Dawn of The Planet of The Apes

Setelah apa yang dilakukan Rise of The Planet of The Apes 2011 silam dan teriakan keras, “NO!” nan mengejutkan dari mulut Caesar sampai klimaks spektakuler di Golden Gate Bridge, kita tidak bisa lagi meremehkan prekuel sekaligus reboot halus dari saga klasik Planet of The Apes itu.

Ya, harus diakui itu adalah sebuah permulaan baru hebat bagi origin story para kera-kera pintar, sebuah sajian sci-fi serius dengan kadar keseimbangan luar biasa antara cerita pintar naskah berbobot dan pengunaan teknologi mo-cap yang tidak biasa kamu temui di film-film musim panas kebanyakan. Lalu jika pada akhirnya tahun ini Dawn of the Planet of the Apes muncul sebagai sekuel, kehadirannya bukan hanya karena imbas begitu banyaknya pundi-pundi Dollar yang dihasilkan pendahulunya, namun karena ia memang patut hadir guna menjadi benang merah sebelum masuk ke time line Planet of The Apes, setidaknya satu film lagi untuk melengkapinya sebagai sebuah trilogi.

Plotnya berada satu dekade setelah ending Rise of The Planet of The Apes. Kini manusia harus menuai apa yang ditanamnya ketika virus Siaman a.k.a ALZ-113 merebak dan membunuh hampir semua populasi mereka seperti yang tersaji dalam montage di opening-nya.

Setelah 10 tahun, kejadian mengerikan itu hanya menyisakan segelintir manusia yang punya kekebalan. Tetapi ketika wabah virus mematikan itu mulai mereda, kini mereka dihadapkan pada masalah baru, menipisnya bahan bakar sebagai sumber listrik yang lalu memaksa sekelompok peneliti San Fransisco yang dipimpin oleh Malcom (Jason Clarke) untuk menghidupkan kembali bendungan yang juga PLTA lama di Muir Woods. Masalahnya kini kawasan hutanMuir ditinggali oleh Ceasar sang pemimpin kera yang tengah hidup damai bersama komunitasnya.

Apa yang sudah dilakukan Rupert Wyatt di Rise of The Planet of The Apes memang luar biasa, dan meskipun kini posisi sang komandan digantikan oleh sutradara Cloverfield dan Let Me In, Matt Reeves bukan berarti franchise ini kehilangan kekuatannya, sebaliknya Reeves sudah memberikan sentuhan baru buat dunia para monyet dengan tone yang lebih serius lagi dan tentu saja naskah lebih kompleks dan lebih ambisius yang masih digarap orang-orang yang sama, Rick Jaffa dan Amanda Silver plus bantuan dari penulis The Wolverine Mark Bomback.

Sementara Rise diisi dengan pengenalan sosok sang raja keras, Caesar dan tema kehancuran akibat ulah manusia yang bermain menjadi Tuhan, Dawn melanjutkannya dengan akibat mengerikan serta pemulihan pasca kiamat. Laskap baru dengan latar asli New Orleans pasca badai Katrina menggambarkan ketika alam mengambil alih semuanya membuatnya setnya menjadi lebih hijau dan asri. Ada kedamaian di separuh pertamanya ketika kita melihat Caesar dewasa yang hidup tenang bersama keluarga dan kelompoknya sampai kemudian sekelompok manusia putus asa datang “menganggunya”.
Dari sini benih-benih konflik mulai tumbuh. Reeves membangun semuanya dengan baik sejak awal tanpa harus terkesan tergesagesa, mencoba mengambil sisi baik dan buruk dari kedua belah pihak dengan dua kepentingan berbeda, memberikan proses dan pedekatan antara manusia dan kera yang tentu saja akan berujung pada gesekan yang membakar di puncaknya yang terwujud dalam adegan penuh ledakan dan kekacauan. Sementara scoring garapan Michael Giacchino tidak henti-hentinya meraungraung, mengisi setiap adegan dengan lantunan emosional.

Sekali lagi pemakaian “busana” motion capture / mo-cap rumit dari seniman digital WETA masih mendominasi Rise. Para apes yang jumlahnya ratusan masih berhasil dirender bersanding sempurna dengan dunia yang baru. Sementara sang master mo-cap Andy Serkis melanjutkan kehebatannya mengisi jiwa Ceasar dengan baju ketat dan bintik-bintik sensor komputer. Karakter Casear kini tidak hanya lebih dewasa dan lebih pintar pastinya, namun ia juga lebih bijak ketika harus memutuskan pilihanpilihan sulit yang nantinya akan menentukan kelangsungan hidup kaumnya dan juga manusia. Setiap emosi yang terpancar dari wajah Ceaser itu nyata milik Serkis sampaisampai membuat Reeves memuji serkis setinggi langit dan menganggap performanya itu layak diganjar Oscar. Sementara karakter teman seperjuangan Casear, Koba, simpanse mata satu pembenci manusia mendapatkan porsi lebih besar kini dengan aktor Toby Kebbell yang memerankannya. Sejak Rise, Koba sudah seperti bom waktu yang berjalan, pengalaman pahitnya menjadi kera percobaan manusia membentuk jiwa jahatnya, dan kini “bom” itu benar-benar meledak dan menghancurkan semua.

Sementara di pihak manusia meskipun diisi oleh nama-nama beken macam Jason Clarke, Kerri Russell sampai “The Great” Gary Oldman, porsi mereka tidak sampai terlalu signifikan ketimbang para primata. Ya, masih ada interaksi antara manusia dengan kera, tetapi kadar keintimannya sudah berkurang jauh ketimbang Rise. Naskah Dawn itu seperti memang dibuat untuk memusatkan semuanya pada Casear dan kelompoknya, bagaimana mereka menentukan sikap pada manusia yang tiba-tiba datang ke dunia mereka, bagaimana sebuah perebutan kekuasaan terjadi. Ya, ini adalah dasar yang sangat kuat buat nanti jika benar-benar franchise ini bisa akhirnya menyatu dengan seri-seri awal Planet of The Apes yang legendaris itu.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri