Membangun Kota Harapan Lewat Pembenahan Infrastruktur dan Pelayanan

Mau naik bus tingkat untuk wisata keliling kota seperti di London, atau area publik yang terpasang mesin parkir ala Negeri Paman Sam? Ingin nonton layar tancap di taman-taman kota berkonsep tematik (taman sepeda, taman musik, taman zikir, taman patung, dsb)? Berbagai terobosan ini bisa Anda temukan di kota Bandung. Bukan hanya itu, Bandung juga tengah melakukan berbagai terobosan lainnya yang lebih revolusif. Salah satu targetnya adalah menjadikan kota Priyangan sebagai kota pintar yang ditunjang oleh infrastruktur berteknologi tinggi. Bahkan Walikotanya bisa Anda hubungi lewat akun Twitter dengan mudah.

Bandung tidak sendirian, jauh sebelum Ridwan Kamil selaku walikotanya melakukan berbagai gebrakan, Presiden RI saat ini yang ketika itu masih menjadi Walikota, telah lebih dulu melakukan gebrakan yang serupa di Solo. Merevitalisasi 34 pasar tradisional yang dampaknya bukan hanya menjadikan para pelaku pasar kompetitif dan mampu bersaing dengan modern market, tapi juga menggerek retribusi daerah dari pasar yang sebelumnya Rp. 7,8 Miliar menjadi Rp. 19,2 Miliar. Jokowi juga memindahkan ribuan PKL dari kawasan Monumen 45 ke Pasar Klthikan Notohardjo di Semanggi tanpa sedikit pun meggunakan kekerasan. Membangun mmoda transportasi baru, seperti Railbus, kereta api Jaladara, Batik Solo Trans (BST), serta bus tingkat Werkudara. Juga menerbitkan kartu sehat dan pendidikan gratis, membangun City Walk layaknya kawasan Orchad di Singapura, dimana mampu meningkatkan kunjungan wisata ke Solo, serta menyelenggarakan event-event bertaraf Internasional.

Di Surabaya, ada nama Tri Rismaharani. Belum lama ini bersama Gubernur Jawa Timur, beliau berhasil membubarkan kawasan prostitusi Dolly. Sebelumnya Tri Risma sudah membangun tempat pembuangan sampah di seluruh kota dengan gerakan eco school, campus & office, gerakan merdeka dari sampah, serta Surabaya Green Clean. Membangun program Urban Farming dengan membagikan bibit kepada orang-orang kurang mampu secara ekonomi, membangun hutan kota dengan meluncurkan gerakan Sajisospo (satu Jiwa Satu Pohon), dan merevetalisasi seluruh taman dan sudut kota menjadi indah dan segar.

Kalau kita telusuri lebih jauh, semakin ke sini, semakin banyak daerah yang selama ini diam saja muali terinspirasi  untuk turut berbenah. Berbagai event internasional pun muai digelar di berbagai penjuru. Sail Bunaken di Manado, Tour de Singkarak di Sumatera Barat, Ubud Writer & Reader Festival Bali, Jember Festival, Bali 10K, dan lain-lain. Mereka juga mulai sadar untuk mengorbitkan komoditas unggulan daerah, seperti Kopi Aceh, Apel Malang, atau Jeruk Kintamani. Berbagai gebrakan ini mampu menjadikan kota-kota tersebut kian populer dan akrab dengan investor yang ujung-ujungnya membawa pertumbuhan yang nyata bagi daerah dan masyarakatnya.

Namun perubahan dari atas saja ternyata tidaklah cukup untuk membangun sebuah kota impian. Richard Florida salah satu pemikir kontemporer di bidang perencanaan dan pembangunan kota menyampaikan, sebuah kota juga harus mampu menarik orang-orang unggul (the best human capital) untuk masuk ke dalamnya. Lewat bukunya The Rise of Creative Class dan The Flight of the Creative Class, maka resep keberhasilan sebuah kota ditentukan oleh 3T, yakni Teknologi, Talenta dan Toleran. Kota yang kreatuf dicirkan oleh kemampuannya menarik teknologi baru, menarik anak-anak muda bertalenta, dan menghadirkan atmosfer lingkungan yang toleran.

Kota yang mampu menghadirkan ketiga hal di atas akan mampu menciptakan beragam industri yang variatif, mulai dari pariwisata, IT dan komunikasi, desain dan multimedia, periklanan, pendidikan serta produksi kultural lainnya. Karakter orang-orang kreatif dengan pola hidup urban kerap mendambakan sesuatu yang baru dan tidak pernah puas tersebut akan mampu menggerek suatu daerah menuju kemajuan.

BALI DAN PERTUMBUHANNYA 

Bagaimana dengan Bali? Hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali belum lama ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali pada triwulan I – 2015 mencapai 6,2 persen. Ini melampaui capaian pertumbuhan ekonomi secara nasional di periode sama yang sebesar 4,71 persen. Sekalipun angka ini melambat jika dibandingkan dengan triwulan I di tahun 2014, namun sudah merupakan prestasi tersendiri.

