[DOK] Dapur Olah Kreatif – Wadah Pengembangan Multi Kesenian

Anda ingin mendapatkan hiburan untuk melepas lelah di akhir pekan dengan sajian paket komplet? Rasanya tidak ada tempat yang paling tepat untuk mendapatkan semua itu kecuali di komunitas Dapur Olah Kreatif, sebuah komunitas yang menyediakan wahana bagi lahir dan tumbuh berkembangnya kreativitas seni di Kota Denpasar. Markas komunitas ini adalah Warung Tresni, dimana setiap Sabtu malam, beragam aktifitas dihadirkan diwarung yang berlokasi di jalan Drupadi Denpasar ini. Money & I yang berkunjung pada pementasan ke 40 bulan Juni lalu, mendapatkan sajian hiburan dari Bali Blues Island yang saat itu mendapat giliran unjuk presentasi.
Komunitas yang belum lama ini mendapatkan bantuan perlengkapan musik dari Gubernur Bali ini, awalnya bermula dari obrolan kecil para seniman kawakan macam Putu Indrawan (musisi yang pernah meraih gelar Bassist Terbaik Indonesia dalam Festival Rock di Surabaya 1985), Tan Lioe Le (Penyair di Bali yang kerap menghadiri berbagai forum sastra di beberapa negara Eropa, Afrika dan Asia), I Wayan “Jengki” Sunarta (penyair berbakat yang telah melahirkan beberapa buku dan memenangi berbagai penghargaan sastra), Kadek Jango Paramartha (mantan Ketua Persatuan Kartunis Indonesia), Erick EST (Sutradara video clip dan film pendek yang beberapa karyanya sempat memenangi penghargaan tingkat nasional maupun internasional), Iwan Dharmawan (fotografer dan novelis yang banyak menggerakkan berbagai aktivitas fotografi di Bali), Maria Ekaristi (penulis buku dan organisator beberapa event kesenian di Bali), dan Agung Bawantara (penulis). Merekalah para founder yang kemudian menindaklanjuti ide-ide tersebut dalam bentuk komunitas yang diresmikan pada 1 Oktober 2011. Agendanya sederhana, setiap Sabtu malam menggelar ajang kreativitas bagi para pecinta seni.

Selama 40 edisi pagelarannya, DOK (Dapur Olah Kreatif)sudah menghadirkan apresiasi dan diskusi sastra; pemutaran dan diskusi video dokumenter, video clip indie, pertunjukkan dan diskusi musik, peluncuran buku, pameran dan diskusi kartun, pentas musikalisasi puisi termasuk diskusi bisnis dengan mengundang narasumber kompeten seperti Cok Anom pemilik Gerai Krisna Oleh-oleh. Di luar bidang seni tersebut, disisipkan juga acara-acara menarik yang berkaitan dengan seni kuliner. Misalnya, pada program acara tanggal 15 Oktober 2011, DOK menggelar “Pentas Musik Rock & Blues dilanjutkan dengan diskusi “Perkembangan Musik Rock dan Blues di Bali” yang juga dilengkapi dengan aksi kreatif Chef Ketut “Gogonk” Pramana yang mendemontrasikan masakan langka khas Bali diiringi dengan musik blues.

Pada pagelaran DOK ke-40 kemarin, Bali Blues Island mendapat giliran unjuk penampilan dan sebuah diskusi kecil juga sempat digelar, yang membahas perkembangan musik Blues di Bali, yang saat ini sudah memiliki banyak peminat dengan  jumlah anggota komunitas yang semakin bertambah.

Hampir sepanjang 6 jam acara, berbagai musik blues dibawakan secara silih berganti dari berbagai band yang tergabung di BBI, bahkan beberapa kali jam session dilakukan untuk memanjakan audiens yang hadir, tidak sedikit warga asing yang menikmati sajian hari itu.
Berbagai atraksi musik blues yang tampil pada perhelatan DOK kemarin kami sajikan di rubrik ini.
Di tengah banyak vakumnya berbagai komunitas seni di Bali, maka tidak berlebihan rasanya untuk menyebut bahwa DOK bisa menjadi guyuran segar agar eksistensi seni tetap terjaga, bagi Anda pecinta seni dan tertarik untuk berbagi dan mengembangkan kreatifitas. Maka komunitas ini bisa menjadi mediasi tepat bagi Anda mengasah talenta.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri