I Wayan Balawan – Jazz untuk Semua

Balawan meraih sebuah gitar di hadapannya. Jari-jarinya mulai meraba-raba senar seraya memasang kuda-kuda. Lantas, ia pun memainkan sebuah tembang populer milik John Legend bertajuk All of Me. Bunyi merdu permainan gitarnya berbaur dengan suara khas vokal Balawan. Suasana studionya di Balawan Music Training Centre itu pun mendadak melankolis dibuatnya..”

Menariknya untuk memproduksi nada-nada indah tersebut, Balawan tidak memetik gitarnya seperti kebanyakan gitaris lakukan. Justru Balawan memencet senar-senar gitarnya bak tengah memainkan sebuah piano. Ia menerapkan sebuah teknik berbeda di sana, yang kemudian menjadi ciri khas seorang Balawan, yakni touch tapping style. Teknik ini memungkinkan delapan jari aktifnya bermain lincah di antara senar-senar gitar. Melalui teknik itulah, julukan sebagai pemilik magic fingers disandangnya.

Di Indonesia, Balawan dapat dikatakan sebagai pelopor teknik touch tapping style. Bahkan di setiap gelaran musik, Balawan menjadi satu-satunya musisi Indonesia yang kerap bermain menggunakan dua gagang gitar. Praktis, kemampuan Balawan dalam mengeksplor teknik bermusik membuat namanya mendunia dan disejajarkan dengan para gitaris kelas dunia seperti Eric Monterain, Steve Vai, dan Eddie Van Hallen. Teknik touch tapping style yang diterapkan Balawan sejatinya adalah pengembangan dari teknik touch system yang pertama kali digagas oleh Jimmy Webster. Di luar negeri, teknik ini sudah banyak dikembangkan oleh gitaris-gitaris kondang, seperti Merle Travis, Mark Laughlin, Eddie Van Hallen, dan Eric Monterain. Di tangan balawan, touch tapping style yang dimainkan merupakan ala nya sendiri.

Tidak hanya touch tapping style yang membuat permainan Balawan punya magnet tersendiri. Pria yang bernama lengkap I Wayan Balawan ini juga senang mengeksplorasi musik etnik dan mengolaborasikannya ke dalam permainan jazz-nya. Puncaknya adalah saat Balawan membentuk sebuah grup musik etnik Bali bernama Batuan Ethnic Fusion, di mana musisi-musisi yang tergabung di dalamnya berasal dari kampung halaman Balawan sendiri, yakni di Desa Batuan, Gianyar. Pun mereka adalah kawan-kawan semasa kecilnya, antara lain I Wayan Suastika, Wayan Sudarsana, Nyoman Marcono, Nyoman Suwidha, Gusti Agung Bagus Mantra, Gusti Agung Ayu Risna Dewi, dan Ito Kurdhi.

Batuan Ethnic Fusion mampu mengawinkan instrumen musik tradisional Bali, seperti kendang, rindik, cengceng, suling, reong, dan genggong, dengan instrumen musik modern semisal drum, flute, gitar, keyboard, bahkan bass sekalipun. Bunyi-bunyian yang diproduksinya pun begitu fantastis dan mampu memberikan warna baru di ranah musik jazz. Balawan sendiri membentuk Batuan Ethnic Fusian pada tahun 1997, tahun di mana ia kembali ke Indonesia usai merantau di Australia dan mendapatkan gelar Diploma of Music dari The Australian Institute of Music. Di Negeri Kangguru, Balawan mendapatkan beasiswa selama tiga tahun untuk belajar musik, terutama memperdalam teknik bergitarnya. Pria kelahiran 9 September 1973 ini juga sempat berkarir sebagai gitaris profesional di Sydney selama dua tahun.

Musik telah menjadi bagian hidup seorang Balawan sejak usianya masih 8 tahun. Gamelan Bali lah yang menjadi awal perkenalan Balawan dengan dunia musik. Melalui gamelan Bali, ia belajar tentang harmonisasi nadanada pentatonik dan teknik kecepatan bermain. Menginjak usia remaja, Balawan mulai kepincut dengan alat musik gitar. Tak tanggung-tanggung, Balawan juga bereksperimen dengan aliran musik rock. Musik Deep Purple dan The Beatles pun kerap dibawakannya. Bahkan, ia sempat punya band rock di masa SMA yang sering membawanya ikut kompetisi musik bergengsi di zamannya.

Sepanjang karir bermusiknya, Balawan telah merilis lima album studio. Di awali dengan peluncuran album debut bertajuk GloBALIsm pada tahun 1999, di mana juga menyertakan kolaborasi apiknya bersama Batuan Ethnic Fusion. Di bawah label rekaman Chico & Ira Productions, album ini diproduseri langsung oleh Dewa Budjana. Album ini terbilang sangat idealis, karena mampu menampilkan daya eksplorasi musik baru oleh Balawan bersama Batuan Ethnic Fusion.
Sementara pada tahun 2001, Balawan merilis album self titled-nya yang direkam di stasiun RRI (Radio Republik Indonesia) di Denpasar dan dibantu oleh Jimmy Sila bersama Acoustic Music Records, sebuah label rekaman asal Jerman.
Album keduanya ini bisa dikatakan memiliki kombinasi antara musikalitas standard dan musik tradisional Bali. Lagu Bali populer seperti Putri Cening Ayu dibawakannya dengan teknik touch tapping pada gitar bersenar 12 di dalam album ini. Magic Fingers keluaran 2005 merupakan album ketiga Balawan yang mampu membuatnya dikenal luas oleh penikmat musik tanah air. Semua Bisa Bilang menjadi tembang paling favorit di album tersebut.

Balawan selalu wara-wiri mengharumkan nama Indonesia di panggungpanggung musik dunia. Sudah puluhan festival musik berskala Internasional disambanginya, seperti East Meet West Gitarren Festival Edenkoben Germany (2000), Open Strings Guitar Festival Osnabrueck Germany (2000), Tour International Guitar Nights in 12 Cities in Germany (2001), Hell Blues Festival in Trondheim Norway September (2001), Hell Blues Festival in Trondheim Norway (September 2005), Australian Tour 4 Cities with Batuan Ethnic Fusion (Oktober 2005), Pop Asia Fukuoka Japan (October 2005), Tokyo Asia music Market Tokyo Japan (2005), dan lain-lain.

Kini Balawan tidak hanya berekspresi di atas panggung dan di dalam studio rekaman, akan tetapi suami dari Ni Gusti Ayu Kamaratih ini juga tengah mengelola sebuah sekolah musik yang diinisiasinya sendiri sejak tahun 2013, bernama Balawan Music Training Centre (BMTC). Di sekolah yang berlokasi di bilangan Suli, Denpasar itu pula, reporter Money & I Magazine berkesempatan mewawancarai beliau. Dalam obrolan hangat sepanjang 45 menit tersebut, peraih penghargaan The Icon di ajang Entrepreneur Festival 2015 yang digelar Money & I Magazine dan BPR Lestari beberapa bulan lalu itu, tidak hanya menceritakan seputar karir musiknya. Melainkan, Balawan juga turut menguraikan ide-ide terpendamnya untuk sebuah misi mengembangkan potensi musisi-musisi jazz di Bali. Berikut petikan wawancara panjangnya!

Sedang sibuk apa akhir-akhir ini Bli Balawan?

Ada beberapa undangan untuk mengisi acara musik dan workshop, semacam klinik gitar di sekolah-sekolah musik, seperti di Sumatra dan Jawa.

Masih sering manggung di festival jazz di Jakarta?

Untuk yang tahun lalu memang tidak ikut serta. Malah rencanya saya ingin membuat festival musik jazz dengan branding sendiri di Bali. Niatnya sih festival ini akan digratiskan, biar semua orang lokal bisa menikmati musik jazz serta memberikan kesempatan bagi musisi-musisi lokal jazz untuk turut unjuk gigi. Sekarang sudah banyak festival jazz bertebaran di Indonesia, apalagi di Bali. Saya takutnya jika festival-festival ini sudah semakin besar tidak lagi merangkul musisimusisi lokal dan mereka hanya akan jadi penonton di daerah mereka sendiri.

Maksudnya terlalu banyak mengundang musisi luar negeri ketimbang musisi lokal?

Bukan masalah banyak musisi luar atau bagaimana, tetapi sekali lagi balik ke tujuan festival itu sendiri seperti apa. Apakah festival itu memang ingin mengembangkan potensi lokal atau hanya sekadar mengeksploitasi. Bisa saja kan hanya ingin mengeksploitasi, menjual nama dengan embel-embel Bali supaya dapat duit. Semestinya kan festival itu harus bisa melakukan sesuatu demi masyarakat lokal tanpa semata-mata hanya mengeruk keuntungan. Harus benar-benar memperhatikan timbal balik ke lokalnya itu seperti apa. Saya sangat ingin, apabila nanti ada musisi jazz ibukota datang mengisi festival ke sini, kalau bisa ia tidak bawa band-nya sendiri, tetapi coba ajak musisi lokal di sini untuk mengiringinya. Kan itu bisa membuat mereka ikut mengembangkan diri. Mereka akhirnya tidak akan jadi penonton saja, tetapi mendapatkan pembelajaran diri.

 

KALAU SAYA YANG SEKARANG INI ADALAH KOMPILASI DARI SEMUA YANG SAYA DENGARKAN ITU. NAH, KALAU ADA ORANG YANG MAU NIRU STYLE MUSIK SAYA, BISA SAJA. LATIHAN GITAR SAJA 8 JAM SETIAP HARI BARENG SAYA.”

 

Menarik sekali konsepnya. Apakah ada inspirasi lain yang mengilhami Anda untuk membuat festival dengan spirit semacam itu?

Saya terinspirasi dari apa yang Djaduk Ferianto lakukan lewat Ngayogjazz. Itu benar-benar festival jazz yang mampu melebur dengan wisata budaya. Ngayogjazz itu setiap tahunnya pindah-pindah tempat di Yogyakarta, dari satu desa ke desa lain. Mereka bisa bikin empat panggung di satu desa, di mana salah satunya menampilkan potensi budaya lokal, sehingga turisturis yang hadir juga bisa menikmatinya. Dan semuanya itu gratis. Bahkan kini penontonnya sudah mencapai puluhan ribu.

Kenapa Jazz selalu identik sebagai musik yang eksklusif dan segmented ?

Jazz itu sesungguhnya musik yang mudah masuk dengan unsur-unsur tradisi, pun dengan sistem gotong royong dan kebersamaan. Jazz itu sebenarnya musik orang miskin, bukan musik orang kaya. Merunut sejarahnya kan Jazz itu dulu sangat identik dengan zaman perbudakan kulit hitam. Tetapi sekarang berbeda. Kalau sekarang mindset-nya sudah diubah, di mana Jazz mulai sengaja dieksklusifkan, sehingga segmennya pun terkesan hanya untuk kelas atas. Saya melihat kenapa bisa dirancang seperti itu, karena untuk dijadikan sebagai produk komersil, Jazz tidak bisa dijual dengan mudah seperti halnya musik pop. Bisa jadi itu yang bikin dia dibuat mahal, agar bisa balance dengan capaian musik pop. Musisi Jazz kan jarang ada yang bisa jual CD banyak. Kayak album saya misalnya laku 20.000 copy saja sudah bagus banget, bandingkan dengan pop yang bisa jutaan copy. Cuma bedanya, meskipun album saya terjual hanya 20.000 keping, tetapi album saya yang keluaran tahun 1999 itu masih dicetak dan beredar hingga sekarang. Kalau album pop, meski mampu terjual hingga jutaan keping, tapi biasanya hanya akan ramai dicari sampai 6 bulan saja. Setelah itu enggak ada orang yang beli lagi. Apalagi kalau sering diputar di radio, pasti malas untuk beli lagi. Nah, kalau album jazz ini malah bisa dijual lebih lama.

 

Kalau ada orang yang mau niru style musik saya, bisa saja. Latihan gitar saja 8 jam setiap hari bareng saya. Tetapi seluruh kompilasi yang saya dengarkan dari sejak kecil hingga sekarang, itulah yang tidak bisa mereka copy. Secara teknik mungkin mereka bisa tiru, tetapi secara musikalitas tidak ..”

 

Di Bali sendiri, apakah banyak potensi untuk musik jazz?

Sebenarnya potensi jazz di Bali sangat besar, hanya saja masih banyak musisi Bali yang sudah terlanjur berada di zona nyaman. Banyak kan sekarang penyanyi jazz yang nyanyi di pub untuk menghibur wisatawan. Dari sana, mereka sudah bisa menghasilkan dan hidup sewajarnya. Banyak dari mereka pikirannya menjadi tertutup. Mereka tidak mau mencoba peluang lain. Tetapi kalau banyak ada festival-festival jazz di Bali, sebenarnya diharapkan pikiran mereka pun bisa mulai terbuka. Jadi mereka punya kesempatan untuk merambah panggung-panggung yang lain, selain hanya bermain untuk turis.

Sejak kapan Anda tertarik bermain gitar?

Awalnya terpengaruh dari lingkungan teman-teman SMA kakak saya yang sering datang ke rumah, nongkrong sambil main gitar. Di situ kemudian saya tertarik untuk belajar main gitar. Sementara untuk musik itu sendiri dari sejak SD saya sudah mulai mempelajarinya, yakni lewat gamelan Bali. Selain musik tradisional, saya sebenarnya dulu juga lebih suka pop. Ya musiknya Iwan Fals, Gombloh, pokoknya lagulagu evergreen. Seiring banyak bergaul, memberikan banyak pengaruh terhadap referensi musik saya. Saya punya paman juga ada yang suka musik oldies, bahkan dangdut sekalipun.
Kalau saya yang sekarang ini adalah kompilasi dari semua yang saya dengarkan itu. Nah, kalau ada orang yang mau niru style musik saya, bisa saja. Latihan gitar saja 8 jam setiap hari bareng saya. Tetapi seluruh kompilasi yang saya dengarkan dari sejak kecil hingga sekarang, itulah yang tidak bisa mereka copy. Secara teknik mungkin mereka bisa tiru, tetapi secara musikalitas tidak bisa. Itu sekali lagi yang akan membedakanya adalah proses jam terbang.

Apa yang menarik dari Jazz? Mengapa Anda begitu menyukainya?

Jazz itu sebenarnya lebih freedom. Pas era rock, kalau orang cari melodi pasti harus persis betul dengan kasetnya kan. Mau niru melodi lagunya siapa kan harus persis kayak di kasetnya. Tapi kalau jazz itu enggak. Kita yang malah disuruh berimprovisasi, bikin melodi sendiri, istilahnya ngarang sendiri. Beda lagi dengan musik klasik yang mengedepankan disiplin. Orang yang main klasik dituntut harus bisa baca not balok, main dengan jari-jari yang benar, hingga posisi tangannya harus diperhatikan. Nah, yang paling susah itu adalah kombinasi dari semua musik itu. Bagaimana bisa disiplin dan improve itu. Jazz memang yang paling susah. Semakin kita belajar semakin kita goblok. Itu yang kemudian buat kita terus penasaran untuk mencoba dan enggak akan ada kata berhenti untuk belajar.

Bagaimana awalnya Anda tertarik menguasai teknik Touch Tapping Style dan menjadikannya sebagai ciri bergitar seorang Balawan?

Dari pengalaman saya saat belajar di Sidney sekitar tahun 1992, banyak yang saya temukan orang jago main gitar. Kemudian saya berpikir, bagaimana ya caranya supaya saya bisa selevel dengan mereka, tapi punya style berbeda. Saya menyebutnya identical. Oke, saya ngomongin musik secara universal ya. Kenapa musik negara-negara lain bisa mendunia? Kenapa musik Indonesia tidak? Itu karena kita tidak berani membawa identitas bangsa sendiri. Mungkin karena terlalu banyak aspeknya. Musik Indonesia itu belum mampu menemukan identical-nya seperti apa, terlalu banyak identitas keragaman di dalamnya. Jadi saya berpikir bagaimana ya caranya agar saya punya identical sendiri. Saya putuskan untuk memulainya saja kalau begitu dari Bali. Saya mendapatkan kesempatan untuk tampil di sebuah festival jazz di Jerman pada tahun 2002 lalu. Sebelum mendapatkan undangan itu, saya sempat mengirimkan mereka video VHS yang berisikan permainan musik saya. Ketika mereka dengarkan, katanya musik saya beda. Waktu itu saya mainkan lagu-lagu Bali dengan menggunakan gitar. Padahal saingan saya banyak dari lima benua. Di situ saya bertemu banyak musisi yang datang dari berbagai budaya dengan identical-nya masing-masing. Mengenai tapping style itu tekniknya sudah saya pelajari sejak saya suka main rock. Bahkan sebelum sempat saya tahu teknik ini, saya sudah berimajinasi kalau suatu saat nanti saya akan memainkan gitar dengan semua jari saya. Waktu di Sydney ada orang yang bilang teknik yang saya mainkan itu pernah juga dilakukan oleh seorang musisi di Amerika. Barulah kemudian saya tahu teknik tapping style ini sudah sedemikian populer di sana. Saya sempat belajar dengan beberapa musisi yang menggunakan teknik ini juga. Kalau di Indonesia sekarang sudah banyak yang bisa teknik tapping style. Banyak juga yang menggunakan teknik ini sambil memainkan musik saya. Saya tidak masalah jika ada yang ingin copycat dan ingin menjadi Balawan. Ada satu yang perlu diresapi, untuk menjadi saya seperti sekarang itu harus berproses. Enggak ada yang instan. Orang kan maunya yang instan dan enggak mau mengikuti proses. Tapi yang seperti ini malah enggak bisa bertahan lama. Orang yang langsung melejit ke atas, jatuhnya nanti juga tidak mengenakan. Sama halnya ketika kita naik lift, terus kalau jatuh langsung ke lantai paling bawah. Kalau naik tangga, pasti saat jatuh juga akan pelan-pelan, dari satu anak tangga ke anak tangga lain, enggak mungkin langsung ke bawah.

Apa yang membuat Anda terdorong untuk mendirikan sekolah musik?

Potensi talenta bermusik sangat banyak di Bali. Meski begitu saya perhatikan daya kreasi anak-anak semakin berkurang. Kurikulum di sekolahnya membuat mereka tidak mendapatkan kesempatan bermain dan mengenal lingkungannya di sekitar. Sebenarnya orang tua diharapkan untuk bisa mendukung aktivitas kreatif anaknya, tidak hanya akademik di sekolah. Di sini, saya ingin anak-anak, orang dewasa pun bisa berkreasi dan mempelajari musik. Saya buatkan semacam space untuk opera musical, agar mereka juga bergaul dan menggali potensi diri saat tampil. Siapa pun sebenarnya bisa menguasai alat musik. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ada orang yang sudah punya talenta dan hanya dengan sedikit polesan latihan saja sudah bisa menguasai. Ada juga orang yang benarbenar tekun mempelajari musik dari nol dan mampu menguasainya. Intinya adalah latihan. Talenta tanpa dibarengi latihan itu mustahil. Selain itu juga harus didukung oleh lingkungan. Anak-anak sejak dini sebenarnya harus sudah diperkenalkan dengan suasana musik. Enggak perlu muter musik keras-keras di rumah. Cukup putarkan radio atau musik dengan volume kecil, sehingga mampu melatih sense of feeling, harmonisasi di alam bawah sadar mereka.

Apa yang melatarbelakangi terbentuknya Batuan Ethnic Fusion?

Itu karena saya ingin menggali potensi musisi tradisional dan mensejajarkan mereka dengan musisi-musisi instrument lainnya. Mereka jarang sekali diapresiasi. Masak cuma orang yang jago gitar saja yang
diapresiasi, sementara yang jago main kendang dan rindik tidak. Saya saring beberapa musisi tradisional di daerah Batuan yang jago dan saya ajak main di atas panggung, sejajar sama rata dengan musisi manapun.
Dengan pola-pola musik tradisional yang mereka punya, saya coba berkolaborasi dan mengeksplor berbagai macam nada. Hasilnya ada pengembangan musik di sana. Mereka pun jadinya bisa berbagai macam nada, di samping pola tradisional. Grup ini akhirnya juga bisa menunjukan kepada dunia luar, kalau gamelan Bali bisa seperti ini lho, enggak cuma Gong Kebyar. Jadi saya juga ingin menunjukan di mata dunia, bahwa musik Bali itu memungkinkan untuk dikembangakan dengan sesuatu yang baru.

Apakah tidak takut jika pengembangan musik tersebut justru direspon secara negatif oleh masyarakat lokal?

Ya suka dan enggak suka kan sah-sah saja ya. Sempat memang ada yang enggak suka dengan eksplorasi musik yang saya tawarkan di album Globalism. Tapi itu enggak masalah. Musik itu you are what you hear. Perkembangan musik itu seiring dengan intelegensi dan referensi musik orang itu sendiri. Di Bali, kalau misalnya kita dengernya gamelan saja, mungkin hanya musik itu saja yang bisa buat kita nyaman. Atau mungkin hanya dengar musik rock saja, itu yang mereka bilang nyaman, sementara yang lain sampah. Jadi bisa ibaratkan jika ada langit di musik itu di atasnya lagi masih ada langit.

Apa project baru Anda untuk ke depannya?

Saya banyak utang album baru nih. Materi juga sudah ada sebenarnya. Selain itu juga akan bikin album kolaborasi dengan musisi trio asal Amerika, mungkin nanti albumnya akan dijual di iTunes.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri