Jango – Sejuta Goresan Mengartunkan Bali

Hampir 13 tahun, Jango dan Bog-bog sukses ‘menertawai’ Bali dengan banyolan satir khasnya. Melalui maskot kartunnya, Made Bogler, Majalah Bog-bog menyoroti perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Bali dalam bentuk kritik visual tanpa kata-kata. 

Adalah Jango Pramartha, sosok yang bertanggung jawab di balik kesuksesan Majalah Bog-bog. Idenya untuk membuat satu-satunya majalah kartun di Indonesia tersebut telah menempatkan profesi kartunis bangsa ini di tingkat paling eksklusif. Terlebih dengan konsep kreatif yang begitu berani, yakni mengolah elemen ‘kritik’ menjadi sebuah hiburan. Kartun Bog-bog membawa isu-isu terpenting yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Bali. Jango, sebagai sang kreatornya mengambil sampel-sampel persoalan dari fenomena perubahan sosial masyarakat Bali dan kemudian menuangkannya dalam bentuk visual kartun. Kartun-kartunnya bercerita tanpa banyak kata, hanya mengandalkan simbol universal yang menegaskan sebuah kritikan satir.

Semenjak dirilis Majalah Bog-bog telah menjadi fenomena kultur pop tersendiri di ranah industri kreatif Indonesia. Tak hanya pujian berupa Rekor Muri sebagai majalah kartun pertama yang dimiliki Indonesia, tetapi juga mendorong para generasi muda untuk melirik profesi kartunis, tidak hanya sebagai sekadar passion, tetapi juga
masa depan mereka. Pria kelahiran 21 Desember 1965 ini mengemas Bog-bog tak hanya sebagai majalah atau media kritik sosial, tetapi juga sebagai sebuah bisnis kreatif. Dalam perkembangannya, Bog-bog juga muncul sebagai merchandise dan jasa desain & ilustrasi.

Kartun telah membawa Jango meraih berbagai pencapaian penting dalam karirnya. Karya-karya kartun dari mantan Ketua Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI) periode 2005-2010 ini seringkali diikut sertakan tampil di berbagai galeri ternama di Eropa dan Australia. Pria yang pernah mengisi kolom karikatur Bali Post, The Jakarta Post, dan kini aktif untuk Harian Nusa Bali ini juga menginiasiasi beberapa pagelaran eksibisi tingkat nasional maupun internasional.
Kepada Money & I Magazine, Suami dari Putu Sefty Virgantini dan ayah dari Putu Pramilla Seftyta Devi, Made Gede Rendy Jati Satriani, dan Nyoman Tridy Dinusa Bhakti ini tanpa ragu menceritakan perjalanan karir profesionalnya sebagai kartunis hingga pertemuannya dengan ide Bog-bog itu sendiri. Berikut petikan panjang wawacaranya!

Mengapa karya-karya kartun Anda kerap menyentil isu lingkungan, sosial budaya, dan pariwisata Bali?

Dari dulu saya memang tertarik dengan gaya political cartoon. Itu yang menyebabkan kartun-kartun saya kerap mengangkat isu-isu dari fenomena sosial dalam masyarakat Bali. Penggambaran tentang peristiwa perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Permasalahan-permasalahan tersebut dapat dengan mudah saya rangkum dalam sebuah gambar, misalnya bagaimana Pulau Seribu Pura berubah menjadi Pulau Seribu Hotel atau sawah-sawah yang beralih fungsi sebagai lapangan golf. Isu-isu seperti itu yang saya tuangkan ke dalam kartun.

Saya sempat lama menjadi kontributor untuk Harian Bali Post. Selain saya menyumbang tulisan tentang sosial budaya, di situ saya juga mengisi rubrik karikatur mereka. Ketika saya menulis artikel yang begitu panjang dan dalam, barangkali tak semua orang tertarik untuk memperhatikannya. Namun, ketika saya menggambar karikatur yang berisi sentilan isu sosial budaya, banyak orang kemudian menyoroti saya. Bisa dikatakan, dalam political cartoon ini tersimpan idealisme saya tentang bagaimana menyikapi fenomena dari perubahan sosial Bali yang meski diterjang oleh globalisasi dan industri pariwisata, namun masih tetap kuat mempertahankan budayanya. Dengan menangkap segala perubahan sosial masyarakat Bali ke dalam karya-karya inilah yang menjadi dasar kuat bagi saya dalam mengenali Bali lebih dalam.

Saya memang tertarik dengan gaya political cartoon. itu yang menyebabkan kartun-kartun saya kerap mengangkat isuisu dari fenomena sosial dalam masyarakat Bali. permasalahan-permasalahan tersebut dapat dengan mudah saya rangkum dalam sebuah gambar…”
– Jango Pramartha

Apa yang menginspirasi Anda untuk mengolah kartun sebagai salah satu produk industri kreatif?

Perkenalan saya dengan Dr. Carol Warren, seorang antropolog dari Murdoch University, Western Australia, telah membuka mata saya tentang posisi dan peran penting kartun dalam sebuah budaya. Kartun tidak sekadar dianggap sebagai seni seni terapan. Kartun tidak sekadar untuk hiburan, tetapi baginya kartun menjadi sebuah kajian budaya. Bu Carol secara intensif menanyakan perihal kartunkartun saya di Bali Post dan ia mempelajari bagaimana kartun-kartun tersebut mampu mewakili potret kehidupan masyarakat Bali saat itu. Terlebih ketika saya berkesempatan menimba ilmu di Australia, di mana saat itu saya kuliah University of Western Australia untuk ELICOS, saya benar-benar melihat perspektif berbeda, bagaimana orang luar mengapresiasi seni kartun itu sendiri. Meski saya berkuliah di UWA, namun beberapa kali saya sempat diajak Bu Carol untuk mengisi presentasi di Murdoch. Di sela-sela presentasi tersebut, saya mendapati pameran yang memajang beragam t-shirt ilustrasi kartun di sana. Dari sini akhirnya saya terinspirasi untuk menerapkan ekonomi kreatif melalui kartun-kartun saya. Pada tahun 1996, saya mendirikan sebuah toko t-shirt bernama JOP (Jango Paramartha) Shop di Kuta.

Bisa ceritakan konsep kreatif dari JOP Shop tersebut?

JOP SHOP berusaha berbicara tentang isu lingkungan dan pariwisata melalui kartun atau ilustrasi pada seluruh t-shirt nya. Sederhananya melalui t-shirt JOP SHOP, saya ikut mengajak orang-orang yang mengenakannya untuk berperan sebagai ambassador dalam pelestarian lingkungan dan budaya Bali. Saya menyodorkan ini lho ada beberapa perubahan sosial yang terjadi di Bali. Ketika turis-turis membeli karya saya, otomatis ia akan menyebarkan cerita yang terkandung dalam t-shirt itu kepada temantemannya.

Apakah Anda mengarahkannya kepada satu target pasar yang spesifik?

Pangsa pasarnya memang turis saat itu, karena lokasi tokonya di Kuta. Responnya sangat bagus saat itu, bahkan mampu menarik atensi media-media dan beberapa tokoh nasional, seperti Wimar Witoelar dan Goenawan Mohamad. Ya, lantaran konsep t-shirt kartun yang dibalut oleh kampanye sosial dan lingkungan itu. Satu t-shirt saya yang paling berkesan, di mana karikatur di dalamnya menggambarkan pengaruh globalisasi pada masyarakat Bali. Itu sangat unik, karena saya menemukan kata “Bali” di dalam “Globalism”. Jadi, ketika itu saya sorot menjadi kartun, ternyata magnetnya sangat kuat bagi siapa pun yang melihatnya, terutama turis-turis asing. Memangnya saat itu belum ada kompetitor yang membuat konsep t-shirt serupa? Setahu saya belum ada konsep t-shirt yang menampilkan gaya political cartoon dengan menyerempet ke isu sosial, budaya, serta lingkungan Bali saat itu. Jadi, saya pikir enggak ada salahnya saya mencoba konsep ini. Apalagi saya sadar punya kemampuan untuk mengembangkan ide-ide political cartoon ini. Tinggal bagaimana cara mengemasnya dengan baik, agar menarik untuk dijual.

Bagaimana Anda mengembangkan bisnis ini? Apakah bisa survive?

JOP Shop sempat merasakan masa-masa kejayaannya. Toko ini saya kelola sendiri, Awalnya di sebuah tempat kecil mirip gudang yang letaknya menjorok ke dalam, seperti di lorong kecil begitu. Lantas dua tahun berikutnya, saya pindahkan ke tempat yang lebih memadai. Waktu itu, harga kontrak tempatnya masih murah yang awalnya Rp 18 juta berubah menjadi Rp 24 juta dan sempat berada di kisaran Rp 32 juta. Namun, ketika menginjak tahun 2000, harganya naik drastis, yakni sekitar Rp 150 juta. Di sinilah titik krisis saya dimulai. Mana mungkin saya sanggup membayar harga sewa tempat 150 juta tersebut, apalagi diharuskan kontrak minimal 3 tahun. Akhirnya saya memutuskan untuk pindah dari tempat itu dan mencari yang biaya kontraknya lebih miring. Sayangnya di tempat yang baru, kondisi penjualan kami malah memburuk lantaran lokasi tokonya yang kurang strategis. Akhirnya saya memutuskan untuk tutup toko saja.

Kemudian Anda membuat Bog-bog?

Saya sempat dibantu oleh seorang kawan untuk memasukan beberapa koleksi t-shirt saya untuk dijual di sebuah mall terbesar di bilangan Simpang Siur Kuta. Meski begitu, saya tetap berusaha mencari cara untuk  mengontrak tempat yang baru atau pun mengajak kerjasama beberapa pihak. Sayangnya tidak menemukan hasil yang diharapkan. Suatu hari, ketika saya bertemu dengan dua kawan lama Ebo dan Cece Riberu, tercetus sebuah ide untuk membuat majalah kartun. Dengan penuh percaya diri, kami akhirnya mulai mengerjakannya. Kami buatkan konsep sebuah majalah kartun yang mampu berbicara tentang segala persoalan Bali dan mudah dicerna oleh turis-turis asing. Tercetus pula karakter Made Bogler. Itu kita bertiga yang bikin karakternya. Kami berusaha menampilkan sebuah karakter yang mampu mewakili identitas masyarakat Bali itu sendiri.

Pasca Bom Bali, Majalah Bog Bog sempat terkena imbasnya. Namun, lantaran banyaknya dukungan dari tokoh masyarakat dan elemen pariwisata, membuat kami bisa berdiri lagi. Banyak yang berharap, agar Bog-bog bisa menunjukan kepada dunia, bahwa Bali masih bisa tersenyum dan bangkit pasca Bom Bali.”

Sebelum memulainya, seberapa optimis Anda saat itu terhadap peluang bisnis Majalah Bog-bog?

Enggak, awal-awalnya saya pun enggak yakin kalau majalah ini akan menghasilkan uang. Tapi, ya karena saat itu belum ada kerjaan yang bisa kami usahakan, jadinya fokus dengan proyek ini. Waktu cetakan edisi pertama, Bog Bog rilis juga belum terlalu bagus. Kami pikir, ya yang penting ada dulu lah. Nanti dalam perjalanannya, kita bisa evaluasi lagi, yang penting jadi dulu edisi pertamanya. Saya masih ingat, edisi pertama Bog-bog rilis pada 1 April 2001. Ya April Mop, karena memang ingin disesuaikan dengan filosofi nama Bog-Bog itu sendiri. Bog-bog itu artinya bohong dalam Bahasa Bali. Saya melihat bahwa kartun itu sendiri sebenarnya bersifat bohong dan abstrak. Tapi konteks ‘bohong’ disini dimaksudkan untuk menghibur. Lihat saja film-film kartun, bagaimana karakternya yang dibanting jutaan kali, tetap saja enggak mati-mati kan. Kelebihan Bog-bog adalah bagaimana kartun-kartunnya mampu menyampaikan sebuah pesan dengan tanpa kata-kata. Itu yang berusaha kami tonjolkan.

Katanya dulu sempat digratiskan ya?

Di awal pendirian, bog-bog benar-benar murni hidup dari iklan. Waktu itu belum ada merchandise, tapi sebenarnya di otak saya konsep bisnis merchandise bog-bog itu sudah ada sejak awal pendirian. Lumayan banyak yang ingin beriklan dengan kita. Malah banyak hotel mengirimkan e-mail positif atas terbitnya Bog-bog. Dulu kami sengaja gratiskan, namun lama-kelamaan kami buat berbayar. Itu akibat dari permintaan oplah yang cukup banyak dan demi menekan cost produksi. Bog-bog itu ternyata tidak hanya digemari oleh tamu-tamu asing, malah tukang parkir atau juru masak hotel sekalipun kerap mengambil majalah ini. Jadi, biar nggak asal ngambil dan semuanya dapat majalah, kami terpaksa jadikan berbayar saja.

Selamat, Bog-bog telah melewati usia 1 dekadenya. Bagaimana Anda dan tim mampu mempertahankan konsistensi ini?

Melewati satu dekade ini tidak mudah. Banyak yang bilang setelah berhasil melewati fase 10 tahun, maka majalah ini sudah pasti settle dan setidaknya bisa dikatakan cukup legend. Kami sadar, bahwa kami berada di dalam lingkaran industri kreatif. Oleh karena itu, manajemen Bog-bog ini kami perkuat. Mulai 2003, kami buatkan tim manajemen dengan orang-orang yang berkapasitas di bidangnya. Dari yang semula hanya tiga orang saja, kini tim Bog-bog jumlahnya sudah 13 orang. Kami kembangkan bisnis kreatif yang kami miliki dengan membuat merchandise dan membentuk BOG Design. Majalah tetap menjadi ujung tombak Bog-bog yang membuat kita dikenal di mana-mana. Sementara BOG Design ini memberikan support jasa bagi mereka yang menggelar event dan membutuhkan jasa kartunis untuk membuatkan cendera mata kartun secara on the spot.

Seperti apa fase krisis yang pernah dilalui Bog-bog dalam satu dekade perjalanannya ini?

Sebelumnya kami sempat mengalami pasang surut. Pasca Bom Bali, Majalah Bog Bog sempat terkena imbasnya. Namun, lantaran banyaknya dukungan dari tokoh masyarakat dan elemen pariwisata, membuat kami bisa berdiri lagi. Banyak yang berharap, agar Bogbog bisa menunjukan kepada dunia, bahwa Bali masih bisa tersenyum dan bangkit pasca Bom Bali. Pada tahun 2006, kami kembali merasakan titik krisis dalam Bog Bog. Saat itu, saya dan Ebo selaku founder merasa jenuh dan ingin menyudahi majalah ini. Intinya, kami jenuh dengan segala rutinitas Bog-Bog. Saya dan Ebo juga tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi. Hanya majalahnya saja yang kami ingin hentikan. Sementara untuk bisnis merchandise dan BOG Design masih tetap akan kami jalankan. Buru-buru saya umumkan kepada tim, bahwa akan diadakan pertemuan untuk mengabarkan pemberhentian majalah ini secara resmi. Namun, sebelum itu terjadi, manajer saya mencoba memberikan saran untuk tidak menutup Bog-bog. Majalah ini ternyata memberikan kontribusi dalam penguatan keuangan kami.

Sebenarnya saat itu, kami juga masih mengalami problem dalam hal keuangan. Manajer kami ini pun memberikan opsi bahwa jika kami bersikeras menamatkan perjalanan Bog-bog, kami pun dipaksa harus mencoret empat karyawanya, demi menjaga stabilitas keuangan perusahaan. Namun, sebagai founder yang telah lama bersama-sama dengan tim ini, saya menjadi tidak tega. Jadi kami memutuskan untuk tetap menghidupkan majalah ini dan mencari akar permasalahan dalam sistem kerja kami. Ibaratnya, jangan sampai hanya karena mencari tikus, kami harus membakar rumah sendiri. Jadi, secara perlahan kami evaluasi cara kerja, manajemen, dan tim kami. Semuanya berproses, hingga kami bisa sekuat sekarang.

Punya impian yang belum tercapai untuk Bog-bog?

Saya berkeinginan untuk membuat semacam galeri kartun yang berkonsep one stop shopping. Siapa pun bisa menikmati karya bog bog, sambil ngopi-ngopi dan melihat langsung proses kreatif para kartunis kami di galeri tersebut.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter