EDGE OF TOMORROW

Setahun sebelum perilisannya, adaptasi dari novel sci-fi “young adult” Jepang milik Hiroshi Sakurazaka “All You Need is Kill” harus rela diubah judulnya oleh pihak Warner Bros, karena kandungan kata “Kill” yang katanya terkesan tidak enak didengar dan kurang pantas disandingkan bersama film dengan rating PG-13, tetapi beruntung hanya itu satu-satunya yang berubah, karena sisanya masih sama.

Ada sutradara The Bourne Identity dan Mr. & Mrs Smith, Doug Liman mengarahkan Tom Cruise dan Emily Blunt yang tampil sangar dalam balutan metal exosuit tempur canggih. Bahu-membahu dalam peperangan besar di Eropa guna membasmi tentara alien cerdas dan mematikan bernama Mimic yang menginvasi bumi. Tetapi bukan hanya sampai disitu saja keasikannya. Ada elemen time loop klasik ala Groundhog Day dalam naskah garapan Christopher McQuarrie (The Usual Suspects, Jack Reacher), ketika karakter Major William Cage yang dimainkan Cruise harus kembali lagi ke satu hari sebelumnya secara berulang-ulang, setelah kematiannya guna mencurangi takdir dan yang paling utama, memenangkan perang yang sebelumnya mustahil untuk dimenangkan.

Bagian terbaik dari The Edge of Tomorrow, selain penampilan Emily Blunt sebagai full metal cool, Rita Vrataski lengkap dengan pedang besar ala Cloud Strife tentu saja adalah elemen time loop-nya (pengulangan waktu). Sejarah mencatat film-film dengan tema yang sama selalu berhasil menjadi tontonan menarik. Sebut saja Groundhog Day, jika kamu mencari komedi romantis, Triangle, jika horor misteri adalah kesukaanmu, atau yang paling baru ada Source Code-nya Duncan Jones. Film-film jenis ini tidak pernah mudah dibuat, beruntung The Edge of Tomorrow sudah punya bahan dasar kuat dari novel Hiroshi Sakurazaka yang lalu dipoles lagi oleh McQuarrie, agar bisa disesuaikan dengan peyutradaraan cepat Liman.

Ya, cepat dan efektif itu bisa menjadi kunci kenapa The Edge of Tomorrow bisa tampil bagus. Tidak ada ruang untuk berbasa-basi, Setelah 20 menit, filmnya bergerak dan karakter William Cage menemui ajalnya, untuk pertama kali kesenangan itu pun dimulai. Satu kali pengulangan menghadirkan kebingungan dan porsi komedi yang sama besarnya serta sebuah scene peperangan awal di pantai yang dahsyat, mengingatkan saya kepada Perang Normandy di pembukaan Saving Private Ryan.

Dua kali pengulangan sedikit menjelaskan plotnya yang ternyata tidak terlalu rumit (thanks again buat naskah McQuarrie). Lalu setelah melalui puluhan pengulangan dan kematian tone-nya menjadi lebih serius, melibatkan sedikit romansa antara Cage dan Rita dalam perjalanan mereka menyelamatkan dunia dari kehancuran.

Mungkin akan sedikit mengecewakan mengetahui ternyata peperangan antara manusia vs alien-nya yang digarap bersama CGI canggih, namun membumi bersama banyak ledakan dahysat rupanya tidak terlalu banyak diekploitasi. Terhitung hanya ada satu perang masif yang diulang-ulang. Namun, menariknya adalah melihat bagaimana William Cage berkembang di setiap perang yang diulanginya. Bagaimana keahlian bertempurnya terasa melalui latihan yang mungkin ratusan kali ia jalani. Serta bagaimana kemudian ia berusaha memperbaiki segalanya melalui keputusan-keputusan emosional yang diambilnya, menjadikan setiap momen The Edge of Tomorrow tetap bisa terasa menyegarkan, meskipun sebenarnya hanya di-rewind bolak-balik. Dan endingnya meskipun terasa cheesy dan bisa saja dihentikan di satu titik, namun pilihan untuk mengakhiri segalanya dengan cara seperti itu mungkin adalah solusi terbaik untuk semua penontonnya.

Tom Cruise memang masih menjadi magnet terbesar buat The Edge of Tomorrow. Meskipun, kamu tidak tahu apa-apa soal premisnya, tetapi melihat sang action-man pujaan mengenakan baju zirah canggih di posternya, itu jelas akan memancing penonton awamnya. Dan sekali lagi Cruise memang memberikan performa kuat untuk karakternya seperti yang sering dilakukannya di film-filmnya. Lalu disebelahnya ada Emily Blunt yang seperti saya bilang di atas tampil sangar sebagai heroine tempur hebat, mencuri perhatian sejak kemunculannya yang dahsyat. Chemistry-nya bersama Cruise tidak buruk, meskipun harus diakui sebenarnya masih bisa lebih baik lagi. Sementara peran-peran kecil macam Tim J dan komandan mereka, Master Sergeant Farrel Bartolome yang dibawakan aktor senior Bill Paxton sukses memberi humor tersendiri, seperti melihat versi “ringan” dari Gunnery Sergeant dari Full Metal Jacket yang legendaris itu.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri