Mira Andayani – Seizing the Opportunity Through Songket Jumputan

Dari yang dulunya model, sekarang designer, dari yang awalnya berlenggak lenggok diatas catwalk, kini berkreasi dibelakang panggung. Inilah fase perjalanan seorang wanita muda yang kini sukses membangkitkan kembali warisan budaya yang telah lama ditinggalkan. Yup, songket jumputan yang dulunya kelas dua, kini selama beberapa tahun terakhir menjadi incaran para ibu, ketika perempuan kelahiran Pandak-Tabanan, 10 Juni 1980 ini me-reborn konsep songket yang biasanya digunakan sebagai sarung, disulapnya menjadi dress dan kebaya yang cantik.

Inilah peluang yang ditangkap oleh pebisnis muda Ni Ketut Mira Andayani ini. Didorong oleh celetukan suami yang berpikir bahwa songket tidak akan laku di Jakarta, maka ide menjadikan songket sebagai pakaian muncul dibanaknya, dan tidak salah kemudian ketika instingnya tersebut ternyata berbuah manis.

Kesuksesannya saat ini memang tidak dicapainya secara instan, awalnya dimulai ketika Mira mengawali karirnya sebagai model. Terbiasa membawakan berbagai jenis pakaian hasil rancangan para desainer berpengalaman, memepengaruhinya dalam merancang berbagai jenis pakaian, meski dimulai secara otodidak. Kecintaannya akan dunia fashion ini tersalurkan dengan mulai merancang desain pakaian yang digunakannya sehari-hari. Namun rupanya, hasil rancangannya mencuri perhatian banyak orang, dan akhirnya menjadikan Mira lebih yakin untuk menjadi seorang desainer. Dan bukan hanya kebaya, Mira juga menjahitkan pakaian seragam, menyediakan aksesori, selendang, long torso, sandal serta semua jenis busana sembahyang untuk pria atau wanita segala usia.

Bagi Mira, kebaya adalah favorit pencinta fashion di tanah air, perempuan khususnya tidak pernah berhenti membicarakannya. Mulai dari mode, warna, bahan hingga aksesori yang dikenakan. Kepada Aan Evarudin, di salah satu klumpu restauran Baruna yang juga miliknya, wanita ini menceritakan bagaimana dirinya merajut kesuksesan di bisnis ini.

Ceritakan, bagaimana awalnya perjalanan Minardi Butik hingga meraih popularitas seperti saat ini?

Jadi awalnya, kita merintis usaha kuliner dulu, saya bersama suami memulainya dari mendirikan restauran Ikan Bakar Baruna ini, sekarang ada tiga cabang, satu di Renon ini dan satu lagi di Sunset Road Kuta yang keduanya kita kelola sendiri, satu cabang lagi ada di kawasan Kebon Sirih Jakarta, cuma yang itu kita kerjasama, jadi konsepnya mirip franchise. Suami sendiri dulunya anak kapal, jadi setelah pulang berinvestasi dengan mendirikan usaha ini, jadi ini usaha sudah dirintis sejak kita pacaran dulu. Itu berarti sudah ada kira-kira dari 13 tahun yang lalu.

Dari kuliner ke butik, bagaimana keduanya bisa korelatif?

Seiring berjalannya waktu, kami berdua mengelola usaha restauran ini, tapi saya hobi bikin-bikin baju di rumah. Kemudian ada teman-teman yang datang dan minta dibikinin, bahkan sampai ada teman yang punya kakak di PDAM, dan ikut lomba busana minta dibikinin pakaian kepada saya, dan di lomba itu mereka keluar sebagai finalis dengan baju rancangan saya itu, waktu itu kebetulan saya sudah punya penjahit walaupun cuma satu. Karena finalis, kita bikin lagi untuk putaran final dan akhirnya menang, dari sanalah mulai yakin.

Kapan tepatnya momen ‘tipping point’ itu terjadi?

Itu kejadian sekitar 3 tahun yang lalu.

Sebenarnya belum lama ya, bagaimana hingga cepat sekali mengalami loncatan sampai membuka butik?

Iya, dari sana kemudian bikin kebaya, kebetulan ada teman yang punya butik, kita jual disana. Kita jahit berapa yang jadi kemudian kita supply ke butik itu. Tapi lama-lama suasana rumah juga semakin ramai, karena orang-orang datang minta dibuatkan pakaian. Perlahan kesibukan ini menyita waktu, dan mulai jarang datang ke restauran Baruna. Disini suami mulai protes, karena usaha restauran yang sudah jalan tidak dikelola. Akhirnya atas usul suami, ruang kerja kita pindah ke restauran Baruna di Renon ini, cuma awalnya dibelakang, jadi kalau ada yang datang dan minta dibikinin baju, jadi harus lewat restauran dulu, baru kemudian belakangan kita pindah kedepan ini dengan mendirikan butik.

Berdampak dengan performa restauran?

Omzet penjualan restauran Baruna sebenarnya sudah tidak seperti dulu, bahkan hampir setengahnya, mungkin karena mulai banyak pesaing, tapi dengan adanya butik Minardi ini, justru mendongkrak pendapatan kita.

Apa yang menjadi pembeda dari butik dan karya Anda?

Kita spesialis di songket Jumputan, jadi itu songket tenunan Bali yang dibuat dari benang-benang sutra, tapi untuk menjadikannya Jumputan, maka songket Bali tersebut kemudian di daur ulang kembali, dicelup, diikat-ikat dan dijumput, makanya dinamakan Jumputan, dan dikasih warna warna cerah, kemudian dijemur, dan proses itu dilakukan berulang-ulang. Semakin klasik dan kuno kain tersebut, maka semakin antik dan menjadi semakin bagus. Jumputan sendiri sebenarnya warisan tradisi dari Palembang, jadi saya sebut pertemuan Palembang dengan pulau Dewata Bali. Dulu songket ini sempat mulai ditinggalkan, harganya jatuh, satu sarung songket cuma Rp. 700 ribu, malah ada yang jual hanya Rp. 600 ribu saja ketika itu.

Dari mana anda mendapatkan kain-kain tersebut?

Kita ambil dari banyak tempat, dari pengrajin di Klungkung, Negara dan tempat-tempat lainnya. Kita kumpulkan dari berbagai tempat.
Bagaimana Anda mengenalkan produk songket yang mulai ditinggalkan ke masyarakat masa kini?

Kita sering ikut pameran dan juga dibantu oleh banyak pihak, termasuk dari pemerintah yang mengajak kita untuk ikut di Indonesian Fashion Week, disana peserta lainnya banyak dari kalangan desainer dan pengrajin senior. Disana ada juri yang justru membeli karya kita, songket jumputan ini, walaupun saat itu mereka tidak bilang kalau saya lolos ke Jakarta, karena pengumuman lolos disampaikan via e-mail. Namun akhirnya ya kita memang lolos mewakili Bali di ajang tersebut.

Di Jakarta, saya bawa banyak barang dari Bali, suami malah bilang, ngapain bawa songket ke Jakarta, karena pasarnya kan di Bali, dan disini pun dijadikan sarung. Celetukan itu justru bikin saya semakin tertantang dan ingin membuktikan, akhirnya songket itu saya jadikan dress dan saya pakai. Dan di pameran Indonesian Fashion Week tersebut, ibu-ibu di Jakarta pada suka, dan mulai beli, dalam satu dua hari pameran barang sudah habis terjual semua, padahal waktu itu bawa banyak dari Bali. Akhirnya suami berangkat ke Jakarta membawa satu dus lagi. Mulai dari situlah songket jumputan ini meledak lagi, dan dari sana juga banyak para desainer yang akhirnya mencari songket jumputan akhirnya ke butik kita ini. Sekarang satu songket saja harganya sekitar Rp. 1.2 juta, otomatis yang jumputan menjadi lebih mahal sekitar Rp. 1,8 jutaan, apalagi kalau sudah jadi kebaya, bisa mencapai 2 juta.

Dengan tingginya permintaan, apakah kemudian dijual masal?

Tidak, untuk di Bali sudah banyak butik-butik yang minta, tapi saya nggak supply, karena kalau sudah masuk ke butik-butik, nanti apa bedanya dengan kain songket yang lain. Jadi kalau kamu mau songket jumputan yang seperti punya saya, maka harus datang kemari. Tapi untuk yang luar Bali, kita layani, sekarang kita sudah kirim ke Jakarta dan Batam. Yang disana kita jual songketnya aja, nanti oleh desainer disana dijual atau dijahit kembali oleh mereka.

Menjadikan songket yang biasanya sebagai sarung menjadi dress, bukankah butuh skill khusus, dimana Anda belajar?

Dulu waktu Bali Fashion Week, saya jadi modelnya, malah di Indonesian Fashion Week saya yang jadi desainernya. Dan semua itu saya belajar secara otodidak, tidak pernah sekolah design, ngomongnya saja nggak kayak para profesional begitu, soal lekukan dan sebagainya ya saya pakai bahasa saya saja.

Dulunya malah pernah menempuh pendidikan pramugari di Jakarta, tapi tidak sampai selesai, karena di Jakarta itu ketemu suami, jadi kemudian nikah dan tidak selesai pendidikan pramugari tersebut. Dari masa pacaran sudah mengelola restauran Baruna ini, bahkan sempat buka cabang lain di Tabanan, tapi kita nggak bisa kontrol semuanya, malah kesempatan ada juga untuk buka di Nusa Dua atau daerah lain. Tapi mengurus butik ini saja sudah menghabiskan banyak waktu saya, belum lagi tamu-tamu yang datang juga sugesti, kalau nggak ada saya mereka nggak mau, padahal tukang jahit saya ini, mereka lebih hebat dari saya, mereka kan sekolah. Tapi tamu maunya sama saya, padahal nanti juga ujung-ujungnya kembali ke anak-anak lagi. Tapi semua ini intinya karena hobi, karena dulu berprofesi sebagai model dan banyak berteman dengan desainer senior seperti de Galuh, jadi banyak terpengaruh.

Dari songket, Anda membuat dress dan pakaian lainnya, ada produk diluar pakaian?

Diluar pakaian itu otomatis ada, karena sisa-sisa kain mulai kita pakai bikin tas, sandal atau sepatu, malah tukang jahit kita yang kasih ide mau dijadikan apa, dan bisa kita langsung jarit disini. Ada, tas yang pinggirannya songket dan pegangan tanggannya dari kulit sapi, ada juga yang dari Piton. Karena bahan-bahan sisa itu kan sebenarnya bahan-bahan yang bagus.

Songket jumputan ini cukup orisinil, setidaknya Anda mempopulerkan kembali, adakah ‘peniruan’ dari ide-ide ini?

Memang ada yang mulai meniru, tapi karena saya orang yoga meditasi, jadi saya tidak marah dengan adanya peniruan tersebut, karena menurut saya semuanya ada sebab akibat. Bahkan menurut saya, dengan adanya peniruan ini, artinya produk kita itu dinilai bagus, sampai orang mau belajar untuk bikin hal yang sama. Jadi sekarang banyak juga pengrajin yang mulai kembali membikin jumputan. Namun saya juga berani dibandingkan dengan produk-produk sejenis, milik kami jumputannya itu jelas dan tidak luntur. Bahkan artis-artis Bali juga mulai pakai karya kita ini.

Berapa orang tenaga kerja di Butik Minardi ini?

Untuk di butik ada 2 penjahit yang standby, tapi diluar ada ibu rumah tangga juga yang membantu, tukang payetnya juga lain, tukang guntingnya juga lain. Pertumbuhan sampai sekarang juga bagus dari tahun ke tahun.

Selain songket, saat ini kain endek juga tengah booming, bagaimana merespon ini?

Disini tidak semua barang dari songket, kita juga jual kain endek, tapi memang spesialis kita songket jumputan, dulu malah sering dipanggil Mira Baruna, sekarang jadi sering diceletukin Mira Jumputan.

Bagaimana dengan trend kedepan?

Saya sudah diwawancara oleh beberapa wartawan, mulai dari Tokoh, Jawa Pos sampai Kompas, ada juga yang sekedar telp untuk tanya soal trend menjelang hari raya Galungan dan sebagainya, mereka sangat membantu karena bagi saya kehadiran media itu sangat saya butuhkan, dan saya bilang untuk tahun 2012 dan 2013, yang diminati masih warna-warna cerah seperti ini, dan ternyata memang masih eksis sampai sekarang.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri