Luh Kerthianing – Lika-liku Srikandi Singaraja

Tak banyak sosok wanita daerah yang mampu berkiprah di dunia kewirausahaan dan turut berkontribusi dalam pembangunan di daerahnya..

 

Luh Kerthianing bisa jadi merupakan salah satu sosok wanita yang menjadi kebanggaan kampung halamannya, lantaran secara tidak langsung ikut berpartisipasi dalam kemajuan kota Singaraja. Dengan insting kewirausahaannya, Wanita kelahiran 24 Maret 1969 ini melihat potensi Singaraja yang tidak hanya sekadar sebagai destinasi wisata, tetapi juga merupakan kota dengan atmosfer berbisnis yang ramah. Tak hanya itu, wanita yang hampir 12 tahun berkarir di dunia farmasi ini juga melihat Singaraja sangat ideal untuk hunian dan investasi properti. Adalah “Garden Villa Residence” sebuah hunian urban mewah yang dikembangkannya sejak 2010 di atas lahan 15 hektar. Dengan total 700 unit hunian, Garden Villa Residence berlokasi di Kelurahan Penarukan, Singaraja, di mana tingkat aksesibilitas yang tinggi terhadap pusat pemerintahan dan perdagangan di kota Singaraja.

Berkat kegigihannya dalam mengembangkan bisnis properti di daerahnya tersebut, Direktur CV Singaraja Property ini berhasil meraih penghargaan Mahakarya Indonesia untuk kategori The Best Property of The Year 2013. Istri dari Gede Sidiarta ini ingin memberikan alternatif hunian yang layak bagi masyarakat lokal, sehingga mereka bisa hidup nyaman, asri, dan merasa aman di Buleleng.

Sebelum menggeluti dunia properti, Ibu dari Thika Sidiani, Siska Febri Sanjiwani, Sintadiani, Sindy Dewantari, dan Kesha Putra ini juga terlebih dahulu eksis berwirausaha di bidang telekomunikasi. Sejumlah outlet ponsel dibukanya di beberapa titik di Singaraja, Denpasar, hingga Negara. “Dari sejak kecil, saya sudah berada di lingkungan wirausaha. Kebetulan orang tua bergelut di bidang itu. Saya pun pernah diajak paman untuk membantunya bisnis kopi dan cengkeh saat masih kecil,” kenangnya saat M&I Magazine menanyakan asal mula insting wirausahanya.

Tidak hanya aktif berwirausaha, wanita yang berdomisili di bilangan Setiabudi, Singaraja ini juga pernah menggeluti dunia politik. Wanita yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Buleleng tahun 20042009 ini ingin menyalurkan jiwa sosial serta kontribusi untuk daerah dengan masuk ke dalam pemerintahan.

Beberapa waktu yang lalu, M&I Magazine berkesempatan mewawancarai wanita yang pernah mendapatkan predikat Outstanding in Developer Property di ajang The Competition Business Excellence Award 2013 ini. Berikut petikan wawancaranya!

Bisa ceritakan bagaimana rekam jejak karir Anda hingga akhirnya terjun sebagai seorang wirausahawan?

Setamat dari pendidikan di Sekolah Menengah Farmasi di Denpasar, saya bekerja di apotek di daerah Hasanudin Denpasar pada tahun 1988 sampai tahun 1990. Saya mengawali sebagai asisten apoteker peracik obat di apotek yang memang baru beroperasi saat itu. Tapi kemudian saya resign, karena ingin mencari jenjang karir yang lebih baik lagi. Lantas, saya melanjutkan karir ke sebuah perusahaan pedagang besar farmasi nasional bernama PT. Anugrah Argon Medica, yang kebetulan juga membuka kantor perwakilan di Denpasar. Untuk bisa diterima sebagai karyawan di sana, saya mesti mengikuti serangkaian tes. Awalnya di sana saya bertugas sebagai asisten apoteker penanggung jawab, kemudian saya dipromosikan untuk menjadi pembantu gudang, lalu akhirnya saya naik jabatan lagi menjadi kepala gudang. Ada pemilihan kepala logistik di pusat. Lalu saya ikut training-nya, kemudian dinominasikan. Setelah berhasil lolos tes kepemimpinan, akhirnya saya mendapatkan posisi kepala logistik tersebut. Dengan promosi tersebut mengharuskan saya untuk bersedia ditempatkan di cabang besar. Pilihannya itu antara Jakarta dan Surabaya, karena cabang di Bali sendiri tergolong cabang menengah. Saya pun akhirnya memilih Jakarta. Padahal sebenarnya saya berat meninggalkan Bali.

Namun dalam perjalanan saya akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri, karena anak saya sakit hingga diopname. Saya berat meninggalkan anak. Itu sebabnya saya mengundurkan diri. Perusahaan sempat enggak kasih saya berhenti. Mereka mencoba meringankan posisi saya supaya tidak full kerja dan tetap mendapatkan gaji, meski hanya setengahnya. Namun, akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk berhenti, lantaran anak saya lainnya juga sakit. Saya bekerja di perusahaan itu kurang lebih tujuh tahun.

Lalu apa yang Anda lakukan setelah resign dari perusahaan tersebut?

Awalnya suami saya tidak setuju. Suami saya punya rasa ketakutan tersendiri jika saya benar mengundurkan diri, karena ia lebih mendukung karir saya di sana. Malah suami menawarkan diri untuk meninggalkan pekerjaannya dan menyusul saya ke Jakarta. Tapi saya belum bisa mengiyakan, karena harus lihat kondisi dulu. Tapi saat itu anak saya yang kedua opname. Juga masalah lainnya, ternyata keuangan kami mulai menipis. Sementara platform kesehatan yang saya miliki sudah habis saya klaim dan ternyata masih kurang untuk biaya pengobatan anak saya. Akhirnya saya putuskan untuk menjual handphone. Ternyata baru dihitung-hitung untungnya lumayan hampir 1,5 juta. Pada masa itu kan handphone memang masih barang mahal.

Bisa beri gambaran bagaimana Anda mengembangkan bisnis handphone ini di Singaraja?

Kebetulan adik saya yang cowok lagi kuliah di Jogja, lalu saya minta tolong ke dia untuk mencari HP second di sana. Awalnya saya hanya mampu membeli dua sampai tiga handphone saja, karena waktu itu harganya memang cukup mahal. Enggak gampang untuk bisnis ini, karena kita enggak punya modal saat itu. Akhirnya pimpinan saya mau membantu saya waktu itu. Saat saya mulai berbisnis HP ini, memang saya belum sepenuhnya resign dari perusahaan. Status saya waktu itu tidak bekerja penuh di sana. Saya sempat bilang saya ingin minjam modal di bank, tapi sayangnya saya enggak punya jaminan. Waktu saya tanyakan dengan rekan saya di bank, katanya bisa pake slip gaji saja. Saya pun minta bantuan ke pimpinan bisa tidak membuatkan slip gaji untuk saya ajukan ke bank. Dari slip gaji tersebut akhirnya gaji saya dipotong setiap bulan untuk kredit modal di bank.

Saya buka outlet sendiri di Denpasar, Singaraja dan Negara. Responnya sangat luar biasa saat itu, karena kan handphone baru-baru booming. Awalnya di masingmasing outlet saya pekerjakan dua orang pegawai. Sampai sekarang bisnis ponsel ini masih saya geluti bersama suami, tapi sekarang sudah agak sulit karena banyak kompetitornya. Tahun 2002, saya memberanikan diri untuk ikut pemilihan dealer voucher dan kartu perdana ponsel. Saat itu, pemain yang banyak masuk dari Jakarta dan Surabaya. Juga saya diharuskan untuk punya modal setidaknya 2 miliar. Saya sebenarnya enggak punya uang segitu. Di sisi lain, ada teman yang tertarik untuk jadi dealer, tapi tidak terpilih. Dari sana kemudian, akhirnya saya ajak mereka untuk ikut gabung. Kebetulan saya dipilih sebagai dealer, jadi kenapa enggak kami sharing profit saja. Mereka bisa ikut menanam modal bersama saya. Akhirnya di dealer tersebut, setengahnya merupakan saham saya. Kami distribusikan voucher dan kartu perdana ke Denpasar hingga wilayah Nusa Tenggara.

 

Saya mengawali karir sebagai asisten apoteker percaik obat di sebuah apotek yang memang baru beroperasi. tapi kemudian saya resign, karena ingin mencari jenjang karir yang lebih baik..”

 

Berarti Anda cukup untung besar di bisnis tersebut. Apa tidak ada kendala?

Bisa dibilang seperti itu. Tapi saya juga pernah mengalami kesusahan, gara-gara ada pegawai saya yang korupsi di outlet kami di Singaraja. Saya kan sempat tinggal di Denpasar, enggak tiap hari kontrol yang di Singaraja. Waktu saya cek pembukuan akhirnya ketahuan. Lalu saya ambil alih di Singaraja. Waktu saya jalankan sendiri 2-3 minggu saya rasakan untungnya sangat besar di sini. Ketika itu saya sempat minta suami saya untuk berhenti bekerja, supaya bisa bantu saya untuk mengurusi outlet. Namun keputusan tersebut sempat ditentang oleh mertua saya. Bahkan saya sempat diusir oleh mertua saya. Dia punya ketakutan nanti usahanya enggak seberapa dan cucu-cucu enggak bisa makan. Wajarlah orang tua berpikir seperti itu. Justru marahnya mertua saya itu membuat saya dan suami termotivasi bahwa kita bisa menunjukan kalau kita bisa lebih baik dan berhasil. Dulu saat awal-awal jualan handphone, saya masih ingat harus ke kantor koran lokal sampai larut malam untuk menanyakan slot iklan di sana. Saya harus mengurus semua sendiri bahkan hingga jam 2 pagi saya masih bekerja. Beruntung lewat iklan tersebut, handphone saya laku terjual hingga habis stoknya.

Setelah bisnis handphone ini bertumbuh, apa yang Anda lakukan? Apa ada bisnis lainnya yang juga dikembangkan?

Karena latar belakang saya adalah pegawai, kemudian mendapatkan untung besar saat menjadi wirausahawan, saya ingin berbagi dengan sesama. Karena sebagai manusia, kita harus saling peduli dan ingat bersyukur dengan Tuhan. Saya banyak membantu berbagai lembaga sosial, seperti GNOTA dan yayasan yatim piatu. Lantaran aktif di berbagai kegiatan sosial, beberapa partai besar akhirnya meminta saya untuk terjun ke dunia politik. Saya berkarir di politik hampir 5 tahun. Awalnya saya sempat diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai ketua DPC sebuah partai besar. Bisa dibilang saya satu-satunya perempuan yang menjabat
ketua DPC di Bali kala itu. Setelah itu saya pindah naik jabatan ke DPRD Bali. Saya enggak pernah bercita-cita ke politik. Waktu itu ada tokoh besar yang memberikan saya saran, kalau orang-orang yang punya jiwa sosial yang tinggi sangat layak untuk terjun ke dunia politik. Banyak saya temukan, orang-orang yang duduk di parlemen yang latarbelakang pendidikannya tinggi, tapi mereka tidak punya intelektualitas dan keberanian yang tinggi. Yang duduk di DPR banyak yang pintar berbicara, tapi ketika berhadapan ke publik, mereka tak punya nyali.

Bagaimana pandangan Anda posisi wanita di pucuk kepemimpinan, baik di dunia politik maupun di dunia bisnis?

Perempuan Bali saat ini dipandang sebelah mata ya dengan adat istiadat di Bali. Saya sangat tidak setuju, kalau perempuan tidak dipandang atau dinomor duakan. Kesenjangan perempuan dengan laki-laki di pendidikan maupun pernikahan memang sangat menonjol. Saya duduk di DPRD di Komisi D yang menangani persoalan pendidikan, kesehatan, dan wanita, di mana memperjuangkan perempuan dan hak asuh anak. Sempat saya berdebat dengan salah satu kelian adat pekraman di Singaraja. Saya sampaikan bahwa dalam posisi tertentu posisi perempuan setara dengan laki-laki, tapi si kelian adat pakraman itu tersinggung dan tak setuju. Saya bilang dalam posisi tertentu, peran wanita tidak kalah dengan laki-laki. Dalam rumah tangga, peran wanita sangatlah penting. Memang laki-laki berperan sebagai kepala keluarga, tapi peran wanita juga sama sulitnya dalam mengurus dan mendidik anak-anak. Kalau suami yang mengerti pasti akan menghargai istrinya. Suami saya sangat mendukung karir saya. Ia tidak pernah komplain, harus begini, harus begitu. Seperti kata orang bijak bahwa di setiap kesuksesan seseorang pasti ada orang besar di belakangnya yang mendukung. Saya sebagai wanita dengan segudang kesibukan juga harus bisa membagi waktu dengan keluarga.

 

Marahnya mertua itu membuat saya dan suami termotivasi bahwa kami bisa menunjukkan kalau kami bisa lebih baik dan berhasil..”

 

Setelah 5 tahun, kenapa akhirnya Anda memutuskan untuk berhenti dari politik?

Waktu itu uang saya habis di politik ya. Banyak aset yang saya punya dari bisnis handphone, tiba-tiba seperti hujan angin, habis seketika. Fokus saya terpecah saat itu, antara bisnis dan dunia politik. Malah akhirnya lebih banyak waktu untuk politik. Setelah lima tahun, saya memutuskan untuk berhenti. Karena sudah banyak utang yang harus dilunasi. Di fase inilah, saya mulai melihat peluang besar di bisnis propertI.

Bisa ceritakan bagaimana geliat Anda di properti hingga akhirnya sukses seperti sekarang?

Sebenarnya bersamaan dengan berbisnis seluler, saya sudah mulai membeli aset secara kecil-kecilan, Mertua saya juga sempat ngasik saya rumah di Denpasar, tapi kemudian saya sewakan untuk kos. Di tahun 2009 usai dari dunia politik, saya fokus mengelola aset properti. Lantas, saya mulai mengontrakan gedung-gedung untuk perkantoran di Singaraja. Sekarang sudah berani menjual hunian di Garden Villa Residence. Residence ini berdiri di atas tanah 15 hektar, di mana lahan tersebut saya lepas sendiri. Awalnya ini hanya hutan bambu, tapi kemudian saya punya keyakinan kalau lokasi ini bisa dimanfaatkan untuk hunian. Banyak yang menawarkan saya properti lain, tapi saya suka tantangan jadi saya memilih lahan di sini. Tak sedikit juga yang mencibir langkah saya. Katanya, untuk apa bangun perumahan besar, mana ada orang Singaraja mau beli rumah mewah seperti ini. Tapi saya kan punya keyakinan lain, saya tawarkan konsep perumahan berbeda, baik dari segi fasilitas dan fitur strategis lainnya. Saya mulai pembebasan lahannya sekitar tahun 2010. Saya beli tanah ini tanpa sepengetahuan suami saya, karena saya sudah banyak kehilangan di politik. Waktu itu saya nekat mau pinjam uang di bank untuk bisa membebaskan lahan di situ. Awalnya sangat sulit untuk meyakinkan pihak bank, karena waktu itu saya hanya bisa memperlihatkan potensi lahan ini, tanpa disertai bangunannya. Tapi akhirnya saya dapat modal, salah satunya juga dibantu oleh BPR Lestari dan akhirnya bisa membangun 700 unit secara bertahap di sini.

Mengapa Singaraja sangat potensial untuk berinvestasi di bidang properti?

Buleleng itu kan dikenal sebagai mantan ibukota Bali. Sepertiga luas Bali kan Singaraja. Sekolah pendidikan pertama di Bali juga ada di Singaraja, seperti sekolah penerbangan, kepolisian untuk wilayah Nusa Tenggara. Singaraja ini sangat prospektif untuk properti. Suatu saat pasti ada masa di mana properti di Denpasar akan bubble dan juga di sana akan krodit. Alternatif pasti mereka cari yang pinggiran. Singaraja punya potensi bagus di bidang kelautan, karena punya garis pantai yang panjang. Terumbu karangnya pun sangat bagus di Asia. Apalagi hasil sumber daya alamnya juga tidak diragukan, seperti beras dan cengkeh yang jadi primadona. Atmosfer perdagangan di sini juga sangat bagus, di mana terlihat dari banyaknya pendatang yang mulai ke mari. Kemampuan daya beli pasti ditunjang oleh penghasilan. Ketika membeli properti pasti orang melihat penunjangnya apa, sehingga membuat pertumbuhan ekonomi jadi meningkat. Itu yang mendorong saya membuat perumahan di sini.

Atas segala pencapaian yang Anda dapatkan, apakah ada keinginan Anda yang belum terwujud sejauh ini?

Saya punya keinginan untuk membuat rumah sakit. Saya sudah punya konsepnya di benak saya. Mudah-mudahan dimudahkan jalannya oleh Tuhan. Saya ingin ada sisi sosial enggak sekadar bisnis. Saya sudah memikirkan untuk subsidi silang, bagaimana untuk memberikan jasa pelayanan yang maksimal bagi mereka yang kurang mampu. Semasa saya di politik, saya sudah memikirkan konsep ini dan mempelajarinya.

 

Buleleng itu kan mantan ibukota Bali. Sepertiga luas bali kan Singaraja dan sekarang kota ini sangat prospektif untuk properti. ”

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri