Dessy Fridayanthi – Si Presenter Cantik

Tetap eksis ditengah munculnya para presenter muda.

Buah jatuh, tak jauh dari pohonnya, rasanya pepatah ini sungguh melekat dalam perjalanan karir Putu Dessy Fridayanthi, besar dan tumbuh dikeluarga yang berprofesi sebagai penyiar, membuat wanita yang akrab disapa Ecy ini turut terjun kedunia tersebut. Ditemui oleh reporter Anton Hpt di kantor Santy Sastra Production, Ecy menceritakan pengalaman karirnya dan bagaimana dirinya mencapai apa yang sudah diraih saat ini.

Awalnya, Ecy hanya menemani ibunya, penyiar senior Santy Sastra yang saat ini lebih sering menjadi mentor, bersiaran diradio lokal di Bali, Ecy kemudian tertarik dan mencoba untuk magang ditempat yang sama dimana ibunya berkarir. Langkah ini menjadi pilihan yang ternyata tepat, pasalnya ia kini telah menjadi salah satu Master of Ceremony (MC) serta presenter yang di perhitungkan di tanah dewata. Mentoring yang baik dari sang ibu serta kemauannya menerima masukan dan terus belajar membuatnya tetap eksis, bahkan hingga saat ini. Padahal, industri entertainment umumnya mementingkan pendatang baru, tapi nyatanya, pengalaman dan kematangannya menjadikan wanita pemenang lomba presenter Bali TV ini tetap saja dicari.

Wanita tamatan Teknik Sipil ini mengawali karirnya sebagai penyair sejak kelas 3 SMA, kala itu ia mendapat tantangan untuk memegang program acara radio yang ditujukan bagi professional muda, talkshow yang topiknya bisnis. Awalnya Ecy kesulitan, namun seiring waktu hal tersebut justru menjadi pengalaman berharga baginya, dan belajar mengkondisikan dirinya berbicara sesuai dengan lawan bicaranya, sehingga tidak kaku dan terkesan selenge’an.”Kita bicara dengan tata bahasa yang (patut bagi) seumuran mereka, sehingga tidak lepas kontrol” ungkapnya.

Dunia presenter radio ternyata sungguh menjadi tempat yang ia sukai, mulai profilnya masuk ke majalah sekolah yang ada di  Bali, serta perlahan-lahan ia mulai banyak penawaran untuk menjadi presenter serta MC.

Sebuah pertanyaan mengelitik kemudian muncul, mengapa Ecy memilih kuliah di teknik sipil? Kenapa tidak berkuliah dibidang ilmu yang sejalan dengan profesinya ini seperti broadcast? Menurutnya, ia pernah hendak kuliah di sastra Inggis maupun ilmu Komunikasi, namun karena kemampuan dibidang IPA sangat menonjol, akhirnya ia berkuliah di teknik sipil, “Di SMA kan saya masuk kelas IPA, sehingga mungkin basisnya kurang kuat di ilmu sosial, sehingga saya dapatnya di teknik saat itu”. Walaupun saat ini ia tidak menerapkan ilmunya selama kuliah, namun menurutnya bekal selama kuliah di teknik itu sangat membantunya di kehidupan nyata saat ini, karena kerasnya teknik saat itu membuat ia menjadi pribadi yang kuat.

Hal lain yang berani dilakukan saat karirnya sedang menanjak, adalah keputusan untuk menikah muda, ia yakin bahwa menikah tidak akan membuat karirnya jatuh, dan hal ini terbukti. Selepas menikah, ia tetap mendapat banyak job bahkan sebagai bintang iklan, baik iklan layanan masyarakat maupun produk, serta membawakan acara tidak hanya di Bali, namun juga di daerah-daerah lain. Ecy menyatakan ada beberapa hal yang membuat dia dapat tetap eksis di dunia presenter, ia menyatakan bahwa keluarga sangat berperan bagi karirnya, dukungan dari suami serta mertua yang pengertian sangat membantu aktifitasnya. Selain itu, rasa ingin belajar dan meningkatkan kualitas membuatnya dapat bertahan. “Saya ikut kursus bahasa Inggris, sehingga saat ada event internasional saya dapat berbicara dengan baik, saya juga ikut les vokal karena kadang saat kita ngeMC, dituntut untuk membawakan 1 atau 2 buah lagu. Ini bentuk peningkatan kualitas yang saya lakukan” terangnya. Sehingga saat kita berusaha dengan sebaik mungkin dengan pasrah dan ikhlas, pintu rezeki akan dibukakan oleh Tuhan.

Saat ini, Ecy dan teamnya tengah mempersiapkan peluncuran radio streaming. Ecy melihat kedepan radio yang memanfaatkan jaringan internet ini akan menjadi kebutuhan para pendengar radio, “Sekarangkan untuk menbuat radio (AM/FM) ijinnya sulit, sehingga ini menjadi opsi yang bagus kedepannya, apalagi era internet seakan tidak terbendung keberadaannya” jelasnya dengan perangai yang sangat optimis.

Saat ini ada sebuah cita-cita yang ingin dicapai oleh pengajar mata kuliah pewawancara di IKIP PGRI Bali ini, yakni menjadi seorang pembicara dibidang MC dan presenter. “Saya ingin berbagi pengalaman saya sebagai seorang presenter dan MC selama ini, dan karena saya juga sangat mengidolakan James Gwee, maka saya ingin menjadi pembicara untuk mereka yang ingin belajar MC dan presenter” pugkasnya menutup pembicaraan kami disore yang cerah itu.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter