aji dari Matari Tour sempat bertanya, motor apa yang saya pakai sehari-hari? Saya bilang Vespa! ^_^

Tapi kemudian saya meyakinkan dia, bahwa saya sudah naik motor sejak kecil. Jadi seharusnya tidak akan ada masalah. I can handle bike, saya bilang. Dan dulu saya pernah punya BMW 650GD. Jadi saya familiar dengan motor touring adventure dari BMW ini.

30 Hours Flight To Ride 4,500 Km To The End Of The World

Penerbanganya sadis! Dari Jakarta ke Amsterdam transit di Kuala Lumpur. Transit Amsterdam lanjut ke Buenos Aires. Lanjut Santiago, kemudian menyambung dengan pesawat domestik ke Puerto Mont, sebuah kota kecil di pinggir danau, tempat start kita. Total waktu di pesawat terbang kurang lebih 30 jam sendiri! Untuk perjalanan panjang seperti ini, obat tidur is a man best friend!. Total rombongan ada 16 riset dari beragam kota di Indonesia. Dari Ball ada Mas Yeyeg, baru kenalan ketika ketemu di Bandara Soekarno-Hatta. Rata-rrata adalah pemain moga berpengalaman. Saya paling ‘hijau’.

Let The Journey Begins

Hari pertama merupakan pengenalan motor. Kita Cuma ride 250km saja. Jalannya wow! Mulus, lebar dan sepi. Tikungannya lebar-lebar serta pemandangannya super wow!. Problem pun muncul, saat saya punya kebiasaan menaruh kaki di pedal rem. Ini kebiasaan lama. Sedari kecil saya naik motor, kaki saya taruh di pedal rem, supaya setiap saat bisa nginjak rem. Ini kebiasaan yang salah, karena ini mengakibatkan kanvas rem jadi aktif. Lampu rem menyala terus dan dikhawatirkan akan mengakibatkan rem “haus”, sehingga ketika nanti benar-benar diperlukan, remnya tidak blong. Mas Yeyeg, kawan dari Bali mengatakan bahwa itu hanya masalah psikologis saja. Kita ketakutan, jadi kakinya ditaruh di pedal rem. Dan lampu rem yang menyala ternyata membuat kagok teman di belakang. Saya harus mengubah kebiasaan lama ini. Problem berikutnya adalah  teman-teman saya itu cepat-cepat sekali. Saya mencoba mengejar, kadang sampai kecepatan 170 km/jam. Memang jalannya mulus dan sepi. Namun 170 km/jam, di luat comfort zone saya.

Ridding at Your Comfort Zone!

“Ridding at your comfort zone” demikian nasehat Roberto, road captain dari rombongan. “Jangan coba mengejar,” demikian nasehat teman-teman yang lain. Karena ketika kita mencoba mengejar rombongan yang di depan, maka kecepatan yang di depan. Dan ketika kita memaksakan, kita riding diluar zona nyaman kita. Itu yang menyebabkan stres. Banayk kecelakaan yang terjadi karena kesalahan jenis ini. Jadi  pelajaranb berikutnya, always riding at comfort zone! Saya pun mulai tenang. Mulai enjoy perjalanan. Sesekali saya ikut rombongan depan, namun kalau sudah mulai di belakang, saya tidak mencoba mengejar-ngejar lagi. “Fantastic Scenery! – Jalanan yang sepi, aspal yang mulus, tenaga motor yang besar plus lanskap yang fantasis. Jadilah riding experience yang WOW! “Kita ini harus bersyukur sama Tuhan. Bisa riding dan melihat dunia yang ajaib”, demikian kata teman saya dari Sulawesi, Syamsir. Saking terpesonanya dia dengan pemandangan alam selama perjalanan.

Heran sekali saya, di Chile dan Argentina ini rata-rata jalanan lebar-lebar, mulus-mulus (ada beberapa segmen yang merupakan gravel), dan anehnya sepi. Buat apa bikin jalan lebar-lebar, namun tidak ada yang lewat, demikian pikir saya. Kontras dengan jalanan di Jawa dan Bali, yang padat dan sempit.

San Carlos De Bariloche

De Bariloche adalah salah satu contoh kota kecil yang kita singgahi dalam perjalanan. Kota kecil yang indah dengan plaza yang semarak di musim pasar, serta keramahan Latin. Yang saya lihat aneh, ketika mendapati sebuah patung yang nampaknya merupakan patung seorang pahlawan di kota itu. Namun kudanya yang ditunggangi patung tersebut tidak gagah! Dia seperti menaiki keledai, melainkan mustang.

Gravel

Tantangan berikutnya adalah gravel. Ratusan kilometer harus ditempuh di tengah debu, karena jalanannya adalah gravel, gabungan antara tanah liat dan kerikil. “Kalau di gravel naik motor sih kecil, saya biasa. Di Bali kan suka ikut dengan anak-anak kantor main ke hutan. Kalau pake KTM, i’m okay. Tapi pakek motor besar, dan ratusan kilometer lagi ? “Gravel terbukti menguji nyali, fisik dan skills.

Angin

Dari seluruh tantangan selama perjalanan. Ini yang paling mengerikan. Bikin stres! Tidak pernah kita akan mengalaminya di Indonesia. Angin yang bertiup kencang dari samping bisa mendorong motor keluar jalurnya.

Ushuaia dan Antartic King Crab

Ushuaia merupakan akhir dari perjalanan ini. Setelah riding hampir 4,000 km (13 hari), kita sampai di Ushuaia, sebuah kota pelabuhan paling selatan di Amerika Selatan. Ini kota di ujung dunia. Dan tips saya kalau kebetulan Anda mampir ke Ushuaia, pergilah ke kota, cari King Crab. Kepiting raksasa, yang kalau kita beli satu bisa makan berdua. Cuma direbus saja. Yummy! Vey recomended. Di kota pelabuhan ini, kita bisa mencapai Malvinas (kata orang Argentina) atau Falkland (kata orang Inggris).

Jadi, bayangkan tentara Inggris harus berlayar ke ujung dunia untuk merebut kembali Falkland yang diakui milik Argentina. Bayangkan logistiknya ? Mungkin pihak Argentina tidak menyangka bahwa Inggris akan keukeuh (ngotot) mempertahankan kepulauan kecil di dekat Antartika ini dengan mengirimkan armadanya ke ujung dunia. (literally ujung dunia).

Dream List

Akhirnya, salah satu impian dalam bucket dream saya tercapai sudah. So keep your dream list! Suatu ketika anda akan meraihnya. Saya mungkin tidak akan kembali lagi ke Patagonia (30 jam flight is too much bro!), tapi saya masih keep the list buat riding keliling Eropa.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter