Genrifinadi “Ge” Pamungkas – Si Comic 1000 Suara

Bagi para penggemar tontonan Stand Up Comedy, pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Ge Pamungkas. Berkat kelihaiannya dalam mengantarkan lelucon-lelucon yang segar, pria bernama lengkap Genrifinadi Pamungkas ini berhasil keluar sebagai juara pertama pada kompetisi Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV Season Kedua pada tahun 2012. Ge adalah salah satu peserta perwakilan Bandung dalam kompetisi tersebut. Ia akhirnya berhasil masuk babak grand final dan berhadapan dengan Gilang, rekannya yang juga satu kota perwakilan.

Ketika melakukan aksi Stand Up Comedy-nya, Pria kelahiran Jakarta, 25 Januari 1989 ini dikenal gokil lewat kemampuan act out-nya dalam membawakan materi lawakan di panggung. Ia mampu meniru berbagai macam suara dengan berbagai ekspresi, sehingga beberapa orang menjulukinya “comic 1000 suara”. Kemenangan Ge tersebut membukakan berbagai pintu kesempatan lain untuknya dalam berkarya. Kini lulusan Jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan Bandung angkatan 2006 ini tidak hanya kebanjiran tawaran road show Stand Up Comedy maupun open mic, tetapi juga membintangi iklan dan berakting di layar lebar.

M&I Magazine pun berkesempatan mewawancarai Ge di sebuah acara comic yang digelar oleh Komunitas Stand Up Comedy Indo Bali. Pria yang bercita-cita menjadi Menteri Luar Negeri RI ini pun menceritakan segala aktivitas barunya di dunia hiburan dan juga passion-nya di dunia komika. Berikut petikan wawancaranya!

Ge lagi sibuk apa selain stand up comedy ?

Lagi sibuk stand up, syuting sitkom judulnya The East yang tayang di Net TV, dan juga sibuk persiapan film ketiga tahun ini. Film pertama gue Comic 8, yang kedua judulnya Youtubers, dan ketiga ini Negeri Van Orange.

Sejak kapan nyadar kalau Ge bisa ngelucu?

Sebenarnya dari dulu itu dikenal garing, sekarang pun enggak lucu-lucu amat, malah lebih dikenal hot dan ganteng (ketawa!). Bercanda ding, waktu itu di Bandung ada namanya Urban Café Bandung ngadain open mic. DI situ pertama kalinya gue nonton standup comedy dan tiba-tiba nama gue dipanggil aja. Itu karena temen gue nulis nama gue terus dikasi ke MC-nya. Waktu itu enggak ada nyiapin materi apa-apa, gue langsung maju dan curhat aja tentang keapesan gue di dunia percintaan. Kemudian banyak yang bilang katanya lucu, dikekang deh di komunitas. Diminta deh buat terus tampil, sampai jadi kayak sekarang.

Ikutan kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) itu apa lantaran keinginan sendiri?

Bisa ikutan kompetisi SUCI di Kompas TV itu juga karena dijebak sama komunitas. Padahal awalnya enggak suka TV. Tapi ya sudah dilanjutin saja. Itu pun karena gue nyadar kalau standup comedy itu enggak ada sekolahnya di Indonesia. Gue liat ini sebagai sebuah kesempatan untuk belajar jadi komika yang benar. Ya bisa dibilang sih gue enggak nyadar kalau bisa jadi komika seperti sekarang, Cuma karena teman aja yang ngedorong.

Kalau keseharian memang suka ngelucu ya?

Ya kalau ngelucu sih sama orang-orang tertentu aja. Paling sama temen kuliah yang emang deket banget. Bahkan dulu kalo ngomong tuh sampai nyakitin orang. Kalau ngeledek enggak bakalan puas kalau enggak bisa sampai bikin orang marah. Jadi ya gitu sama temen-temen deket itu yang ngeracunin.

Biasanya sebelum tampil, nyiapin materi atau spontan aja di depan panggung?

Iya ada skenarionya kok. Semua komika kayak gitu sih prepare materinya udah dari jauh-jauh hari, bisa berminggu-minggu. Untuk menciptakan satu joke yang baru dan bener-bener lucu itu mesti ngalami yang namanya proses trial and error. Dicoba, gagal, coba lagi, gagal, baru akhirnye berhasil.

Itu yang terjadi saat open mic. Kalo di sana kan langsung di depan panggung. Tapi karena sekarang banyak kesibukan jadi enggak ada waktu buat open mic, biasanya gue manfaatin waktu lowong di tempat kerja pas syuting, bereksperimen sama orang di sekitar.

Biasanya dapet inspirasi darimana untuk dapetin bahan joke yang gokil?

Macem-macem sih. Materi-materinya bisa dari kehidupan sehari-hari, pengalaman hidup. Atau dari hal-hal yang gue lihat salah tapi kok kenyataannya dianggap benar. Halhal yang seharusnya salah tapi dilakukan orang banyak jadi terkesan benar. Padahal salah. Misal motor yang melanggar lalu lintas. Jalan yang one way jadi dua arah. Ini bikin kalau punya amarah atau kekesalan sendiri daripada dipendam mending dikeluarin jadi lelucon di depan panggung.

Pernah melakukan pengulangan? Maksudnya joke yang lama di satu acara, kamu bawain lagi di acara lain?

Setiap materi yang sudah pernah gue bawain pasti dicatet. Kalau pengulangan sih sering terjadi, bahkan memang disengaja. Misalkan sekarang gue show di Bali nih. Nah, dua bulan depannya lagi gue bakal lagi tampil nih di Bali tapi di lokasi yang berbeda.

Kalau tempatnya beda tuh masih kecil kemungkinan untuk mengulangi materi. Kalau misalnya joke nya ini sifatnya internal artinya orang luar enggak boleh masuk, nah ini kemungkinan pengulangan materi 90% -nya akan terjadi.

Kalau blank pernah enggak? Terus bagaimana cara menyiasatinya biar enggak ketahuan?

Pernah. Sering malah. Caranya ya jalanjalan di panggung, sok-sok minum air putih, atau nyapa penonton, kalau di stand up itu istilahnya riving semacam lelucon dengan cara langsung gitu sama penonton, misalnya dengan bikin lelucon dari cara berpakaiannya, pola duduknya, cara ketawa, pokoknya ngambil lelucon di situ.

Pernah bikin joke yang spontan enggak?

Spontanitas sering. Ya riving itu. Ada juga namanya Speechgasm. Jadi di stage itu pas lelucon tiba-tiba bisa ngomong ngawur ngidul. Kalo kata Ernes Prakasa, itu suara setan aje.

Pengalaman paling seru atau mungkin memalukan selama tampil sebagai komika?

Pernah di Riau, ditonton 2000-an orang di tengah lapangan bola. Kalau enggak salah mereka abis sibuk ikutan olimpiade apa gitu. Terus pas giliran gue open mic, orang-orang enggak mau ngeliat muka gue. Itu 10 menit yang bunuh diri deh kalo gue bilang. Lu di-hire 20 menit, tapi cuma bisa 10 menit. Akhirnya gue minta maaf ke panitia. Tapi mereka malah bilang enggak apa-apa, soalnya dulu juga sempet ada kasus mereka ngundang band rock dari ibukota. Eh penontonnya malah pergi. Penonton pengen dangdutan aja ternyata. Dulu pernah juga di Jogja di gedung serba guna, kapasitasnya kira-kira untuk 250 penonton tapi yg datang cuma beberapa puluh penonton. Terus mereka duduk misahmisah. Gue aneh sendiri stand up di tengahtengah ruangan gedung serbaguna dan enggak ada panggung.

Apakah bisa dibilang jadi komika adalah salah satu cita-cita kamu?

Enggak pernah kepikiran sih buat ini bakal jadi karir, karena gue cuma ngelakuin apa yang gue suka aja. Banyak yang bilang ini bakal bagus untuk karir ke depan, but when you suck the money first, you wil end up to be
nothing. Mendingan its’ about do what you love, and be something for what u love.

Terus cita-cita untuk jadi menteri luar negeri gimana? Lanjut studi lagi?

Rencananya bakal ngambil S2 lagi untuk jurusan politik kelautan.

Bagaimana kesan Ge selama berakting di layar lebar? Sama enggak sih ngejoke di film dengan open mic atau di panggung standup comedy ?

Beda banget. Film buat gue bentuk seni yang tinggi karena disitu ada komedi, drama, akting, sinematografi. Untuk bikin sebuah film yang lucu dan bagus itu sukar banget. Kalau di Indo sebenarnya bisa bikin, cuman orang-orang kita aja yang punya dogma kalau film Hollywood lebih bagus.

Kamu berperan sebagai apa di film terbaru?

Di film Negeri Van orange itu karakter gue sebagai Daus. Gue jadi seorang yang mahasiswa kuliah di Belanda, tapi berniat kerja di Departemen Agama, cuma gara-gara cewek.

Bagaimana dengan orang tua? Apakah mendukung langkah Ge sebagai komika?

Awal-awalnya sih enggak support. Tapi setelah debat kusir, intinya gue pengen merana dengan passion gue, enggak mau karena cita-cita orang lain. Dengan gue menempuh jalan ini, gue jadi lebih rajin, mandiri dan disiplin.

 

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri