Guardian of the Galaxy

Seperti yang mereka lakukan setiap tahunnya, sejak awal proyek Marvel Cinematic Universe (MCU) fase 1 pasca Iron Man (2008) lalu, Marvel Studios merajalela tak terbendung. Mereka tidak pernah berhenti menjajah penontonnya dengan suguhan film superhero berkualitas. Tahun ini mereka memulainya dengan sekuel Captain America yang lebih dahsyat, lalu juga ada sekuel The Amazing Spider-Man dan X-men First Class yang tetap memukau, tetapi siapa sangka senjata pemungkasnya ada pada pundak Guardians of The Galaxy, franchise baru Marvel, adaptasi dari komik yang pamornya tergolong masih asing di telinga para penonton non fanboy-nya.

Tentu saja ini adalah pertaruhan besar penuh resiko Kevin Feige dan Marvel. Membuatkan versi live action dengan bujet fantastis dari salah satu komik mereka yang kurang dikenal para penonton awam. Tetapi sekali lagi, ini Marvel, kita sudah melihat track record mereka ketika berhasil membuat playboy kaya Tony Stark dan Dewa Guntur sombong menjadi tenar seantero jagat. Membuat kedudukan mereka menjadi sama tingginya dengan pahlawan-pahlawan super lain ketika puncaknya, keduanya disatukan dalam The Avengers yang fantastis.

Jadi kenapa kamu harus tidak percaya, ketika mereka membawa Guardians of The Galaxy ke layar lebar? Untuk memberi pengenalan awal Marvel sudah membangun hype-nya jauh-jauh hari sejak cuplikan video awalnya muncul di ajang Comin Con tahun lalu dan perlahan mereka sudah menjadikan Guardians ot The Galaxy sebagai salah satu proyek yang paling ditunggu tahun ini. Saya menyebut adaptasi komik milik Dan Abnett dan Andy Lanning sebagai “The Avengers versi jagat raya”. Konsepnya sama dengan apa yang sudah pernah kita lihat di puncak MCU fase pertama, berisi ensemble jagoan yang bersatu melawan kejahatan besar yang mengacam. Bedanya Guardians of The Galaxy ini lebih menarik. Ia punya anggota-anggota yang paling aneh dalam sejarah per-superhero-an. Ada pencuri, pembunuh, sampai rakun pemarah, dan pohon yang cast-nya diisi oleh mantan komedian gembul, Neytiri yang berkulit hijau, pegulat WWE, Bradley Cooper dan Vin Diesel dengan wujud CGI.

Ya, dengan keberagaman yang nyeleneh, mungkin ini lebih tepat disebut kumpulan para anti-hero ketimbang superhero. Tetapi saya harus mengingatkan, jangan pernah meremehkan gerombolan urakan penjaga galaksi yang tampak aneh termasuk sutradaranya, James Gunn yang masih ‘hijau’, karena siapa yang menyangka bahwa Guardians of The Galaxy ternyata mampu tampil jauh di atas ekpektasi saya.

Tentu saja pesonanya ada pada para Guardians yang punya karakter beragam. Meskipun hanya Peter Quill a.k.a Star-Lord yang mendapatkan jatah masa lalu, namun Gunn memberi setiap anggotanya porsi yang pas untuk bisa unjuk gigi. Sesuatu yang jujur saja sebenarnya susah untuk dilakukan untuk sebuah film dengan banyak karakter penting. Bahkan Rocket sang rakun yang disuarakan sempurna oleh Bradley Coopper dan Groot si pohon mampu menjadi duo hebat yang tidak pernah berhenti menghadirkan keseruan dan kelucuan di setiap penampilan mereka. Narasi yang ditulis Gunn bersama co-writernya Nicole Perlman berada di wilayah serius, tapi tetap santai. Memberikan penontonnya sebuah cerita kepahlawanan antar galaksi, kombinasi epik, perang bintang ala Star Wars, dan cerita pahlawan super dari Marvel. Settingnya yang berada jauh di luar angkasa, seperti membuat Guardians of The Galaxy tidak berhubungan langsung dengan MCU fase 1-2. Ini seperti sebuah wilayah baru yang menjadi semakin luas. dengan segudang easter eggs, termasuk benang merah besar berupa salah satu infinity stones dan sang super villian, Thanos yang menghubungkan antara film-film Marvel sebelumnya dan proyek masa depan Marvel. Gunn dan Perlman juga melakukan beberapa penyesuaian dilakukan, agar tidak menjadi terlalu rumit seperti misalnnya yang paling terlihat adalah origins Star-Lord yang sedikit berbeda dengan komiknya.

Sementara di bagian aksinya, Guardias of The Galaxy tampil memukau. Meskipun sebelumnya hanya pernah membuat film superhero “gadungan” dalam Super, tetapi di sini Gunn sepertinya sudah fasih benar, ketika ia menghadirkan setiap momennya dengan sangat berkelas dan tentu saja menghibur.

Gunn menyuntik narasinya dengan keseimbangan sempurna humor-humor segar dari setiap karakternya. Musik-musik pop 70-80’an asik dari kaset dan walkman jadul kesayangan Peter Quill yang seperti tidak pernah gagal menggelitik dan tentu saja keseruan sebuah action supehero spektakuler berbiaya mahal bersama dukungan CGI dan 3D yang apik. Dari pertarungan berskala kecil di darat dan penjara sampai pertempuran pesawatpesawat luar angkasanya, semua ditampilkan maksimal bersama sinematografi cantik. Ya, Guardians of The Galaxy sungguh adalah sajian supehero terbaik tahun ini. Selamat sekali lagi Marvel!.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri