I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha – Beautiful Leadership, Now & Then

Siang itu di ruang kantornya, Gung Inda masih terlihat sibuk bercakap-cakap dengan seseorang. Kata asistennya, perempuan bernama lengkap I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha tersebut baru saja menerima seorang tamu dari kalangan pengusaha pemula yang sepertinya tertarik untuk bergabung ke dalam lingkungan HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Bali. Hal tersebut dibenarkan oleh Gung Inda, “iya, kebetulan Ibu itu memiliki usaha garmen dan tertarik bergabung di HIPMI untuk memperluas networking-nya. Mendengar hal tersebut saya sangat senang dan memintanya, agar mengajak rekan-rekan wirausaha lain yang ia kenal untuk bergabung,” aku Gung Inda penuh senyum di hadapan reporter Money & I Magazine.

Semenjak dilantik sebagai Ketua HIPMI untuk periode 2013/2016 pada 14 Januari 2014 lalu, kesibukan Gung Inda pun bertambah. Wanita kelahiran Denpasar 18 Desember 1976 ini harus mengikuti berbagai pertemuan kewirausahaan, menjadi pembicara untuk beberapa seminar, hingga mendukung program-program berbasis sosial. Lantaran itu pula membuat mobilitas pekerjaannya makin banyak di lapangan. Kalau pun ada waktu berkantor, sesekali dimanfaatkannya untuk berbincang-bincang dengan relasi baru yang ingin bergabung dengan HIPMI.

Kantor dari bisnis jasa tur petualangan “A True Balinese Experience” miliknya pun disulap menjadi bagian sekretariat HIPMI Bali selama periode jabatannya sesuai dengan kesepakatan teman-teman di kepengurusannya. Ini bukan pengalaman pertama bagi istri dari Toby Garritt dalam berorganisasi. Perkenalannya yang lebih serius dengan keorganisasian memang tak lepas dari kiprahnya di dunia kepemudaan serta kewirausahaan yang dilakoninya. Gung Inda pernah menjabat sebagai Presiden JCI (Junior Chamber International) Bali 2007 silam. Kuatnya kemampuan leadership serta daya networking-nya yang begitu luas membuat orang-orang di lingkungan HIPMI Bali melirik sosok Gung Inda.

“Setelah dari JCI, banyak exposure untuk diri saya yang datang dari teman-teman organisasi dan pengusaha. Akhirnya, teman-teman senior HIPMI turut mengajak saya serta membuat saya lebih memperdalam organisasi ini,” jelas perempuan yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Bali Bidang Pariwisata.

Keterlibatannya dalam HIPMI pun mampu mempertajam fokusnya dalam upaya pengembangan daerah, terlebih ketika tanggung jawab sebagai Ketua Umum jatuh di pundaknya. “Para wirausahawan, pengusaha, UMKM perlu sebuah wadah yang mampu menyatukan mereka, yang mampu menampung segala aspirasi, serta saling tukar wawasan dan informasi. Ini nantinya juga akan sangat baik dalam memperkuat networking dan meningkatkan peluang bisnis, sehingga membantu kemajuan perekonomian daerah,” tutur perempuan yang juga aktif di KNPI Bali sebagai bendahara umum.

Cucu Pahlawan Darah Pahlawan Nasional, I Gusti Ngurah Rai mengalir di dalam tubuh Gung Inda. Sebagai seorang cucu, ia merasa wajib untuk melanjutkan perjuangan almarhum kakeknya di era kekinian dengan lebih banyak berkontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat dan pembangunan daerah.

“Merupakan sebuah privilege bagi saya terlahir di tengah-tengah keluarga pejuang. Ini bukan sebuah beban, malah membukakan kesempatan bagi saya untuk bisa berkontribusi lebih banyak kepada
masyarakat,” ucap putri ketiga dari pasangan I Ngusti Ngurah Alit Yudha dengan IGA Wardhani Pindha.

Hal itu pula yang menjadi salah satu faktor pendorong bagi Gung Inda untuk turut terjun ke dunia politik. Alumni SMAN 1 Denpasar ini sempat masuk bursa calon legislatif di ajang Pemilihan Umum 2014 yang baru digelar demi menjalankan salah satu amanat partai di dalam mengisi kuota perempuan. Aktivitas pencalegannya pun makin menambah daftar kesibukannya, di samping sebagai pengusaha dan Ketua HIPMI. Meski memperoleh hasil suara yang belum sesuai dari ekspektasi, Gung Inda tidak patah semangat. Malah hal tersebut dijadikannya sebagai pengalaman dan pembelajaran positif untuk mengaktualisasi dirinya di dunia politik dan masyarakat luas.

Nilai-nilai kepemimpinan, organisasi, serta insting politik sepertinya telah ditularkan oleh Ayahanda Gung Inda yang notabene memang pernah bertugas sebagai anggota DPR RI. Gung Inda yang tak pernah lepas dari kisah-kisah rutinitas Ayahnya, secara tidak langsung memberikan sedikit demi sedikit spirit politik ke dalam dirinya sedari belia. “Menyenangkan untuk terlibat dalam dunia politik. Saya tidak pernah kapok. Setidaknya saya pernah mencobanya. Kita tidak akan pernah tahu hasilnya, kalau tidak pernah mau mencoba,” tegasnya.

Pariwisata Meski memikul tanggung jawab kepemimpinan sebuah organisasi dan membagi fokus ke dunia politik, tak membuat Ibu dari Anastasya Apsara Garritt dan Jayden Challenger Garrit menelantarkan usahanya di bidang pariwisata. Kewirausahaan masih menjadi fokus utamanya, terutama dalam pengembangan bisnisnya di A True Balinese Experience.

Mengelola usaha di ranah hospitality telah menjadi passion dan cita-cita Gung Inda sejak  Puri Carangsari, Petang ini memilih untuk melanjutkan pendidikan di Adelaide, Australia dengan mengambil jurusan pariwisata dan manajemen perhotelan.

“Pariwisata kan identik dengan hospitality. Barangkali itu yang sesuai dengan karakter saya yang cenderung mudah berkomunikasi dengan orang-orang sekitar,” tambahnya.

Usai menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi, Gung Inda pun memutuskan untuk masuk ke dalam bisnis keluarga pada tahun 1999. Gung Inda terdorong untuk menata ulang manajemen bisnis keluarganya, demi menguatkan hospitality dan profesionalitas di dalamnya. “Dulu rata-rata orientasinya belum kepada tamu, masih manajemen kekeluargaan. Insting hospitality masih lemah. Untuk itu saya ingin berusaha menata berdasarkan pengalaman yang didapat semasa di ICHM Australia,” ujarnya.

Gung Inda juga mengakui bahwa tidak mudah meneruskan bisnis keluarga, di mana ia harus berusaha keras mengelola SDM 70 karyawan di awal kepemimpinannya. “Susah. Apalagi kalau karyawan masih menganggap saya sebagai anak atasan, bukan atasan mereka,” ungkap wanita berkulit kuning langsat ini. Namun, kendala tersebut dapat diatasi Gung Inda sering waktu, hingga kini ia bisa membawahi sebanyak 400 karyawan.

Awalnya bisnis keluarga Gung Inda bernama Ayung River Rafting, namun akhirnya diubahnya menjadi A True Balinese Experience dengan menyuntikan beragam inovasi dalam hal jasa dan pelayanan demi dapat bersaing dengan kompetitor. Tidak lagi hanya sebatas rafting, tapi telah merambah ke cycling, elephant riding, tracking, horse riding, dan terakhir chocolate factory.

“Semuanya itu merupakan satu paket yang dinamakan A True Balinese Experience. Yang kami jual di sini adalah pengalaman liburan Bali yang sesungguhnya,” ucap Managing Director of A True Balinese Experience ini. Oleh karena itu spirit ekowisata sangat mendominasi dalam model bisnis yang ditawarkan oleh Gung Inda.

Pariwisata kan identik dengan hospitality. Barangkali itu yang sesuai dengan karakter saya yang cenderung mudah berkomunikasi dengan orangorang sekitar”  – (Gung Inda)

Melalui A True Balinese Experience, Gung Inda juga berusaha untuk memberdayakan masyarakat lokal, terutama di daerah pedesaan. Gung Inda menekankan bahwa bisnis A True Balinese Experience mengacu pada community development. Seperti yang dilakukannya terhadap petani perkebunan kakao di Badung Utara, di mana ia banyak menyuplai kakao lokal dari petani setempat untuk keperluan chocolate factory. Apalagi setelah ia bersama suaminya mendirikan PT Bali Chocolate, permintaan akan cokelat lokal di industri pariwisata pun makin meningkat. “Kita perkenalkan cokelat lokal kepada para turis di Bali. Kami berusaha menggantikan cokelat-cokelat impor di hotel berbintang,” terangnya.

Bukan semata hasil yang ingin dicapai, tapi Gung Inda juga memberikan pelatihan dan pendampingan bagi para petani kakao dalam memahami pengolahan kakao yang baik dan benar. “Kita tidak melulu memikirkan profit dan loss, tetapi semestinya juga harus memaksimalkan potensi SDM lokal, di mana bisa dengan jalan memberikan pelatihan,” pungkas wanita berambut panjang ini mengakhiri wawancara dengan M&I Magazine.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri