Mebuug-Buugan

Tak kenal usia, tak pula latar belakang, apalagi doktrin jabatan. Semuanya ruah ramai disini, menghidupkan kembali tradisi yang hingga selama 40 tahun, sebagai pesan ketika lingkungan tak lagi tentram, dan manusia hilang akal oleh ambisi dan angan-angan!

“Memang sejak dulu, tradisi mebuug-buugan selalu dilaksanakan di tengah hutan bakau. Dan hutan di sisi timur desa ini termasuk wilayah Teluk Benoa yang akan direklamasi.”

DSC_0110Seperti namanya, kata buug yang berarti tanah atau lumpur, dan bhu yang artinya ada atau wujud yang bermakna kata bhur yang berarti bumi, tanah atau pertiwi. Dimana kotoran dalam bentuk tanah atau lumpur ini divisualisasikan sebagai wujud bhuta kala atau roh jahat yang melekat pada diri manusia yang harus dibersihkan.

Inilah filosofi dari tradisi mandi lumpur yang digelar dan diikuti oleh warga Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Melumuri tubuh dengan lumpur ini dilangsungkan di tengah hutan mangrove Taman Hutan Rakyat Ngurah Rai, Kuta, Badung pada hari Kamis 10 Maret lalu, persis satu hari setelah Nyepi.

Tradisi ini kemudian dilanjutkan dengan bersembahyang dan mandi di Pantai Kedonganan yang bertujuan untuk membersihkan diri dari sifat buruk dan menyambut hari baru seusai menjalankan Catur Brata Penyepian, atau empat pantangan selama menjalani Nyepi.

Tradisi ini sendiri baru dihidupkan kembali sejak tahun 2015. Awalnya tradisi ini ditujukan untuk menetralisir aura negatif dari bhuta kala yang sudah dilakukan sejak tahun 1920-an, namun peristiwa letusan Gunung Agung pada tahun 1963 dan G30S pada 1965, tradisi ini pun berhenti. Sejak tahun 2015 lalu, terlebih ketika lingkungan mulai kehilangan kesakralannya, maka tradisi ini  mulai dihidupkan kembali.

Dan pada tahun 2016 ini, diikuti oleh sekitar 300-an warga dengan berbagai latar belakang dan usia yang beragam. Mereka hanya mengenakan sarung Bali yang digulung hingga pangkal paha layaknya celana pegulat. Semua peserta laki-laki bertelanjang dada. Dan keseruan tampak terlihat ketika mereka semua menceburkan diri kedalam lumpur hutan bakau.

Memang sejak dulu, tradisi mebuug-buugan selalu dilaksanakan di tengah hutan bakau. Dan hutan di sisi timur desa ini termasuk wilayah Teluk Benoa yang akan direklamasi.

Ini pula yang menjadi salah satu pesan yang disampaikan I Made Sudarsana, pengurus desa yang juga menghidupkan lagi tradisi ini bahwa ritual adat ini adalah pesan pelestarian lingkungan. Lingkungan harus tetap dijaga agar tradisi ini dapat terus dilangsungkan, ujar alumni S2 Institut Seni Indonesia (ISI) Solo tersebut.

Desa Adat Kedonganan sendiri termasuk salah satu dari sekitar 20 desa adat di Balli selatan yang sudah menolak rencana reklamasi.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri