Made Dwi Antara – Enjoy The Crispy Mushrooms Business

Seorang Arsitek merangkap sebagai pedagang. Apalagi barang dagangannya adalah Jamur. Tak tanggung-tanggung, Arsitek ini pun menanam sendiri bibit Jamur nya, setelah pada akhirnya memutuskan untuk berkreasi dengan olahan Jamur sebagai menu kuliner camilan. Ia adalah Made Dwi Antara. Pria kelahiran 31 Mei 1985 ini berhasil mengembangkan sebuah brand jamur crispy bernama Baliku Jamur. Saat ini sudah terdapat 14 outlet, baik yang dikelolanya sendiri ataupun outlet dengan sistem kerjasama. Outletnya sudah tersebar diseluruh pelosok Bali seperti Buleleng, Gianyar, Badung dan Denpasar. Bahan-bahan utama yang digunakannya adalah Jamur Tiram, Jamur Kancing dan Kentang. Lima macam toping hadir sebagai inovasi rasa yang menghiasi jamur olahannya. Bisnis yang berjalan hampir satu setengah tahun ini mampu menambah pundi-pundi rupiah di usia Dwi yang masih muda. Kepada Money & I pria yang aktif mengikuti beberapa forum kewirausahaan di Bali ini pun membagi ceritanya seputar usaha Baliku Jamur serta pengalamannya dalam menggeluti dua profesi yang sangat bertolak belakang.

Bagaimana bisa tercetus ide untuk menjadi seorang wirausaha muda, padahal Anda sudah punya pekerjaan tetap sebagai seorang arsitek?
Ide entrepreneurship ini muncul pada tahun 2011 lalu, saat saya benar-benar yakin kalau pekerjaan dengan income bulanan seperti arsitek yang saya geluti itu tidak sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan saya. Dalam pikiran saat itu, saya ingin mendapatkan penghasilan harian. Pekerjaan dengan income bulanan itu kan tidak sepenuhnya akan bertahan lama. Jadi bagi saya, punya sebuah usaha itu adalah aset, yang mampu menghasilkan income secara harian, meski kita tidak kerja total di sana. Di lain hal, saya juga tidak ingin melepas profesi arsitek, karena itu juga merupakan salah satu kesukaan saya. Saya pun mencari ide usaha yang sederhana dengan konsep yang ringan dan mudah untuk dijalankan.

Bukankah menjadi arsitek dan pedagang adalah dua hal yang berseberangan?
Arsitek dengan berdagang memang berseberangan. Tapi saya nggak ambil pusing, karena toh dalam prosesnya saya belajar banyak. Setiap pekerjaan memang punya tantangan tersendiri. Keduanya sama-sama saya suka untuk dijalankan. Keduanya juga punya kesamaan yakni menjalankannya dengan sesuatu yang bersifat kreatif.

Bagaimana ceritanya sebuah Jamur menjadi objek ide berwirausaha Anda?
Ide jamur itu muncul pas tahun 2011 itu. Tapi memang ide yang tengah dijalankan pertama kali adalah budidaya jamur. Kebetulan pasokan kebutuhan jamur di Bali masih kurang, kebanyakan masih didatangkan dari Jawa. Selain itu, teman-teman saya juga banyak menyarankan kalau usaha budidaya jamur terbilang baik untuk dikembangkan. Pernah juga suatu hari, saya mengikuti sebuah seminar kewirausahaan, dimana salah satu mentornya yang terbilang sukses dengan usaha budidaya menganjurkan bahwa jamur merupakan bibit yang bagus untuk dijadikan usaha kedepan.

Apakah membudidayakan jamur sulit?
Pembudidayan jamur ini sangat sederhana. Orang-orang yang sudah menggeluti budidaya ini, saya ketahui mereka menggunakan konsep rumah bambu dimana dengan material bambu dan atap alang-alang. Tapi saya mencoba menyederhanakannya lantaran keterbatasan tempat. Jadi saya mencoba memanfaatkan kamar bekas di rumah saya untuk disulap menjadi tempat budidaya Jamur. Memang jamur idealnya hidup di daerah dataran tinggi.

Tapi dengan kondisi tempat yang 500 meter di atas permukaan laut, saya pikir itu sudah sangat mumpuni. Yang terpenting tempatnya tidak terkena cahaya matahari langsung alias tertutup dan temperatur ruangannya harus 127 derajat Celsius serta berada pada kelembaban 80%. Yang penting rajin disiram saja. Saya hanya memanfaatkan ruangan 3×3 meter. Dan saat di awal, saya memulainya dengan 600 – 1000 bibit.

Dimana Anda bisa mendapatkan bibit Jamur di Bali?
Bibitnya saya beli di daerah Kapal, Mengwi, karena kebetulan direkomendasikan sama teman. Harga jamurnya Rp 3000 per bibit dan saat itu saya beli sekitar 500 biji.

Berapa kg Jamur yang sekali panen?
Biasanya kalau sudah panen, saya bisa mendapatkan 4-6 kilogram per harinya. Tapi terkadang memang tidak semulus saya bayangkan, terutama jika musim penghujan bisa mengurangi jumlah mereka.

Jamur-jamur yang sudah dipanen itu juga harus langsung dijual ke pasar. Mereka yang bagus hanya bertahan selama 2 hari. Kalau saya sih usai panen malamnya langsung saya bawa besok paginya ke pasar. Biasanya saya titip jamur-jamur itu untuk dijual oleh pedagang di pasar. Ada beberapa titik hanya saya tempatkan di pasar-pasar yang dekat dengan rumah saya. Saya pun pernah mencoba menjajakan jamur-jamur ini sendirian di pasar. Untuk awal-awal usaha, penjualannya sudah lumayan.

Ada kendala apa saja dilapangan?
Saya mikirnya budidaya itu begini, jika bibit yang kita tanam satu juta maka keuntungan yang balik ke kita pun bisa 2 kali lipat dari itu. Saya bisa dibilang nekat, belum punya detail sepenuhnya tentang bisnis ini. Jadi saya jalan saja terus. Dalam proses perjalanan inilah saya mulai belajar untuk mengumpulkan segala detil-detil yang tertinggal untuk dilengkapi ke depannya. Sempat ada 3-4 bungkus jamur yang tidak terjual. Bukan masalah besar, tapi tentu beresiko juga untuk kedepannya.

Di awal-awal usaha ini saya mulai membaca sistem pengelolaan dan penjualannya. Adapun kerusakan pada jamur sekitar 20%, tidak saya permasalahkan. Karena siapa yang tahu tentang kelangsungan hidup makhluk hidup itu sendiri. Meski kita sudah berusaha kuat untuk menjaganya, ada saja faktor lain yang menghambatnya. Saat itu saya menanamkan modal sekitar 2 juta rupiah, dimana 1,5 jutanya untuk bibit dan 5 jutanya lagi untuk pembangunan rak-rak tempat membudidayakan mereka. Yang balik modal cuma dari segi bibitnya saja. Banyak faktor yang kemudian mempengaruhi ini, baik dari segi cuaca, perawatan dan kembali ke daya beli masyarakat. Balik modalnya juga baru ketahuan setelah dua bulan pertama.

Kemudian bagaimana dengan ide Baliku Jamur Crispy itu?
Setelah perjalanan dua bulan dan melihat kondisi penjualan ke pasar-pasar terhadap jamur budidaya saya, saya pun kemudian berpikir ke depan lagi. Ingin membuat sebuah inovasi, karena risiko tidak laku pun masih mengancam produk jamur budidaya saya. Kemudian saya punya pikiran untuk mengolah jamur ini, pastinya kan nilai jual akan lebih tinggi. Inilah cikal bakal Baliku Jamur Crispy. Saat itu sedang event Denpasar Festival, saya menelusuri stand kulinernya dan kemudian melihat antrian panjang di stand gorengan jamur. Nah, disitulah terbersit ide, kenapa nggak bikin jamur crispy saja tapi dikemas lebih inovatif dan berciri khas.

Selain itu dari pantauan saya, olahan yang digoreng itu banyak disukai anak muda sebagai camilan mereka. Ini pangsa pasarnya ada. Kalau diolah sebagai tum, lawar atau malah lumpia, bakal lain lagi nanti ceritanya.

Sebelum Baliku Jamur muncul, sudah ada beberapa kompetitor yang mirip mengangkat tipe usaha seperti Anda ini?
Ya, masalah selanjutnya tentu kompetitor. Sudah ada beberapa orang yang punya usaha jamur crispy di Bali. Tapi saya tidak ambil pusing soal itu. Yang terpenting bagaimana saya membuat ciri khas baru untuk jamur crispy versi saya. Di sinilah tantangannya dalam membuat branding yang berciri khas tersebut. Namun, dalam perjalanannya pasti akan ketemu faktor keunikan lainnya.

Lalu kemudian berhenti dengan budidaya jamurnya?
Budidaya jamur masih tetap jalan, hanya saja sampai kesini saya harus memilih mau fokus kemana dulu. Maka dari itu, budidaya jamur masih diminimkan. Sementara fokus utama tercurahkan pada Baliku Jamur ini. Oh ya nama Baliku Jamur ini sebenarnya saya tujukan untuk budidaya jamur saya itu. Baliku Jamur itu visi saya adalah sebuah rumah budidaya jamur . Namun, saya pikir-pikir ulang lagi ternyata nama ini juga sangat cocok untuk Jamur Crispy ini.

Bisa ceritakan bagaimana kemudian proses pendirian Baliku Jamur ini?
Awalnya saya bikin di rumah, dimana kebetulan ibu saya membuka warung di sana dan nggak ada salahnya menitipkan jamur olahan di warung itu. Ibu saya pintar masak, jadi ia membantu saya untuk meracik bumbu tepung yang digunakan untuk mengolah jamur-jamur tersebut. Sebagai pengenalan serta uji coba alias trial error terhadap resep ini, saya pun mengundang teman-teman untuk berkunjung ke warung kami. Mereka banyak memberi masukan hingga saya benar-benar menemukan bentuk resep terakhir yang pas untuk dijual. Sayangnya, warung ibu saya ini terletak di jalan yang sepi, sehingga tidak banyak bisa menjaring konsumen.

Maka dari itu Anda mendirikan outlet pertama?
Kemudian saya mencoba meyakini diri apakah saya sudah cukup pede untuk membawa jamur crispy ini keluar. Inginnya sih membuat konsep dagangan kaki lima. Dan ketika saya pikir resepnya sudah sempurna. Saya pun bertekad mencari tempat di seputaran Waturenggong, tapi sayang semua sudah penuh. Baru akhirnya saya deal di Hardy’s Panjer.

Boleh tahu modal awal mendirikan outlet pertama?
Modal awalnya 4-5 juta rupiah untuk membuka outlet pertama ini. Cukup tertantang, karena ini pertama kalinya saya jualan keluar dari rumah. Butuh seminggu untuk mempersiapkan outlet pertama ini sebelum benar-benar beroperasi. Awalnya belum punya karyawan, jadi untuk back up saya memperkerjakan pembantu di rumah untuk persiapan outlet di sana. Untung kemudian ada tante yang mau mengurusi outlet ini pada akhirnya.

Bagaimana respon pengunjung saat outlet pertama dibuka?
Respon di awal lumayan. Bisa sampai 200 ribu rupiah jualan seharinya di awal-awal. Butuh waktu 3,5 bulan untuk balik modal.

Lantas Anda mendirikan outlet kedua?
Kemudian saya buka lagi outlet kedua di Jalan Akasia, karena banyak yang nyaranin kalau buka satu outlet saja akan terasa pergerakan fluktuasi penjualannya. Dan benar, saya merasakan naik turunnya itu.

Berapa omsetnya perbulan?
Omsetnya 6 juta perbulan untuk outlet pertama saja.

Bagaiamana Anda akhirnya menemukan sistem kerja efisien dan ciri khas brand tersebut?
Saya belajar banyak dari outlet pertama. Dari sanalah proses dimulainya untuk mulai belajar bagaimana manajemen pegawai, belajar stock, belajar manajemen keuangan. Latarbelakang saya bukanlah orang ekonomi, tapi dengan adanya outlet pertama saya belajar dari situ, sampai akhirnya menemukan ciri khas untuk Baliku Jamur, entah dari kreasi olahan dan desain brand.

Sistemnya sekarang sudah terbuka untuk kerjasama, ceritakan soal hal ini?
Dalam rentang waktu enam bulan, saya baru yakin bahwa sistem yang ada sudah fix. Dalam usaha seperti ini, ada istilah faktor kali dimana ada baiknya melipat gandakan kuantitas. Kalau dikerjakan sendiri luamayan ribet. Maka munculah ide untuk mem-business opportunity kan. Saya pun mulai bikin proposal untuk menjual Baliku Jamur ini dengan cara kerjasama.

Saya jual enam juta untuk satu fasilitas outlet. Sekarang sudah ada 12 outlet Baliku Jamur. Beberapa yang membeli paket ini adalah teman saya. Mereka adalah mitra usaha, jadi tidak ada istilah bayar royalti untuk brand atau sistem bagi hasil setelah membeli paket ini. Tapi untuk ide-ide pengembangan terhadap menu harus di-share ke saya dan atas persetujuan saya tentunya.

Apa harapan Anda ke depan terhadap Baliku Jamur?
Saya harap Baliku Jamur bisa jadi usaha lokal yang mampu membuka jalan bagi teman-teman yang ingin berwirausaha. Jadi bagaimana membuat anak muda itu tidak hanya niat berwirausaha tapi benar-benar menunjukan aksi nyata mereka. Dengan sistem dan konsep yang sudah ada, saya harap mereka bisa mengoptimalkannya. Saya juga punya harapan membawa Baliku Jamur ini keluar dari Bali, dimana dalam visi saya akan menyasar wilayah Indonesia Timur. Namun, sekarang saya masih fokus memaksimalkan brand ini di dalam Bali terlebih dahulu. Kalau memang sudah kuat baru bisa dibawa keluar. Ya pelan-pelan tapi pasti, kalau rencana sih tahun depan sudah bisa direalisasikan, doakan ya.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri