I KETUT MUDITA – Mencicipi Remah-Remah Sukses Dari Roti

Dua wanita nampak sibuk memasukan adonan ke dalam puluhan cetakan. Di sisi lain, tiga pria sedang asik meracik terigu dengan berbagai bahan yang membentuk adonan lezat. Dari sebuah ruangan yang dipenuhi oven berukuran jumbo, seorang pria keluar dengan membawa sebuah roti tawar panjang dengan warna cokelat mudanya yang menggoda selera. Harum khas roti pun menyeruak ke seluruh ruangan.

Suasana seperti itulah yang kerap terekam, ketika menyambangi pabrik roti CV Pelangi (Rex’s) di bilangan Sekar Jepun, Denpasar. Dari pabrik tersebut, ribuan roti dan kue mampu dihasilkan setiap harinya. Sebut saja roti-roti semacam croissant, danish, roti tawar, tortilla, hingga muffin sekalipun mampu diraciknya. Jenis roti yang kerap digunakan sebagai menu sarapan pagi itu pun dipasok ke beberapa restoran dan hotel ternama di Pulau Dewata. Tak tanggung-tanggung omzet yang didulang pun ditaksir mencapai ratusan juta setiap bulannya.

Adalah Ketut Mudita, “aktor” yang berpengaruh di balik kesuksesan Pelangi (Rex’s). Pria yang hanya berlatarbelakang pendidikan sekolah menengah atas ini berhasil melihat peluang di industri bakery & pastry lokal. Keputusannya untuk berhenti menjadi karyawan dan keluar dari zona nyaman ternyata mampu mengantarkan Ketut Mudita mencapai puncak kesuksesan lewat perusahaan bakery yang dirintisnya sejak 2000 silam. Mengawali semuanya dari nol di kediamannya di Jalan Dahlia Denpasar, pembuatan roti yang mulanya bersifat industri rumahan kini bertransformasi menjadi usaha pabrikan. Itu ditandai dengan pendirian pabrik Pelangi (Rex’s) oleh pria kelahiran Sangeh, 18 Juli 1949 ini di tanah seluas 650 m² di bilangan Sekar Jepun pada tahun 2010.

Menariknya lagi, suami dari A.A Istri Netera Ratnawati ini hanya menyasar segmen pariwisata dengan memasok aneka jenis roti dan kue untuk menu sarapan ke sejumlah restoran dan hotel yang ada di Bali. Hingga kini tercatat sebanyak 500 restoran dan hotel yang menjadi klien setia Pelangi (Rex’s). Berbekal jaringan kuat di industri pariwisata dan pengetahuan yang luas di industri bakery membuat usaha Mudita tersebut mampu bertumbuh secara pesat. Bersama 73 karyawan Mudita, pabrik Pelangi (Rex’s) dapat dikatakan tak pernah berhenti berproduksi, meskipun di hari libur. Hal ini lantaran permintaan pasar akan roti dan kue kreasinya terus meningkat. Dalam perjalanan usaha yang sudah melewati usia satu dekade tersebut, beberapa prestasi di skala UMKM juga berhasil diraih oleh Pelangi (Rex’s). Salah satunya adalah Bogasari SME Award pada tahun 2012.

Penasaran dengan rahasia sukses di balik dapur roti Ketut Mudita, M&I Magazine berkesempatan mengunjunginya di pabrik Pelangi (Rex’s). Banyak kisah inspiratif dan strategi bisnis di bidang bakery & pastry diungkap oleh ayah dari Erna, Wiwik, dan Agus ini dalam wawancara bersama M&I Magazine. Berikut petikan panjangnya.

Bisa ceritakan awal perjalanan karir Anda hingga kini fokus menekuni bidang bakery & pastry?

Sesungguhnya semua ini tidak terencana. Semuanya terjadi begitu saja. Dulu, setamat SMA, tak pernah terlintas sedikit pun di benak saya untuk berwirausaha. Pokoknya selesai sekolah, saya langsung cari pekerjaan. Karir pertama saya di Bank, kalau enggak salah hanya satu tahun di sana. Waktu itu di BPD Bali, saya bertugas di bagian informasi. Kemudian tahun 1974, saya dapat pekerjaan di Hotel Sanur Beach. Pernah sempat menganggur selama 3 tahun dan merantau ke Sulawesi jadi pedagang kayu. Ya, pokoknya biar bisa hidup saja. Di Hotel Sanur Beach, saya sempat bantu di bagian akunting, kira-kira sampai tahun 1987. Ya hampir 13 tahun, saya mengabdi di sana. Kemudian saya memilih untuk pindah ke perusahaan yang bergerak di bidang pemasok makanan, terutama roti. Di sana, saya bertahan sampai tahun 2000. Oh ya, saya juga sempat membuat usaha sendiri sebagai supplier ikan dan udang yang saya kerjakan paruh waktu . Itu sudah mulai saya kerjakan, saat saya bekerja di hotel dulu.

Apa yang membuat Anda tertarik untuk terjun sebagai seorang wirausaha di bidang bakery & pastry?

Apakah kerja di food supplier dan berusaha sebagai pemasok ikan kurang menjanjikan? Umur saya sudah hampir 50 tahun saat itu ketika memutuskan untuk resign dari perusahaan pemasok makanan. Pikir saya mau ngapain lagi setelah ini. Kalau saya fokus meneruskan usaha paruh waktu saya dulu dengan memasok ikan dan udang, mungkin akan sedikit beresiko. Karena dalam setahun, paling saya hanya bisa dapat ikan selama 6 bulan saja. Ya, pekerjaan ini musiman dan bisa dibilang tidak tetap. Repotnya kalau sudah enggak dapat tangkapan ikan. Oleh karena itu, saya memutar otak lagi untuk mencari usaha yang tidak bersifat musiman. Akhirnya saya memutuskan untuk menjalankan bisnis bakery tersebut pada tahun 2000. Padahal kalau dihitunghitung, keuntungan yang diperoleh dari suplai ikan tersebut sudah cukup bagus. Apalagi saat itu, kompetitornya belum terlalu banyak dibandingkan sekarang dan permintaan hotel dan restoran terhadap ikan kian meningkat.

Peluang menarik seperti apa yang Anda lihat di bidang bakery & pastry itu?

Kebanyakan hotel kan memang menyajikan roti sebagai menu breakfast untuk tamu mereka. Jadi, saya pikir ini merupakan lahan yang prospektif. Kebetulan juga networking yang pernah dulu saya bina dengan beberapa hotel selama saya masih bekerja di perusahaan food supply itu sangat membantu usaha saya hingga kini. Di bawah bendera CV Pelangi Rex, kami pasok kebutuhan akan roti-roti tersebut ke beberapa hotel dan restoran di Bali. Saya pikir ini adalah peluang yang bagus. Untuk urusan bisa atau tidaknya membuat roti itu nomor sekian. Untungnya, saya banyak dibantu oleh teman-teman chef yang mengerti tentang bakery. Saya banyak belajar dari mereka. Cukup lama prosesnya, yakni hampir 3 tahun untuk bisa menguasai semua ini. Pada saat itu juga kompetitor lokalnya belum ada, jadi jalan kami sangat dimudahkan. Di tahun pertama usaha yang Anda rintis tersebut, jenis roti apa yang ditawarkan? Dan bagaimana pemasarannya? Baru pertama kali usaha, kami melayani permintaan untuk roti tawar, hot dog, burger, croissant, dan danish. Jenis rotinya pun mulai bertambah hingga sekarang sudah hampir mencapai belasan jenis roti. Sekarang kami juga memasok tortilla dan muffin, di mana sebenarnya khusus dipesan oleh Aerofood Bandara I Ngurah Rai sebagai salah satu menu mereka untuk penumpang Garuda Indonesia. Awalnya, kami masuk ke hotel-hotel kelas melati dan villa, kemudian berkembang ke kelas bintang lima. Saya perkirakan perusahaan kami sudah mencapai titik yang bisa dianggap stabil pada tahun keenam.

Berapa banyak roti yang diproduksi sejak saat itu hingga kini?

Mulanya, kami berhasil mengolah satu sak tepung terigu untuk memproduksi kurang lebih 200 roti sehari. Tapi kini, kami bisa mengolah 30 sak tepung per harinya, di mana sekitar 6000 roti mampu diproduksi. Kalau tidak salah di tahun 2006, permintaan roti kepada kami mulai mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Di dalam mengelola usaha pasti ada pasang surutnya. Seperti apa titik krisis yang pernah Anda lalui bersama CV Pelangi?

Waktu kejadian Bom Bali yang berturutturut itu sangat terasa dampaknya terhadap usaha ini. Padahal saat itu baru dua tahun pertama kami menjalani usaha ini. Meski begitu, kami optimis tetap bisa survive seberat apapun rintangannya. Kita bisa survive juga karena kita enggak terlalu mikir rumit. Saya kerjakan ini dengan senang hati. Karyawan pun pada awalnya hanya 8 orang. Kami paham betapa krisisnya pariwisata Bali pada saat itu, namun kami tetap berusaha menjalin hubungan baik dengan hotelhotel. Di benak saya ketika itu, pokoknya bagaimana caranya usaha ini tetap jalan dan tak hanya mampu menghidupi saya, tetapi juga rekan-rekan yang bekerja dengan saya. Saya sampai harus menjual motor untuk menggaji mereka waktu itu. Setelah melalui tahun-tahun terberat itu, akhirnya pada tahun keenam, usaha kami bisa stabil kembali.

Seberapa besar tantangan dari kompetitor di bidang yang Anda geluti?

Bagaimana strategi Anda untuk menghadapinya? Sebagai seorang wirausahawan, saya tidak bisa menampik bahwa tantangan yang saya hadapi sedemikian banyak. Meski begitu, saya tetap harus optimis, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Kesabaran, passion, dan insting bisnis lah yang membuat saya seperti sekarang ini. Jujur saya tidak terlalu mikirin kompetitor, malah dengan melihat kompetitor itu, bikin saya maju. Apalagi waktu awal pendirian kami juga tak banyak kompetitor yang bisa bikin croissant. Roti ini kan biasanya paling sering disajikan dalam menu sarapan bersanding dengan roti tawar di hotel-hotel. Dengan kualitas dan harga yang lebih terjangkau, kami pun optimis bisa bersaing dengan kompetitor luar.

Bicara tentang hubungan dengan konsumen, bagaimana perusahaan Anda bisa terus memegang kepercayaan mereka?

Ada tiga landasan yang selalu kami terapkan kepada pelanggan, yaitu kejujuran, hubungan dengan pelanggan yang tidak hanya sebagai institusi, tapi juga individu, serta penetapan standar yang sesuai untuk produk kami. Kami tidak melulu melihat keuntungan. Yang terpenting bagi kami juga adalah kualitas hospitality dengan pelanggan. Niscaya biar langgeng terus. Mungkin karena awalnya saya berangkat dari dunia hospitality, jadi ada beberapa hal-hal baik dari hospitality tersebut secara lahiriah terbawa oleh saya ke industri bakery & pastry yang kini digeluti. Semua produk benar-benar diperhatikan kehigienisannya. Dengan standar kami, dari proses penerimaan bahan hingga diolah menjadi produk jadi tersebut telah diawasi sanitasinya. Oh ya, ketepatan waktu juga sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan customer kepada kami. Menariknya, saya juga menerapkan fleksibilitas di Pelangi. Fleksibel yang saya maksud di sini, misalnya ada seorang customer yang mendadak ingin dibuatkan pesanannya dengan jumlah yang tak terlalu banyak dan dalam waktu yang singkat. Biasanya kami terima pesanan sejenis itu. Kami lakoni dengan suka cita, meskipun kami sadari untungnya enggak seberapa dari pemesanan seperti itu. Semuanya, karena kami service oriented.

Tidak ada rencana untuk membuka cake shop dengan brand Pelangi sendiri?

Sebenarnya ada keinginan untuk ke sana, tapi kami masih mempelajari kemungkinan-kemungkinan untuk itu, karena jujur saja sistem usahanya agak sedikit berbeda dan ribet. Dengan adanya mini store atau cake shop, sebenarnya kita akan lebih terbantu untuk membaca arah keinginan pasar. Selain itu, juga akan menjadi media promosi yang baik untuk Pelangi. Namun, untuk sekarang kami masih berproses untuk sampai pada ide tersebut. Kita lihat saja di tahuntahun mendatang.

Adakah terobosan yang Pelangi ciptakan untuk roti dan kue?

Selain merambah ke pastry, CV Pelangi juga kini membuat roti dengan memanfaatkan bahan-bahan organik. Tren makanan sehat, seperti free gluten kan akhir-akhir ini tengah kencang di masyarakat, jadi kami pikir enggak ada salahnya untuk mencoba hal yang baru ini. Memang bahan-bahan organik yang pas untuk racikan roti kami itu tidak semuanya bisa kami dapatkan di Indonesia, sehingga kami memutuskan untuk mengimpor dari luar. Setahu kami, karena memang beberapa bahan organik ada yang sulit tumbuh di daerah tropis seperti di Indonesia ini, misalnya buah kinoa dan biji buah berry. Baru tahun ini kami perkenalkan terobosan tersebut. Syukur responnya cukup baik di hotel-hotel. Mereka banyak yang memesan roti jenis itu kepada kami. Oh ya, kami juga menyasar beberapa restoran-restoran sehat untuk menu roti ini. Selain itu, kami juga sudah mendaftarkan produk roti kami untuk memperoleh sertifikat halal, agar bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.

Harapan seperti apa yang ingin Anda capai bersama CV Pelangi?

Untuk ke depannya, kami ingin menjadi lebih baik dan melakukan perbaikan serta mengeluarkan terobosan lagi untuk bisa tampil beda. Kami juga ingin berkontribusi kepada Bali dalam hal mengembangkan dan menyalurkan produk-produk petani di Bali. Ya, tujuannya tak lain untuk meningkatkan hasil pertanian mereka. Misalnya di daerah Karangasem, petani gula dengan olahan gulanya kurang terserap dengan baik. Kami ingin memberdayakan mereka, di mana produk mereka bisa dijadikan ikon untuk ditunjukan dan dikirim ke luar.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri