Interview with Aviliani – Being Public Figure in Economic

Ia adalah Aviliani. Namanya mungkin tak sepanjang dengan berbagai prestasi yang ditorehkannya selama ini. Wanita kelahiran Malang, 14 Desember 1961, tengah disibukan dengan rutinitas sebagai Komisaris Independen PT. Bank Rakyat Indonesia, Ketua Komite Audit PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk, hingga Peneliti Senior INDEF. Selain itu, wanita yang telah berhasil meraih gelar doktornya di S3 Program Doktor Manajemen Bisnis Institute Pertanian Bogor ini juga masih aktif mengajar sebagai dosen di STIE Nusantara.

Beruntung seusai pemaparannya di Seminar Perbarindo, Bali (7/12) lalu, Aviliani menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan Putra Adnyana, reporter Money & I perihal kehidupan personal, karir, impian dan keluarganya, berikut penuturannya.

Apakah sejak kecil Anda sudah bermimpi untuk menjadi seorang Ekonom?

Waktu kecil itu, saya malah berpikir pokoknya pengen masuk TV. Namanya juga cita-cita masa kecil. Kemudian pas lulus SMA saya lihat jadi pegawai bank itu kayaknya enak ya. Tapi baru pada tahun 1998, saya lebih menekuni bidang ekonomi gara-gara di ajak bergabung dengan INDEF (Institute for Development of Economic and Finance). Kebetulan saat itu memang di ajak oleh salah satu dosen saya. Setelah di INDEF, saya menjadi peneliti ekonomi. Selang beberapa lama, saya mulai menggantikan senior-senior saya untuk menjadi pembicara Ekonomi. Kemudian datang kesempatan dari beberapa radio untuk mengisi analisis pendek tentang perekonomian. Terus muncul sebagai salah satu host di TV sekitar tahun 2000-an. Baru dari sanalah saya menekuni bidang ekonomi secara praktis dan lebih mendalam. Lantas tahun 2005 saya ditawari untuk menduduki posisi komisaris bank. Akhirnya cita-cita saya untuk bisa kerja di bank tercapai juga.

Bukankah Anda juga berprofesi sebagai dosen?

Ya, sesungguhnya latar belakang saya adalah dosen. Semenjak tahun 1989, saya jadi dosen di STIE Perbanas, sekolah yang bergerak tentang perbankkan. Di sana saya sudah 17 tahun mengajar.  Meski kini saya adalah pakar ekonomi, saya tetap berpikir bahwa mengajar itu penting karena merupakan bagian dari sharing ilmu. Tidak cuma sharing tapi saya juga kecipratan ilmu-ilmu yang baru. Maka dari itu meski disibukkan sebagai pakar ekonomi sekaligus komisaris bank, saya tetap menyempatkan diri untuk mengajar.

Publik pun lebih mengenal Anda sebagai seorang pengamat ekonomi lantaran sering muncul di televisi dan berbagai workshop ekonomi. Bisa beri komentar?

Kata orang sih, bukan kata saya ya! Ketika saya menjelaskan suatu hal yang menyangkut ekonomi, saya menggunakan bahasa yang justru mudah dicerna oleh orang-orang awam. Biasanya kan banyak pakar ekonomi bicaranya datar yang bikin orang susah untuk mengerti. Bahasa ekonomi itu perlu disederhanakan. Saya pun berusaha untuk mengerti kebutuhan pendengar saya. Entah bagaimana pun caranya, saya berusaha untuk membuat mereka mengerti apa yang saya sampaikan. Dalam setiap penyampaian, saya juga menekankan tentang optimisme. Karena bagi saya, di setiap ancaman pasti ada peluang dan jalan keluar. Banyak pakar yang selalu memberikan aura pesimis dalam setiap pandangannya. Ini yang tak ingin saya lakukan.

Bagaimana Anda berkontribusi terhadap pemerintahan sekarang?

Kini saya tergabung dalam Komite Ekonomi Nasional. Lebih banyak melakukan studi-studi yang hasilnya bisa dijadikan masukan serta rujukan untuk Presiden. Komite ini juga bertindak secara proporsional, karena lebih melihat fakta di lapangan. Kemudian hasilnya kita sampaikan ke Presiden. Jika pun nantinya tidak ditindak lanjuti, yang penting kami sudah memberikan pandangan-pandangan yang jelas.

Bagaimana Anda menempatkan diri saat beradu debat dengan pakar-pakar ekonomi yang notabene pria?

Saya nggak pernah merasa kalau perempuan itu berbeda dengan laki-laki. Saya pikir posisi kita adalah sama dan perempuan tak melulu tersudut di posisi yang minor. Ini sih memang tergantung dengan kadar kepercayaan diri kita masing-masing. Ya, sejauh ini saya tak pernah terdeskreditkan dengan permasalahan gender tersebut. Karena saya merasa kita adalah sama.

Menurut Anda bagaimana posisi atau peran wanita Indonesia di bidang pembangunan ekonomi nasional saat ini?

Saya lihat masih sedikit. Memang ada beberapa ekonom wanita yang makin bergeliat. Namun, keuntungan saya mungkin karena saya pernah bekerja di sebuah perusahaan jadi tahu antara penelitian dengan kondisi di lapangan. Mungkin banyak pengamat yang pandangannya masih di tataran awang-awang, cenderung teoritis. Bisa jadi pandangan yang diberikan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Makanya saya menyarankan dosen-dosen untuk main di riset, supaya kita tahu kalau kondisi di lapangan terkadang tidak sesuai dengan teori yang ada. Ketika ditanya oleh masyarakat pun, kita bisa lebih mudah menjelaskannya melalui fakta-fakta lapangan ketimbang teori. Keuntungan lainnya, saat saya memegang jabatan komisaris, saya pun jadi memahami sektor riil.

Mengapa pakar ekonomi wanita jarang muncul ke publik, selain Anda tentunya?

Bukannya tidak muncul. Sesungguhnya muncul atau tidaknya seseorang itu diukur dari bagaimana penerimaan publik terhadapnya. Mungkin banyak wanita yang punya keahlian tapi sayangnya pengakuan oleh publik kurang. Mendapatkan pengakuan oleh publik itu justru menentukan apakah nantinya kita akan sering di undang atau tidak sebagai pembicara. Saya juga bukan tipe orang yang tinggi hati. Kan banyak juga orang-orang kalau sudah posisinya di langit, mereka akan melabeli harga pada dirinya. Saya bukan orang yang seperti itu. Saya tipe orang yang easy going kalau ada undangan untuk jadi pembicara saya lebih melihat situasinya saya bisa atau tidak. Misalnya saat saya diundang untuk jadi analisis ekonomi di radio, saya terima. Karena implikasinya justru bukan dari radio, tapi dari para pendengar analisa saya di radio tersebut. Jika makin banyak pendengarnya, tentu undangan-undangan lainnya tak akan terelakkan dan jelas makin memperbanyak relasi.

Bagaimana suka dan duka Anda sejauh ini meniti karir di bidang ekonomi?

Wah kayaknya lebih banyak sukanya ya, ketimbang dukanya. Dukanya ya mungkin kalau banyak yang menilai masalah penampilan saya misalnya di rambut atau apalah. Bagi saya hidup itu dijalani seperti air yang mengalir. Bukan berarti maksudnya tidak memiliki prinsip. Karena jalan hidup seseorang itu sudah ada yang menentukan, jadi kita nggak perlu terlalu ambisius yang akhirnya mengandalkan segala cara. Kita boleh punya mimpi, tapi biarkan mimpi itu berjalan sendirinya. Ya, lebih bagus ada orang yang menilai kita ketimbang kita yang menilai diri kita sendiri. Saat orang-orang ramai melamar jadi komisaris, saya justru ditawarkan begitu saja. Di sini, saya sadar bahwa merekalah yang menilai kinerja saya sehingga saya mendapatkan tawaran posisi komisaris tanpa melamar sekali pun.

Bisa ceritakan tentang gaya busana yang sering Anda pilih dan kenakan setiap muncul di publik? 

Saya sih tidak terlalu mengikuti mode atau trend. Saya lebih suka pakai batik. Jadi kalau mau ke acara mana pun, pasti saya mengenakan batik. Sudah saatnya kita mempromosikan produk lokal terutama batik.

Bagaimana membagi waktu dengan keluarga di tengah kesibukan Anda?

Keluarga memang butuh pengertian. Tak semua bisa memahami kesibukan saya. Jadi saya mulai mengajarkan anak saya untuk memahami rutinitas saya. Pernah saya ajak anak saya itu ikut siaran sampai malam, mereka pun mulai memahami kalau kerja itu susah. Bahkan saat mereka saya ajak berbelanja, selalu mempertimbangkan kembali barang-barang yang mereka beli. “Itu kemahalan nggak, kalau mahal nggak jadi deh kasihan uangnya” begitu kata anak saya.

Biasanya kalau waktu luang, saya dan anak saya menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, nonton di bioskop atau dengerin musik. Bahkan anak saya yang baru 10 tahun itu sudah seneng dengerin One Direction dan menunjukannya ke saya. Oh ya kalau weekend biasanya saya suka masak berdua dengan anak saya.

Mungkin, Anda punya hobi lain?

Oh ya saya suka melatih suara dengan organ yang seperti karaoke itu lho! Ya nyanyi itu terkadang sangat baik untuk melatih pernafasan.

Apakah ada persiapan khusus sebelum tampil sebagai pembicara dalam suatu acara?

Yang jelas saya tidak pernah ikut kursus kepribadian atau vokal sekalipun ya! Saya belajar dari pengalaman saat menjadi pembicara di Metro TV tahun 2003 lalu. Saya diajarkan bagaimana tampil di depan kamera oleh kru setempat. Sekaligus dalam hal artikulasi pun.

Adakah tokoh ekonom yang Anda idolakan?

Ehm…Roubini, itu lho yang sering dijuluki Dr.Doom.

Bisa ceritakan masa-masa kuliah dulu?

Apa ya…, dulu saya nggak terlalu banyak aktivitas dalam kampus, meski saya juga mengikuti ekstrakurikuler Menwa. Soalnya saya dulu kerja sambil kuliah, nggak punya waktu main banyak. Dulu saya kerjanya di Martha Tilaar pas di bagian keuangan. Yang paling membekas justru saat saya di semester 2. Saat itu saya kekurangan uang untuk membayar biaya kuliah. Syukurnya ada orang tua asuh dari lingkungan kampus yang memberi saya uang Rp 275.000 dan karena itulah saya akhirnya bisa lulus kuliah. Mulai dari sanalah saya berpikir, jika kita membantu orang meski tidak seberapa tapi itu akan sangat berkontribusi dalam membuat orang tersebut menjadi seseorang

Lalu bagaimana pendidikan di dalam keluarga sendiri?

Justru saya belajar banyak dari pengalaman di keluarga dulu. Sesungguhnya malah cenderung belajar dari pengalaman buruk. Bukannya ikut keluarga sendiri, saya dulu ikut sama tante-tante saya. Dari satu tante ke tante lain. Jadilah saya pindah dari satu sekolah ke sekolah lain. Saya tidak merasakan bagaimana di didik keluarga sendiri. Saya justru banyak mendapatkan pelajaran dari keluarga tante-tante saya itu. Ada yang didikannya keras, ada pula yang biasa-biasa saja. Dari pengalaman itulah saya belajar tentang bagaimana mendidik anak saya semestinya kini.

Adakah harapan-harapan Anda ke depannya yang belum tercapai, atau mungkin harapan untuk negeri ini?

Mungkin harapan saya lebih mengarah pada generasi muda. Saya berpikir bahwa generasi-generasi sekarang, kurikulum pendidikannya diarahkan untuk menjadi pegawai. Selain itu kenapa orang miskin itu tidak naik kelas, ya faktor utamanya bukanlah karena pendidikan tapi lebih pada tingkat gizinya. Di Indonesia itu pendidikannya yang gratis tapi kesehatan dan gizi justru mahal. Harusnya pemerintah memikirkan tingkat gizi masyarakat terlebih dahulu baru kemudian persoalan pendidikan. Bagaimana orang bisa berpikir jika tidak didukung dengan asupan gizi yang memadai. Untuk itu saya punya mimpi untuk mendirikan sebuah asrama seperti panti tapi bukan sejenis panti asuhan. Orang-orang bisa menyerahkan anaknya ke asrama tersebut, dimana kemudian kita didik dari nol. Masa-masa emas anak seperti itu biasanya kurang diperhatikan oleh orang tua. Saya ingin bikin sekolah yang bisa mendidik anak-anak tersebut menjadi seorang entrepreneur bukan malah menjadi pegawai.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri