Indira Mahardika – Brand Passion & Lifestyle

Barangkali banyak yang mengerutkan dahi, siapakah sesungguhnya sosok Indira Mahardika. Perempuan kelahiran Jakarta, 23 September 1985 ini adalah otak kreatif di balik kesuksesan sebuah brand bernama ROUGE. Datang ke Bali demi mengadu nasib. Indira melihat celah dan titik terang melalui industri fashion di Bali. Koleksi ROUGE-nya menampilkan kreatifitas mutakhir dari seorang penggemar mode. Menggunakan kulit ular sebagai daya tarik utama, Indira menghadirkan desain-desain sepatu dan tas yang elegan dan menawan. Ditambah lagi produknya tersebut sempat di export hingga mancanegara seperti Rusia, Jepang dan Mongolia.

Koleksi sepatunya juga turut menghiasi panggung catwalk bertaraf nasional dan Internasional semisal Hongkong Fashion Week, Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Week. Bagi cewek yang menyelesaikan pendidikan master komunikasinya di De Hague, Belanda ini, ROUGE adalah hasil eksperimental dari idealismenya yang benar-benar berkarakter kuat. Cewek yang mengaku tidak mengonsumsi daging namun hanya seafood ini, sangat menikmati proses kreatifnya itu. Proses yang mencakup aktivitas dalam membangun sebuah brand, mendesain, mengonsep story collection, mengumpulkan material, hingga segala ‘tetek bengek’ produksi. Di bilangan Gunung Mas, Denpasar. Di dalam sebuah bangunan setengah jadi yang akan dideklarasikan sebagai studio workshop terbarunya tersebut. Indira membagi ceritanya perihal karir, passion dan impiannya kepada Andy Putera reporter Money&I.

Mengapa Anda tertarik untuk terjun ke industri fashion?

Saya tertarik di fashion, karena hmmm….(terdiam). Sesungguhnya ini pertanyaan yang agak sulit, karena nyatanya saya sama sekali tak memiliki latar belakang fashion. Background saya malah komunikasi, spesifiknya cooperate communication. Benar-benar tidak ada sangkut pautnya dalam hal mendesain sebuah produk. Ini cenderung sangat mendukung dalam branding produk. Sederhananya, saya benar-benar tdiak punya pendidikan desain maupun seni.

Saya sih suka fashion untuk diri saya sendiri. Saya juga enggak melihat bahwa saya bisa bikin sepatu dan tas dari segi fashionnya. Saya lebih melihat dari segi bisnisnya, serta apa yang bisa saya perbuat di Bali. Dulu saya sekolah di Belanda dan sempat kerja disana. Tiba-tiba saya jadi tipikal orang yang enggak bisa kerja sama orang lain. Saya menjadi tipikal orang yang terus memburu opportunity, apa yang bagus dan bisa saya lakukan. Semuanya benar-benar berangkat dari motivasi bisnis. Jadi boleh dikata fashion hanya sekedar hobi saja. Hobi yang berbisnis.

Bisa ceritakan lagi tentang studi komunikasi yang Anda tempuh, mengapa anda memilih bidang ilmu tersebut?

Komunikasi yang saya pelajari ini bukanlah tentang bagaimana tata cara berbicara yang baik dengan seseorang, melainkan lebih ke dalam strateginya. Ada perbedaan antara marketing dan marketing coorporates. Kalau dalam marketing, kita bertindak sebagai sales yang harus menjual sebanyak-banyaknya produk yang kita miliki. Sementara marketing cooperate atau branding marketing itu lebih menekankan pada pencitraan, tentang bagaimana caranya membuat imej kita naik. Misalnya, nama Louis Vuitton sendiri lebih branding. Mungkin bisa saja harga tas-nya nggak seberapa. Tapi kan justru orang lebih memilih brand. Orang lebih suka membeli Louis Vuitton itu sendiri ketimbang menimbang-nimbang bentuk dan kualitas produknya terlebih dahulu.

Bagaimana Anda mengawali bisnis fashion yang Anda geluti saat ini?

Awalnya sekitar tahun 2009, saya mulai menyelesaikan pesanan beberapa klien yang ingin membuat tas-tas kulit ular. Jadi ada orang yang menginginkan tas dengan model tertentu, kemudian dia cari-cari namun sayangnya nggak ketemu. Nah, orang tersebut datang ke saya dan meminta untuk dibuatkan tas persis seperti model yang ia inginkan. Saya pun kemudian mulai upgrading. Ya, yang dari awalnya hanya membuat tas-tas dari desain pesanan orang. Saya juga pernah melakukan eksport ke Belanda. Kebetulan saat itu ada klien yang ingin dibuatkan tas-tas cowok dan sepatu.

Mengapa di Bali ?

Kebetulan saya sudah menetap di Bali sekitar tahun 2009. Kemudian saya mulai berpikir tentang oppurtunity di sini. Di Bali itu sendiri, prospek untuk membuat kerajinan tangan itu sangat menjanjikan. Salah satunya yang saya pantau adalah kerajinan tangan yang berupa tas dari kulit ular sangat banyak diproduksi di Bali. Saya pun akhirnya berniat untuk memproduksinya dengan bantuan dari tukang jahit di sini. Lalu saya jual ke Jakarta. Barulah lanjut dengan produksi massal yang pada akhirnya memaksa saya untuk membuat workshop sendiri. Di Bali juga kegiatan eksport-nya lebih terasa, karena banyak orang-orang asing dari Italia hingga Australia yang lebih tertarik dengan barang-barang buatan pengrajin Bali.

Kenapa material kulit?

Saya memang tahu ada beberapa desainer kulit dari Bali yang sudah terkenal. Di tahun 2009-2010, tas dengan material kulit ular lakunya sudah kayak kacang aja di Jakarta. Ya bisa dibilang dulu itu lagi musimnya tas kulit ular. Tahu sendiri, produk dengan material kulit ular tergolong mahal. Harganya pun selangit. Anehnya orang-orang tetap mau beli. Awalnya saya melihat ada beberapa barang dari segi desain biasa-biasa saja, dan saya pun kemudian berpikir “Saya bisa lho ngerjain yang seperti ini”. Saya pikir kualitas produk yang saya buat bisa lebih bagus dari yang pernah ada dipasaran.

Apakah bisnis fashion yang Anda geluti saat ini menjanjikan untuk wakt kedepan?

Lumayan sih menjajikan. Saya selama ini melakukan consignment. Belum punya toko sendiri. Tapi produk-produk dari brand saya itu, saya taruh di mall-mall besar di Bali maupun Jakarta. Untuk saat ini, saya lebih mementingkan workshop daripada punya toko sendiri. Karena, sejauh ini malah saya juga diminta untuk membantu brand-brand lain.

Ada niatan beralih untuk merancang busana?

Untuk saat ini sih belum. Memang pernah ada niatan kesana. Tapi saya pikir lagi, semestinya saya harus fokus pada apa yang bisa saya kerjakan terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Saya harus tahu kapasitas kemampuan saya, meski saya juga ingin mencoba ini dan itu. Salah satu pertimbangan lagi adalah membuat sebuah rancangan busana itu tak semudah membuat tas ataupun sepatu. Terutama dalam hal sizing. Itu benar-benar sangat merepotkan, karena kita benar-benar harus teliti dalam mengukur baju seseorang, tak seperti sepatu atau pun tas.

Apa resepnya agar bisa bertahan lama di industri fashion?

Meski kamu nggak punya background fashion sebelumnya, setidaknya kamu punya sense of fashion dalam diri kamu. Selain itu strategi branding juga mesti ada. Kalau saya hanya mengikuti brand orang, kapan dong saya bisa membuat brand saya muncul dengan karakternya sendiri. Saya ingin saat orang melihat brand saya, dia langsung mengenali bahwa itulah karakter unik dari produk yang saya ciptakan.

Bagaimana dengan desainnya, apa memang punya hobi menggambar sebelumnya?

Bisa dikatakan saya otodidak, saya memang suka gambar, saya itu orangnya agak eksentrik, kalo saya melihat sesuatu misalnya sepatu, saya pasti jadi banyak maunya, saya ingin beli sepatu itu, tapi nggak mau ada ini-nya lah. Saya lebih suka yang aneh. Karena itu saya lebih prefer untuk buat sendiri sesuai dengan keinginan saya. Waktu TK (tertawa), saya pernah lho bikin sepatu sendiri. Saya gunting-gunting sepatu saya hingga jadi beda bentuknya. Saya tambahkan pita dan aksesoris lainnya pada sepatu saya tersebut.

Menurut Anda fashion itu apa, dan selain peluang bisnis, apa yang menarik dari industri ini?

Kalau kita kaji dari luar, fashion itu terlihat begitu wow! Bagi saya definisi fashion itu luas banget, fashion itu bukan hanya baju, tas, sepatu dan aksesoris. Fashion itu pada dasarnya adalah lifestyle seseorang

Fashion itu bagaiman cara kita menciptakan sebuah gaya hidup yang sekaligus membuat orang disekeliling kita tertarik untuk masuk ke dalam lifestyle yang sudah kita buat itu. Nah, itulah kehebatan seorang fashion desainer. Dia membuat sebuah rancangan yang baru, dimana style-nya bisa diikuti oleh orang-orang. So, fashion itu adalah gaya hidup yang ingin dibentuk seseorang melalui imej-nya dalam sebuah komunitas. Kalau baju dan segala aksesoris, bagi saya adalah sarana pendukung untuk menuju lifestyle itu sendiri.

Apakah Anda tidak membuat ‘turunan’ dari Rouge?

Ya, saat ini sedang mengerjakan 2nd line saya yang bersifat mass production. Nama brand-nya Geranimo. Disini, saya selaku desainer dan produsen. Sementara itu partner kerjasama saya adalah distributornya

Dalam fashion genre apa yang ingin Anda bentuk?

Saya suka gaya kontemporer, karakteristik brand saya merupakan suatu yang modern tapi juga klasik. Klasik yang lebih timeless.

Siapa idola anda dalam industri fashion?

Hmm…kalau dari desainer saya suka John Galliano. Sementara untuk model dan style, saya suka Kate Moss. Kalau di dunia seni, saya suka dengan Vincent van Gogh. Saya suka idealismenya dalam menciptakan suatu karya yang sudah forward. Saat di jamannya, dia belum mengenali sendiri teknik yang dia buat. Namun untuk di masa depan, justru teknik dan lukisannya adalah barang berharga dan sangat langka.

Punya hobi selain fashion?

Sebenarnya hobi saya itu berpikir. Beneran! Bukannya berpikir yang enggak penting. Mungkin karena saya tipikal orang yang suka menganalisa sesuatu. Saya juga suka rafting dan menulis. Waktu kecil malah saya pernah memprediksi kalau saya akan jadi seorang novelis. Tapi kenyataannya nggak! Saya pernah kepikiran jadi scriptwriter lho, karena saya suka membayangkan sebuah sinematografi film saat menulis sesuatu.

Apa obsesi atau mimpi yang belum terwujud?

Salah satu goal dalam hidup saya, tidak hanya mengerjakan brand saya, Rouge saja. Saya ingin mengerjakan sesuatu yang saya rasa mampu untuk itu. Mungkin saja saya ingin bisnis villa. Saya punya mimpi bisa membuat sebuah coorperate brand. Bayangkan, dengan satu nama brand, kamu bisa membuat aneka produk, bisa furniture, property, baju dan lain-lain. Semuanya terkoneksi pada satu kata yakni ‘lifestyle’.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri