DEAL WITH JUTEK

Suatu hari, saya sedang berdiskusi dengan beberapa teman tentang sesuatu yang menurut saya kurang hemat di kantor. Namun, beberapa hari selanjutnya saya baru kalau teman yang saya ajak berdiskusi itu tersinggung dengan cara saya mengemukakakan pendapat. Parahnya lagi, dia justru mengungkapkan ketersinggungannya pada kawan saya yang lain. Sejujurnya saya agak kecewa, mengapa teman saya itu tidak fokus pada apa yang mesti dilakukan, tetapi lebih perhatian terhadap cara saya berbicara dan berpendapat. Tapi, ya memang harus diakui, peran komunikasi sangatlah besar dalam memperlancar keberhasilan seseorang, hampir di segala bidang kehidupan. Namun, bagaimana kalau seadanya lawan bicara kita justru Si Jutek kelas berat?

  1. Different Focus

Kesalahan komunikasi yang pasti bikin bertengkar, hanyalah karena kita berbeda pandangan atau berbeda fokus. Jika sesorang menyerang kita tentang pekerjaan, cobalah perhatikan apa yang membuat orang itu tidak nyaman pada pekerjaannya alih-alih memperhatikan cara dia ngomel. Jika seorang nasabah mengeluh dan marah-marah, fokuslah pada apa yang membuat dia kecewa. Menurut saya, siapapun yang merasa kecewa dan  berekspetasi terlalu tinggi, pasti punya cara sendiri untuk mengungkapkan. Memang tidak mudah, tapi cobalah untuk berfokus pada masalah. Seringkali, untuk menjadi seorang leader yang baik, kita justru dituntut matang secara emosi dan dalam berkomunikasi kan?

  1. Positivve Mind Positive Heart

Sulit memang menanggapi Si Jutek bin Judes, jika dia sudah menyerang. Kesal boleh-boleh saja, namun jika Anda mau merenungkannya sedikit lagi, syukur juga Anda punya teman kerja yang jutek. Jadi, Anda bisa introspeksi diri. Syukur juga Anda punya nasabah yang galak, jadi Anda selalu penuh persiapan dan teliti sebelum bertemu dengannya. Setiap kejutekan dan kejudesan menyerang, saya yakin sebagian besar dari kita pasti akan bertekad untuk menjadi lebih baik.

  1. Try To Be Listener

Mungkin Anda pernah mendengar nasihat, bahwa Tuha  menciptakan dua mata dan dua telinga untuk membuat manusia lebih peduli dan lebih banyak mendengar. Lidah kita yang terletak di dalam mulut, itu berarti kita harus berhati-hati dalam berkata. Yup, mendengar terkadang membuat kita pusing, karena begitu banyak keinginan, harapan, sedangkan di sisi yang lain kita sadar bahwa sedikit sekali yang mampu kita penuhi. Namun, menjadi pendengar yang tulus seringkali mampu membuat kita lebih berempati dan mencoba berusaha menemukan solusi sekalipun dalam keterbatasan.

  1. Words Describe You

Sudah marah, sudah kecewa, boro-boro Anda berpikir ngomel dengan kata-kata sopan. Sah-sah saja jika seseorang kecewa, tapi sebaliknya, cobalah Anda ngomel dengan kata-kata yang pantas. Setinggi apapun pendidikan dan karier Anda, tapi jika kata-kata Anda sekotor cucian di mesin cucim karier puluhan tahun pun akan hancur dalam sedetik. Be Patient, please!

  1. Don’t Judge

Menduga, menghakimi dan menilai seseorang hanya karena dia marah-marah sangatlah kurang etis Anda lakukan. Ingat, Anda tidak punya hak sama sekali untuk menghakimi seseorang, hanya karena dia jutek, Anda tidak pernah tahu apa yang mungkin telah seberapa banyak yang dia lakukan untuk idealismenya sampai sekarang ini. Please don’t take it personally. Sebagai makhluk sosial apalagi pekerja, setiap orang pasti punya standar kualitas masing-masing.

 

Seperti pesan Anthony Robbins, to effectivetaly communication, we must realize that we’re all different in the way we perceive the world and use this understanding as a guide to our communication with others.
by Ina Lestari

 

 

Related News

Leave a Reply

Flag Counter