“Pertumbuhan ekonomi Bali itu melambat dibandingkan periode triwulan yang sama di tahun 2014 lalu. Waktu itu tumbuh sebesar 6,55 persen,” kata Kepala BPS Provinsi Bali Panusunan Siregar di sejumlah media nasional. Menariknya, dari sisi produksi pertumbuhan tertinggi dicapai dari usaha jasa keuangan yang mencapai 10,93 persen. “Jasa lainnya tumbuh sebesar 2,01 persen, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial 0,83 persen,” ujar Panusunan.

Pertumbuhan Bali yang melampaui pertumbuhan nasional pada dasarnya bukanlah hal baru. Kondisi ini sudah terjadi berkali-kali. Ketika perekonomian melambat, Bali masih bisa unjuk gigi. Setelah kami telusuri sejumlah data, kami mendapati bahwa perkembangan dunia investasi di Bali kini tidak lagi terpusat di Bali bagian selatan, seperti Kota Denpasar, Kabupaten Badung, atau Kabupaten Gianyar. Wilayah utara seperti Klungkung pun yang dulu adem ayem, kini mulai diminati investor dan ikut bertumbuh.

Berdasarkan data Bank Indonesia wilayah Bali, pertumbuhan kredit investasi sektor perdagangan, hotel, dan restoran di Klungkung justru yang tertinggi. Angka pertumbuhannya 41,36 persen pada November 2014 mengalahkan pertumbuhan di Badung (13,56 persen) dan Gianyar (26,36 persen).

Tingginya pertumbuhan kredit di Kabupaten Klungkung dipicu dari semakin banyaknya pengembangan pariwisata di kota tersebut. Salah satunya adalah masuknya Nusa Penida ke dalam 21 Kawasan Strategis Pariwisata Bali dan digelarnya Festival Nusa Penida pada Juni 2014.

Meski pertumbuhan kredit investasi membaik di luar Bali Selatan, penyaluran kredit berdasarkan lokasi masih didominasi bank yang berada di kawasan Bali Selatan, sebesar 62,26 persen. Ini terjadi karena mayoritas penduduk menengah ke atas yang memiliki pendapatan relatif tinggi berada di Kota Denpasar. Bukan rahasia lagi, jika Denpasar serta kawasan sekitarnya menjadi primadona bagi masuknya SDM luar daerah untuk beradu peruntungan di Bali. Bahkan di sejumlah kawasan pariwisata, tidak sedikit para ekspatriat yang mulai berdomisili di Bali dan ikut membangun bisnis di kawasan ini.

Belum lagi, saat ini pemerintah melakukan cluster geografi, di mana Bali ditetapkan sebagai kawasan industri kreatif. Di mana nantinya diharapkan dari pulau kecil ini akan lahir sejumlah produk-produk bernilai tinggi, khususnya dari sisi IT dan kompetitif di pasar internasional. Hal ini, akan menyeimbangkan pendapatan Bali yang selama ini ditunjang dari pariwisata dan agraria ke era industri digital yang masif.

Semua ini diharapkan mampu mereduksi ketimpangan yang terjadi, karena seiring dengan pertumbuhan Bali yang mengesankan, tidak terjadi secara merata. Jumlah penduduk miskin di Bali bertambah sebesar 0,23% dari Maret 2014 ke September 2014. Salah satunya disebabkan oleh tingkat ketimpangan pendapatan masyarakat Bali semakin melebar. Ini terlihat dari peningkatan angka Rasio Gini dari 0,415 pada Maret 2014 menjadi 0,422 pada September 2014. Sekalipun besaran ini dalam masuk kategori ketimpangan sedang.

Namun, jika dikaji lebih dalam, ketimpangan yang semakin melebar terjadi di daerah perkotaan, yaitu dari 0,429 ke angka 0,449. Jika merujuk ukuran Bank Dunia, besaran “kue ekonomi” yang dinikmati oleh 40% masyarakat berpenghasilan terendah semakin mengecil, yaitu dari 15,79% pada Maret 2014 menjadi 14,29% pada bulan September 2014.

Di sisi lain, besaran “kue ekonomi” yang dinikmati oleh 20% masyarakat berpenghasilan teratas justru semakin besar, dari 47,98% tahun 2013 menjadi 50,01%  di tahun 2014. Akibatnya, terjadi peningkatan penduduk miskin di daerah
perkotaan sebesar 0,34 % dan di daerah perdesaan 0,337%.

Selain itu, berkurangnya jumlah penduduk bekerja di sektor pertanian dan konstruksi yang notabene merupakan sektor penampung pekerja informal (low-skilled labor), yaitu dari 58,09 % pada Maret 2014 menjadi 52,32% pada September 2014 juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan jumlah penduduk miskin Bali.

Inilah pekerjaan rumah untuk para kepala daerah, terus berbenah dan menjadikan harapan semua masyarakat akan kota impian tak lagi semu. Jika semua perencanaan pemerintah dan swasta berjalan lancar dan sinergis, maka kelas masyarakat yang tidak miskin dan sejahtera akan tampak semakin nyata.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri