Guru Bangsa Tjokroaminoto

Dengan begitu banyaknya persediaan tokoh-tokoh besar yang dimiliki Indonesia, mulai dari pahlawan nasional, aktor sampai penyanyi ngetop sepertinya tidak sulit memilih satu atau dua nama di setiap tahunnya untuk kemudian kehidupan serta pengaruhnya dalam sejarah ditransfer ke dalam versi film biografi, yang sulit tentu saja membuatnya. Ya, tidak pernah mudah membuat sebuah biopik, apalagi yang settingnya mengambil waktu yang cukup jauh dari masa kini, kamu butuh panggung besar dengan segala tetek bengek detilnya yang dibutuhkan sumber daya tidak sedikit dan pastinya, mahal. Anggap saja kamu sanggup menghadirkan segalanya secara otentik dan menyakinkan, masalah berikutnya adalah bagaimana membuat sebuah narasi film menarik dari tokoh yang meskipun tidak terbantahkan punya peranan sangat penting di sejarah pergolakan sebuah bangsa, tertindas dalam usahanya mencari jati diri, namun sebenarnya sangat membosankan ketika dibaca dalam buku pelajaran sejarah sekolah.

Dimulai dengan momen di mana Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang sekarang lebih dikenal dengan H.O.S Cokroaminoto diinterogasi oleh Belanda di penjara Kali Sosok Surabaya karena dituduh memberontak, cerita kemudian melompat mundur ketika Cokroaminoto muda bersekolah di sekolah Belanda. Dari sini narasinya tidak berbeda jauh dari yang kamu baca di lembaran diktat sekolah. Cokroaminto tumbuh menjadi pria cerdas dan kharismatik, ia adalah orang pertama yang berani menolak tunduk pada penjajah sampai-sampai gelar “Raja Jawa Tanpa Mahkota” disematkan kepadanya karena pemikiran-pemikiran serta ideologi besar tentang kebangsaan dan kemerdekaan yang puncaknya adalah dengan didirikannya organisasi Sarekat Islam sebagai pelopor gerakan kebangsaan di masa depan.

Dalam Guru Bangsa Tjokroaminoto, Garin kembali menggunakan pakem lama film biopik dengan memusatkan segalanya pada tokoh utamanya, tidak seperti Soegija yang bergerak terlalu liar dengan segunung karakter fiktifnya. Masalahnya, meskipun naskah adaptasinya sudah digodog sedemikian rupa oleh Ari Syarif dan Erik Supit dari ide cerita hasil pengembangan bersama dari cerita Sabrang Mowo Damar Panuluh, Kemal Pasha Hidayat dan Garin sendiri agar tetap setia pada sejarahnya, well, susah untuk tidak merasa kelelahan dengan gaya penceritaannya yang cenderung datar dan menjemukan.
Ya, mungkin saja bukan sepenuhnya salah Garin atau jajaran penulis naskahnya, toh mereka bisa dibilang secara teknis sudah bekerja dengan luar biasa dalam menghadirkan dunia Guru Bangsa Tjokroaminoto lengkap dengan set jadul otentik dan tata artistik rapi dengan detil kota desa yang menyakinkan.

Namun kenyataannya memang kisah dari Cokroaminoto sendiri tidak punya daya pikat yang kelewat kuat meskipun seperti yang saya bilang, penting dalam memberikan informasi historis tentang cikal bakal pergerakan organisasi kebangsaan yang salah satunya membentuk pemikiran dari pendiri-pendiri bangsa ini yang manfaatnya bisa dirasakan hingga kini.

Tetapi dengan durasi kejam yang hampir menyentuh tiga jam tanpa kekuatan bercerita yang benar-benar bisa mengikat, itu jelas sebuah siksaan tersendiri. Pesona teknis luar biasa dan dukungan ensemble cast-nya yang bermain gemilang hanya memberi rasa takjub instan yang perlahan memudar digerus durasi panjang nan melelahkan. Tidak ada momen yang benar-benar menghentak atau sampai emosional yang merengsek rasa patriotisme penontonnya, bahkan konflik demi konfliknya pun terasa lempeng dan dipanjang-panjangkan, termasuk penambahan karakater fiktif macam Stella yang tidak terlalu penting meskipun kenyataanya Chelsea Islan bermain fantastis.

Tidak peduli seberapa hebatnya deretan cast-nya khususnya penampilan prima Reza Rahardian yang meskipun tak mirip namun masih membentuk karakter Cokroaminoto-nya dengan bekal kumis palsu ala Pak Raden dan bahasa Jawa campur aduk yang tidak konsisten, narasinya tidak pernah menghadirkan sebuah titik didih tertinggi, mungkin hal ini juga dikarenakan cara seorang Cokroaminoto yang memilih jalan tenang dalam usaha pemberontakannya, dalam usaha menyebarkan pemahaman kebangsaannya ketimbang melalui caracara kekerasan.

 

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri