Gusti Ngurah Anom – Dari Raja Oleh – Oleh Menuju Raja Kuliner

Tahun 2010 lalu, di volume 7 majalah M&I bulan Juli Agustus, adalah kesempatan kali pertama kami dari redaksi mewawancarai sosok pebisnis muda yang saat itu mulai berkibar dengan bendera usaha oleh-olehnya, Khrisna. Berikut adalah petikan penuturannya :

“Saya memberanikan diri berangkat ke Denpasar, numpang truk. Maunya sih cari keluarga di sini. Tapi saya tidak tahu alamatnya. Saya juga berpikir apakah mereka mau menampung saya, sementara saya harus bisa makan. Luntang-lantung begitu saja… sampai saya tiba di satu hotel yang ada pos satpamnya. Saya menginap di sana hampir 2 tahun… ya… di pos satpam itu, sambil mencuci mobil tamu hotel setiap malamnya. Selanjutnya saya bertemu dengan pemilik hotel yang juga memiliki konveksi… nama Konveksinya Sidarta. Dari sanalah saya belajar ilmu pertekstilan… sampai betul-betul bisa. Di tahun 1990, singkat ceritanya, saya memberanikan diri mendirikan konveksi. Hampir enam tahun saya masih dibimbing bos saya itu. Baru di atas tahun 2000-an hasilnya terlihat, konsumen sudah langsung datang, ndak seperti dulu… keliling ‘berjualan’. Sejak saat itulah Cok Konveksi terkenal sampai sekarang”
Setahun berselang, tepatnya pada edisi M&I. Vol. 14 Feb-Mar 2011, untuk kedua kalinya kami melakukan wawacara kepada sosok muda yang ketika itu usianya baru 39 tahun, saat pria bernama lengkap Gusti Ngurah Anom ini baru saja membangun beberapa cabang oleh-oleh Khrisna-nya di seputaran Kuta.

“Saya berani katakan, itu adalah pusat oleh-oleh terbesar di Bali. Bahkan, Krisna 2 [jalan Nusa Kambangan] saja saya berani katakan oleh-oleh terbesar di Bali. Saya ingin membuat konsep pusat oleh oleh itu dengan parkiran yang luas. Kemudian memperhatikan kebersihan lingkungan dan kenyamanan, agar tak mengganggu lingkungan setempat. Kita pun mesti mengajak kerjasama masyarakat setempat,” ujar Pak Cok, demikian biasa dirinya dipanggil.

Di tahun 2011 ini, nama Khrisna sudah dikenal secara luas bahkan menasional, dan buku biografi pak Cok pun dirilis pada tahun tersebut, dengan launching yang demikian glamor menghadirkan sejumlah artis nasional.

Kali ini, untuk ketiga kalinya kami menghadirkan wawancara ekslusif kami dengan pengusaha berani ini, yang di bulan Oktober 2012 lalu meresmikan salah satu usaha kulinernya Khrisna Wisata Kuliner, dan ternyata, ada begitu banyak rencana pengembangan bisnisnya seputar kuliner yang siap di resmikan di tahun 2013-2014.

Di jumpai di salah satu tenant Warung Khrisna-nya, kepada reporter Arif Rahman, Pak Cok menceritakan apa saja rencana Khrisna Group dalam 2 tahun kedepan, dan apa saja cita-cita dan harapannya yang masih belum tercapai. Berikut penuturannya.

Setelah berbagai terobosan dan kesuksesan yang telah diraih, apa lagi yang masuk dalam rencana pengembangan Khrisna Group dalam jangka waktu kedepan?

Sampai tahun 2012 kemarin, Oleh-oleh Krisna sudah ada 4 outlet, di tahun 2013 ini rencananya kita masih akan buka 2 outlet lagi, yang terbesar rencananya nanti ada di Singaraja, desa kelahiran saya dan cabang yang ke enam di daerah Seminyak. Untuk yang usaha kuliner, ini kita buka sebenarnya untuk melengkapi Khrisna Oleh-oleh yang memang tidak ada food court-nya, padahal banyak tamu yang bertanya kenapa tidak disediakan kantin, dari sanalah saya dapat inspirasi untuk membuka Khrisna Wisata Kuliner ini. Masukan dari customer memicu saya untuk membuka restoran, dan benar saja, responnya ternyata bagus. Kita mulai buka tempat ini pada tanggal 25 Oktober tahun 2012. Selain itu, saat ini di Bali kita lihat orang sedang beramai-ramai bangun hotel, saya berpikir kalau untuk investasi hotel, maka harga lahan sekarang sudah sangat mahal, jadi saya pikir belum bisa mengikuti. Akhirnya saya putuskan untuk membuat restoran dan saya beri nama Krisna Wisata Kuliner.

Berarti dalam waktu dekat, untuk Khrisna Oleh-Oleh akan ada dua cabang baru lagi, bisa ceritakan soal cabang-cabang tersebut?

Cabang yang sedang dibangun ada di Singaraja yang rencananya menjadi yang Khrisna Oleh-Oleh terbesar, karena disana lengkap dengan kuliner, agrobisnis seperti wisata petik anggur dan juga ada water sport, total lahan yang dibutuhkan di Singaraja itu sekitar 3 hektar. Sedangkan yang di Seminyak kita masih berpikir untuk konsepnya, apakah nanti jadi Oleh-Oleh atau berkonsep bar, ada juga ide untuk menggabungkan antara bar, villa dan spa. Inginnya nanti saat ada tamu dari luar Bali, maka kita sudah punya paket lengkap untuk liburan mereka. Mau belanja di Khrisna Oleh-Oleh, makan di Khrisna Wisata Kuliner, menginap ada villa-nya dan relaksasi ada spa.

Bagaimana dengan kulinernya sendiri, masih ada road map ekspansi di jalur ini?

Nanti di Jl. By Pass Ngurah Rai, kita ada rencana membangun restoran babi guling terbesar di Bali, dengan luas lahan 4000 meter persegi. Nanti kita akan ambil ciri khas dari babi guling yang ada di Bali, seperti babi guling Singaraja, babi guling Gianyar dan babi guling Denpasar. Kita akan ambil menu khas yang paling disukai masyarakat dari daerah-daerah tersebut. Konsep ruangan restoran babi guling itu nantinya lesehan seperti wantilan. Orang saat ini sudah mulai bosan dengan bangunan gedung-gedung mewah, mungkin pilihan saya pada ornamen kayu saja.

Baru nanti di akhir tahun 2014, kita akan bangun 50 restoran diatas lahan 1 hektar dan berkonsep alam pedesaan. Lokasinya dekat dengan Khrisna Wisata Kuliner ini, masih di kawasan Tuban. Disini tamu akan parkir dan jalan kaki dulu sekitar 100 meter sambil melihat pemandangan sawah dan panorama desa, baru kemudian tiba di restorannya. Konsep ini saya lihat di Bandung, sebuah restoran yang ramai sekali padahal masuk gang.

Supaya setiap restoran bisa berdiri sendiri, nanti menunya di beda-bedakan. Di Bali kan ada 8 kabupaten, jadi kita jatah di masing-masing kabupaten ada 5 restoran yang khas menu masakan dari daerah kabupaten tersebut. Sedangkan sisanya 10 restoran kita planning diambil dari kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya atau Malang. Nanti akan kita beri nama Krisna Kuliner Wisata Nusantara.

Berbagai macam konsep ini, dari mana Anda mendapatkan idenya?

Semua konsep bisnis Khrisna, termasuk wisata kuliner Nusantara saya dapatkan dari feeling sendiri. Saya bertanya pada diri sendiri apa bisnis saya ini akan diterima masyarakat atau tidak. Karena merangkul masyarakat dan bekerjasama dengan kabupaten-kabupaten yang ada di Bali, serta tidak ada sifat yang mengarah pada monopoli, maka saya positif thinking bisnis kuliner ini akan diterima. Memang ada beberapa ide yang kelihatannya aneh, tapi memang saya suka sesuatu yang unik. Bahkan saat saya buka Khrisna Oleh-Oleh yang beroperasi 24 jam, banyak yang tidak setuju. Tapi akhirnya Oleh-oleh Krisna bisa berjalan dengan baik dan model bisnis saya yang indoor dan outdoor bisa terlaksana.

Lokasi Wisata Kuliner Nusantara yang hendak Anda bangun ini, dekat dengan Wisata Kuliner yang saat ini sudah berjalan, tidak ada kekhawatiran nantinya ada kanibalisasi pasar?

Nanti kita atur agar di satu restoran yang sudah ada menu masakan bebek misalkan, maka tidak akan buka di tempat itu lagi. Bahkan ada ide juga untuk nanti dilantai dua restoran itu akan buka karaoke atau fitnes juga. Ade Rai sudah pernah kontak dan ada minat kerjasama dengan pihak kami. Di restoran ini kita akan buka siang sekitar jam 1 karena fokus kita pada konsumen di malam hari, jadi betul-betul menikmati santap malam, karena kalau pagi kan masih sepi. Nanti juga kita akan tambah cafe kopi dan cuci mobil mewah dan motor gede. Jadi bukan semata untuk kejar profit, tapi lebih kepada kenyamanan untuk tempat nongkrong yang asyik.

Bagaimana dengan sistem kerjasamanya, apakah profit sharing?
Semua bentuk kerjasama Khrisna Group dengan restoran-restoran yang bergabung dengan kami adalah profit sharing, dan rencana kedepannya nanti semua bisnis saya ini bersifat profit sharing. Kita hanya menyediakan lahan dan peralatan, sedangkan manajemen dan maintenance akan dikelola oleh mitra kita. Dengan sistem ini, mitra kita sebenarnya lebih diuntungkan, daripada jika mereka kontrak.

Demikian pula dengan kami, saat memulai usaha Khrisna ada beberapa outlet kami yang bentuk kerjasamanya profit sharing dengan yang punya lahan, jadi kami tidak kontrak, dan ini juga menguntungkan bagi yang punya lahan. Bagi mitra-mitra kami, kerjasama ini menjadi nilai tambah karena nama Khrisna saat ini sudah dikenal pasar, dan mampu menarik orang untuk datang. Tujuan saya ingin berbagi dengan masyarakat dan keuntunganpun bisa dinikmati secara adil. Kalau hitung-hitungan bisnis maka sistem kontrak akan lebih menguntungkan, tapi saya tidak mau karena mereka adalah masyarakat kita juga, saya ingin peduli dan berbagi dengan mereka dengan memberikan rejeki yang lebih banyak.

Saya cukup optimis bisa sukses di bisnis restoran karena saya memilih tempat yang strategis. Untuk yang Wisata Kuliner Nusantara saat ini saya memang belum mencari rekanan, karena memang saya akan bangun tempatnya dulu hingga 70% finish baru kemudian cari rekanan. Saya optimis bisa mendapat rekanan dengan menggunakan brand Krisna.

Kita rencananya nanti juga akan ada kerjasama dengan Summarecon, walaupun sekarang memang belum ada keputusan, tapi saya menawarkan agar Khrisna baik kuliner atau oleh-oleh bisa tertampung diproyek yang dikerjakan oleh mereka. Dan saya juga meminta agar mereka tidak lupa untuk menyertakan budaya Bali seperti pertunjukkan tari-tarian dan lain-lain. Dimanapun saya membuat bisnis, saya ingin selalu ada unsur budaya Bali.
Ada kecenderungan, ketika pebisnis sudah mulai berkembang dengan bisnis keduanya, bisnisnya yang pertama kerap dilupakan. Dan saat ini perkembangan bisnis Anda demikian pesat, bagaimana dengan usaha awal Anda Cok Konveksi yang dulunya dirintis ketika Anda pertama kali menjadi usahawan?

Di Cok Konveksi saya sudah tidak ikut terlibat sama sekali. Namun menariknya, saya lihat omzetnya terus semakin naik. Ada satu hal yang cukup lucu, dulu orang bertanya siapa sih yang punya Krisna, yang punya kan Cok Konveksi. Sekarang pertanyaannya berubah, siapa sih yang punya Cok Konveksi, itu yang punya Krisna.

Dan saya lihat Cok Konveksi masih berjalan dan terus berkembang hingga bisa melayani PT. Angkasa Pura, Bali Beach, Tiara Dewata dan perusahaan-perusahaan besar lain, karena terangkat namanya seiring dengan berkembangnya usaha Khrisna Oleh-Oleh. Saat ini Cok Konveksi mau pindah tempat kebangunan lantai dua, sebentar lagi akan kelar. Di Cok Konveksi semua orang yang bekerja disana sudah tahu akan masing-masing pekerjaannya, karena kebanyakan mereka sudah ikut saya cukup lama, bahkan ada yang sampai belasan tahun.

Berapa total karyawan Anda saat ini?

Kalau ditotal jumlah karyawan semua sekitar 1300 orang, tapi nanti jika semua rencana ini berhasil, dimana 17 outlet Krisna group sudah terwujud, maka setidaknya ada 2000 karyawan di perusahaan saya ini.

Dari belasan outlet tersebut, apakah tidak sulit mengelolanya, adakah halangan dalam pengoperasiannya, termasuk apakah ada outlet yang sepi pengunjung?

Sejauh ini semua lancar saja, tidak ada halangan yang berarti. Memang di Gallery Krisna di Jl. Diponegoro itu rencana kedepan akan di gabungkan dengan restoran Miyabi, karena konsumen dari Kota Denpasar kejauhan bila harus ke Tuban, jadi saya pikir cukup gunakan yang ada di Jl. Diponegoro Denpasar saja. Dan ada kemungkinan nanti digabung juga dengan fitnes, kan pas juga kalau nanti habis fitnes konsumen lapar dan bisa langsung makan di restoran kita. Ada peluang untuk kerjasama dengan Ade Rai.

Memang kalau kendala ada beberapa hal yang dulu sempat membuat saya down ketika awal mendirikan Khrisna. Saat pembangunan Krisna yang ketiga misalnya, saya sempat menderita kerugian tujuh ratus juta karena bangunannya roboh, setelah dicek itu karena tanahnya yang bergerak, karena itu hati-hati membangun di daerah Sunset Road, saat itu saya tidak memadatkan tanah, karena saya berpikir tanah disana sudah padat.

Meskipun begitu saya di support oleh orang-orang terdekat saya bahwa lebih baik ambruk sebelum selesai dari pada ambruk setelah selesai dan menelan korban. Akhirnya saya bangun kembali dan kebut pekerjaannya sampai lembur, bahkan biayanya naik sampai 2 kali lipat karena saya mengejar target liburan para tamu. Bangunan akhirnya selesai dan selama sebulan pembukaan awal tamu ramai, maka semua sedih itu terobati.

Dari sekian banyak outlet Khrisna, yang manakah yang paling bagus?

Semuanya bagus, tapi omzet dari toko Oleh-oleh Krisna yang paling tinggi itu di Krisna Nusa Kambangan, disana penjualannya bagus sekali. Sedangkan yang di Kuta kita buat karena para tamu datang pertama kali kan mencari hotel di daerah Kuta, baru setelah penuh mereka akan mencari hotel di Denpasar. Oleh-oleh Krisna yang di Kuta saya buat tampilannya mewah karena memang saya ingin menampilkan kesan bersih dan melayani yang terbaik buat konsumen.

Awalnya mungkin orang mengira harga barang saya mahal tapi setelah masuk ke dalam konsumen akan tahu bahwa harga barang saya cukup terjangkau. Saya ingin mengubah mindset para tamu, lebih baik kita menampilkan kesan di awal mewah tapi harganya murah. Dari pada kesan awalnya biasa-biasa saja dan begitu masuk tempatnya tidak terawat dan kotor tapi harganya mahal.

Anda juga saya dengar hobi dengan dengan motor besar, bisa ceritakan soal ini?

Hobi saya di komunitas motor itu saya sukai karena kegiatan sosialnya yang kerap diadakan. Saya mungkin lebih sebagai bapak angkat bagi mereka, dan saya selalu mendukung setiap kegiatan sosial mereka. Kalau dalam organisasi saya enggan untuk duduk sebagai ketua, saya lebih senang memilih sebagai humas, biar gampang mengatur jadwal kegiatannya. Kalau ikut touring pernah juga, pada intinya ingin menambah teman dan relasi saja. Hidup ini juga perlu relaksasi bersama orang lain.

Dan ini hobi yang saya pilih karena disatu sisi saya tidak berkenan bergabung dengan dunia politik. Saya sudah berkomitmen untuk mengabdi ke masyarkat lewat jalur bisnis. Banyak juga orang-orang penting yang datang ke rumah dan mengajak saya bergabung ke salah satu parpol, tapi saya dengan sopan menolak karena saya sadari kalau sudah bergabung ke parpol maka semua usaha kemasyarakatan yang saya lakukan akan bersifat semu.
Kelak bila sudah pensiun saya ingin usaha dan aset saya ini sebagiannya digunakan untuk membangun Bali dalam hal pelestarian lingkungan.

Bentuk apa yang sudah di wujudkan?

Saya berkomitmen untuk membangun Bali diawali dengan tekad saya untuk menjadikan desa saya di Buleleng sebagai desa terbersih di Bali, dan saya anggarkan 1 miliar. Dan nanti kita akan buat MOU dengan perangkat desa di sana. Rencananya nanti pas hari ulang tahun saya ke 42, kita akan buat semacam kegiatan sosial, jalan santai dan pengobatan gratis, donor darah dan aneka doorprize dan pembagian buku untuk anak sekolah. Malamnya baru kita adakan hiburan artis Bali dan nasional.

Nanti pada tanggal 16 Mei kita juga akan adakan hari ulang tahun berdirinya Oleh-oleh Krisna, dan akan kita buat dengan meriah. Untuk para relasi dan sponsor kami buka kesempatan untuk bergabung mensponsori acara kami sebagai bentuk apresiasi dan semakin mengeratkan networking atas kerja sama yang telah berlangsung selama ini. Nanti pada saat acara HUT Oleh-oleh Krisna ini, kita akan bagikan 1 unit mobil dan 12 sepeda motor.

Apa yang Anda lihat dengan Bali kedepan?

Ekonomi di Bali semakin bagus dan rata-rata kunjungan turis semakin ramai. Sebagai konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi yang makin bagus maka masalah kemacetan tidak bisa dipungkiri akan melanda Denpasar, dunia usaha juga akan semakin ketat dan perlu adanya variasi tempat usaha agar tidak harus melulu di Denpasar. Daerah seperti Buleleng bisa menjadi opsi bagus untuk buka usaha. Makanya saya buka Oleh-oleh Krisna di Buleleng sebagai antisipasi untuk perkembangan dunia usaha di daerah lain. Karena 4-5 tahun lagi di Denpasar ini lalu lintas sudah terlalu krodit

Apa nilai-nilai yang masih Anda ingat sejak awal dulu merintis peruntungan sebagai tukang bersih-bersih mobil hingga saat ini sukses?

Iya, karena dulu saya pernah jadi tukang cuci mobil di hotel, karenanya saya camkan beberapa hal. Pertama, mobil customer itu harus dirawat dan tidak boleh kotor. Kedua, menata tempat parkir biar bersih dan tidak ada sampah. Ketiga membersihkan kebun setiap hari. Maka kalau kita lihat di Oleh-oleh Krisna Company ini tiga poin ini selalu menjadi poin utama dalam mengawali bisnis Oleh-oleh Krisna.

Terima kasih atas waktu dan jamuannya, sukses untuk Khrisnanya.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri