Ernita Kurniawati – Creating Students of The Future

Anda tentu mudah menemukan lembaga diploma untuk pendidikan ekononi ataupun teknik komputer di Bali, namun bagaimana dengan diploma untuk teknik mesin? Bila itu yang menjadi pertanyaan, maka Anda harus berkunjung ke BPLE Tiara Course, lembaga yang awalnya ditujukan untuk merekrut tenaga kerja dibidang teknik ini, adalah sebuah pendidikan tinggi untuk lulusan yang siap bekerja dengan luwes, bukan hanya tahu tentang teori, namun juga dapat praktek secara langsung dilapangan. Adalah sosok Made Ernita Kurniawati, BBA, MBA adalah profile dibalik lembaga pendidikan tersebut yang terus eksis ditengah berbagai lembaga pendidikan modern lainnya yang menawarkan jurusan IT. Generasi kedua penerus family business ini menceritakan bagaimana dirinya mengelola lembaga pendidikan tersebut disela-sela acara wisuda mahasiswanya di hotel Sanur Paradise bulan Juli lalu.

Bagaimana awalnya BPLE Tiara Course hingga berkembang seperti sekarang?

Sebenarnya lembaga ini bermula dari kursus untuk mesin pendingin, kursus tiga bulan yang dimulai dari tahun 1986. BPLE sendiri dimulai saat orang tua dulu yang seorang kontraktor listrik, sering memasang instalasi listrik termasuk di hotel-hotel. Pada saat itu beliau masih kontraktor. Belakangan beliau kesulitan mencari tenaga kerja, karena lulusan SMK yang diterimakan belum siap untuk diajak kerja, lalu diajari oleh bapak untuk disiapkan jadi pegawai diproyek. Setelah didik selama 3 bulan, mereka berhenti lalu membuka usaha. Cari orang lagi untuk dididik tiga bulan, lalu mereka buka usaha lagi, terus begitu. Dari pada rugi, akhirnya di bukalah kursus.

Program yang tadinya 3 bulan, ditingkatkan menjadi 6 bulan, lalu pada tahun 1992 karena tamatan kursus ini banyak diminati dan saat itu hotel juga mulai tumbuh, akhirnya diminta lulusan ini tidak hanya memiliki kemampuan untuk memperbaiki mesin pendingin, dan karena waktunya tidak mencukupi selama 6 bulan pelatihan, akhirnya dibentuklah (diploma) yang 1 tahun. Waktu diawal namanya engineering  perhotelan, kalau sekarang disebut mechanical and electronical.

Saat ini saya dengar sudah ada 5 jurusan yang dibuka?

Setelah membuka engineering  perhotelan selama 2 tahun berjalan, kemudian buka jurusan yang baru lagi yaitu otomotif, lalu 3 tahun berikutnya dibuka lagi untuk kelas engineering komputer, kemudian sekretaris teknik atau administrasi teknik, dan yang terbaru marketing teknik.

Apa pertimbangan membuka jurusan-jurusan tersebut, yang rasanya asing bagi kebanyakan orang?

Jurusan yang kita buat itu memang merupakan jurusan yang berasal dari kebutuhan industri, misalnya sekretaris teknik. Ada kawan dari Jakarta yang tanya “itu jurusan apa?” bahkan kemarin yang bagian akreditasi pun tanya itu jurusan apa.

Benar, karena itu bukan jurusan yang umum!
Karena begini, di bidang teknik ada bermacam-macam, mulai dari teknik mesin atau arsitek, nah semua perusahaan itu butuh admin, namun disini kita persiapkan admin atau sekertaris yang mengerti tentang istilah-istilah teknik, karena perusahaan itukan ada tender, dan lain sebagainya. Awalnya saat kita bekerja sama dengan bengkel dari tenaga engineering otomotif rata-rata mereka selalu bertanya “punya nggak mahasiswi?”

Saat itu saya pikir untuk daya tarik, namun ternyata tidak, mereka ingin mengkursuskan mereka untuk ditaruh di bagian admin, karena mereka memiliki basic teknik maka tinggal diajari administrasi. Karena besarnya permintaan seperti itu, kita coba elaborasi dengan kawan-kawan, ternyata mereka positif akan gagasan itu, termasuk kurikulumnya. Hal ini terbukti diminati, dari awal kita launching program ini,siswanya hanya 3 orang, sekarang sudah hampir 40 orang. Karena memang perusahaan yang menggunakan tenaga administrasi teknik ini terbantu sekali.

Bagaimana peralihan pimpinan BPLE dari bapak ke anda sendiri?

Beliau dari awal mendidik dan menanamkan budaya kerja kepada saya dan saudara-saudara, sewaktu kecil saat libur kita selalu diajak ke kantor, jadi mengenalkan perusahaan itu bagaimana. Saya masuk perusahaan dari tamat SMA, sambil kuliah sambil kerja. Karena ayah berprinsipnya jangan sampai perusahan yang telah dirintis oleh beliau tidak ada yang meneruskan. Karena perusahaan ini bisa dibilang sosial, ya sosial, karena banyak orang yang berharap saat masuk kesini mereka dapat mengubah nasib mereka kearah yang lebih baik.

Saya sendiri masuk D1 disini tahun1992, saya masuk perusahaan 1996 dari posisi bawah, karena orang tua saya berprinsip sebelum kamu mencapai level top manejer, kamu harus tahu dari bawah itu seperti apa. Termasuk kuliah, saya alumni BPLE juga, karena bapak saya minta agar saya tahu visi dan misi disini, dan juga agar dapat membandingkan materinya seperti apa, dosennya bagaimana dan dapat mengkoreksi. Dan saat saya bandingkan dengan sistem perkuliahan diluar, itu jauh berbeda, mungkin karena disini ditekankan ke aplikasi.

Bagaimana dengan siswanya sendiri?

Latar belakang siswa berbeda, termasuk IQ, karena umumnya di universitas kan IQ-nya high, sedangkan disini, dari yang agak kurang sampai yang cerdas juga ada, dari yang kurang mampu sampai kaya juga ada, dari berbagai latar belakang ini kita mencoba mengarahkan mereka mencapai tujuannya. Itu sebabnya ada pendekatan dan trik tersendiri, termasuk dari pembatasan kelas, dimana kita hanya menerima 20 orang untuk setiap kelas, sehingga dosen dapat hafal setiap murid.

Saat ini SMK makin digiatkan, tidakkah semakin sedikit mahasiswa yang diterima atau malah sebaliknya?

Sebenarnya begini, di SMK ada yang kurang dari pengamatan saya. Mereka dipersiapkan setelah lulus dapat bekerja, tapi dilapangan kenyataannya anak SMK teoritis seperti anak SMA, sehingga harapannya setelah 3 tahun mereka dapat langsung bekerja, dia tidak siap kerja. Karena kurikulum dan standar kelulusan seperti SMA, dan kedua masalah kesiapan mental, mereka yang berumur 18 tahun saat mereka didunia kerja agak berat. Sedangkan di BPLE disaat seorang masuk dari SMK ke diploma itu terasa sekali, mereka bilang seperti dikejar-kejar rentenir, karena kita selalu cekoki dengan dunia kerja, agar mereka dapat melihat dunia kerja seperti ini agar dapat lebih siap.

Persaingan sendiri seperti apa yang Anda lihat?

BPLE itu masih satu-satunya jenjang diploma untuk teknik di Bali, karena sekolah teknik itu sulit. Selain tenaga pengajar yang benar-benar aplikatif, kemudian modal yang dibutuhkan banyak. Kalau dulunya bapak bukan kontraktor, sekolah ini akan berat diwujudkan, karena peralatannnya mahal. PR buat saya, bagaimana anak-anak Bali itu melihat peluang, apa yang ada dimasyarakat saat ini. Karena begini, mereka kan jiwa ikut-ikutannya sangat tinggi, ngetrend pariwisata ikut pariwisata, ngetrend otomotif masuk otomotif, sekarang ngetrend perawatan masuk perawatan. Karena suatu saat akan ada kejenuhan.

Mereka sesungguhnya belum memiliki bayangan, saat saya tanya mereka yang mengambil TI, mereka akan kerja apa, jawaban mereka jadi sekretaris, karena sekarangkan serba komputer, padahal itukan jauh sekali. Ini juga sebenarnya pekerjaan dari pendidik, bagaimana mengarahkan anak yang telah memiliki kemampuan sehingga tidak tersesat, setidaknya mereka diarahkan dari SMP.

Ada jurusan yang bagus namun sepi peminat?

Saat ini jurusan marketing menjadi PR buat saya, karena siswanya sedikit, dibawah sepuluh siswa. Untuk itu saya sampai ditantang oleh teman-teman yang dari industri otomotif, “berapapun punya siswa di marketing, kita terima kerja,” itu sekelas Auto 2000, Honda, bahkan ada yang dari Jakarta langsung minta sama kita siswa dari jurusan ini. Padahal peluangnya besar, namun sedikit yang berminat, karena image orang Bali kalau marketing itu seperti pengemis, padahal tidak, karena gengsi masih tinggi.

Selaku direktur BPLE sendiri, pengembangan apa yang ingin dilakukan di BPLE sendiri?

Orang tua saya dulu titip pesan, “Mengembangkan perusahaan sama seperti pohon, sebelum kamu buat tinggi itu batang, kuatkan dulu akarnya”. Karena itu kita selalu coba untuk mencari kawan baru, rekan-rekan baru untuk dapat menerima tenaga kerja.

Banyak memiliki partner untuk menyalurkan para alumni?

Banyak sekali, malah saya tidak enak karena kadang kita tidak dapat membantu kebutuhan mereka. Karena rata-rata sebelum wisuda, mahasiswa kita telah banyak diterima bekerja.

Berapa kuota yang BPLE sediakan untuk mahasiswa baru?

Satu jurusan itu maksimal kita sediakan 4 kelas, tiga kelas D1 dan satu kelas D2, dengan siswa maksimal 20 orang, itupun sudah padat sekali. Karena disana banyak kelas dan laboratorium yang digunakan oleh mahasiswa untuk praktek, bahkan sabtu kita tetap buka laboratorium  bagi mahasiswa yang ingin melakukan praktek tambahan.

Persaingan dengan sarjana S1 dengan diploma seperti apa, apakah diploma ini lebih kompetibel dengan dunia kerja?

Saya dulu juga sempat kuliah di Teknik Universitas Udayana, juga di BPLE dan kerja langsung dilapangan, saya melihat ilmu yang didapat dari kuliah (S1) masih sangat teoritis, sehingga wajar bila perusahaan saat ini mengajak mereka yang tamat siap kerja, sedangkan seorang sarjana sudah mematok gaji, tapi tidak diimbangi dengan kemampuan. Disini banyak perusahaan yang berpikir ‘dari pada saya mencari orang yang bergaji tinggi namun belum bisa diajak kerja, lebih baik saya cari yang diploma, dengan keterampilan kerja yang jauh lebih bisa’.

Ada rencana untuk mengembangkan keluar Bali?

Kita ditawari untuk mengembangkan di Lombok, namun ada kendala pada tenaga pengajar, cukup sulit menemukan orang yang aplikatif, tenaga pengajar yang tidak hanya mengajar atau transfer ilmu, tapi juga mampu mendidik mental anak-anak. Karena selama ini mahasiswa kita ada dari Bali, Lombok, Sulawesi dan Jawa Timur.

Bagaimana pengamalan ibu memimpin BPLE Tiara course selama ini?

Saya sudah menjadi direktur sejak 6 tahun yang lalu, saat bapak saya melinggih, namun itu setelah 10 tahun saya mengabdi. Dahulu orang tua saya belajar dari tetangga kita orang Cina, mereka itu mengenalkan usaha dari kecil kepada anak, supaya anak saat memegang top menagement, dia sudah tahu dari yang bawah sampai atas. Dan ini juga yang saya rasakan, bagaimana saat saya masuk ke perusahaan itu berat sekali, apalagi bos itu bapak sendiri, sampai beberapa kali saya sempat mau resign, karena saat saya melakukan kesalahan yang kecil, beliau marah sekali, sedangkan saat ada staf lain yang melakukan kesalahan yang lebih fatal, beliau tidak marah, cuma menasehati saja. Suatu saat saya pernah sharing dengan beliau sebagai direktur dan staf, beliau berkata “Kalau kamu jadi direktur melakukan kesalahan sekecil apapun itu akan fatal bagi perusahaan, tapi kalau karyawan itu tidak,” itu yang saya ingat sampai sekarang.

Wow, terima kasih atas waktu dan pelajarannya.
Baik, sama-sama.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri