Birdman

Mungkin ulasan ini akan terkesan berlebihan, mungkin juga tidak. Yang pasti, saya dan sebagian penontonnya akan sependapat merasakan sebuah pengalaman sinematis luar biasa ketika ‘menyantap hidangan’ terbaru Alejandro González Iñárritu ini.

Ya, sensasi yang ditawarkan Birdman itu fantastis. Mungkin sama rasanya ketika menonton Sandra Bullock dan George Clooney melayang-layang bebas di Gravitynya Cuaron (2013) lalu. Atau misalnya yang paling baru, Boyhoood-nya Richard Linklater dengan segala proses super panjang selama 12 tahun itu. Intinya, Birdman adalah sebuah terobosan gila-gilaan. Jujur sebelum menyaksikan Birdman dengan mata kepala sendiri, saya tidak tahu apa-apa soal film yang dinominasikan di berbagai ajang perfilman bergensi, termasuk Oscar. Hanya sedikit mendengar dan sedikit membaca bahwa Iñárritu rupanya telah melakukan sesuatu yang fantastis di film Amerika keduanya.

Satu hal.yang pasti, ini bukan film superhero, meskipun kamu akan mendapati kostum manusia burung biru dan penampakan karakter utamanya yang bisa terbang. Sekali lagi ini bukan film superhero. Dan Birdman juga menanggalkan ciri khas Iñárritu pasca trilogi “Death” yang membagi narasinya dalam beberapa segmen. Bagian terbaik Birdman harus diakui bukan pada naskahnya.

Satir dengan bumbu komedi hitam tentang suka duka dunia showbiz Hollywood dari belakang layar. Dalam kasus ini adalah cerita di balik panggung Broadway dari mantan aktor beken, Riggan Thomson (Michael Keaton), eks-bintang dari franchise blockbuster Birdman yang kini berjibaku membangun kembali kariernya yang meredup dalam sebuah pagelaran sandiwara panggung. Jelas bukan sebuah suguhan cerita yang terlalu menjual.

Premis Birdman mungkin bisa saja dibuat dengan mudah dalam bentuk drama konvensional tanpa sampai harus melibatkan sutradara sekaliber Iñárritu yang bahkan turut membawa serta DoP sekelas Emmanuel Lubezki. Tetapi sekali lagi, Birdman bukan drama biasa. Bagian terbaik Birdman adalah bagaimana Iñárritu mempresentasikan narasinya yang mungkin tidaklah terlalu istimewa ke dalam bentuk teknis yang sangat istimewa. Apa yang dikerjakan Iñárritu bisa dibilang sangat ambisius dan nyaris mustahil dilakukan, Tetapi ini Hollywood dan Iñárritu tahu persis bahwa ia bekerja di tempat yang kerap kali bisa mewujudkan sebuah keajaiban sinema, tidak terkecuali filmnya yang satu ini.

Presentasi yang ditawarkan Iñárritu sebenarnya bukanlah lagi sesuatu yang baru. Dari era Rope-nya Alfred Hitchcock penggunaan teknik oner alias long take sudah pernah digunakan dalam menghadirkan satu film penuh tanpa putus.

Lalu, di masa yang lebih baru juga ada Alexander Sokurov dengan Russian Ark, sampai horor produksi Uruguai, La Casa Muda  yang juga sempat dibuat remake Hollywoodnya 2011. Namun apa yang dibuat Iñárritu di sini bisa dibilang merupakan versi upgrade besar-besaran dari apa yang pernah dilakukan para pendahulunya.

Dibuka dengan momen di mana karakter Riggan Thomson yang nyaris telanjang duduk melayang di kamar riasnya. Dari sini Birdman langsung memperkenalkan sosok sang aktor yang tengah lesu, karena kariernya tengah di ujung tanduk. Sementara visi besar Iñárritu akan sebuah pendekatan berbeda ketimbang film-filmnya sebelumnya berhasil diwujudkan berkat kerja sama timnya yang solid, di mana diwakili lewat lensa-lensa wide angle si sinematografer jenius Emmanuel Lubezki.

Dengan pergerakan yang luar biasa, kamera Lubezki begitu dinamis meliputi zoom in, zoom out lembut plus teknis pencahayaan puitis lembut khasnya. Setiap momen menjadi terasa begitu bermakna. Setiap momen menjadi terasa spesial, lepas, bebas dan seperti melayang tak terbatas menembus tembok-tembok keras.

Puncaknya adalah ketika ia ikut terbang di atas New York bersama karakter Riggan Thomson yang terjebak dalam imajinasi dan masa lalunya. Pergantian babak pun diperlakukan begitu halus, Iñárritu seperti mengharamkan kata jeda dan ‘cut’, ketika memilih untuk menyorot perubahan hari ke hari berikutnya dengan teknis time-lapse. Lalu untuk menambah kadar intens dari black comedy-nya, Iñárritu turut memasukan irama perkusi jazz dari Antonio Sánchez yang mampu menghentak asik di setiap momenmomen krusial.

Tidak pernah mudah membuat sebuah film dengan menghadirkan sekuen-sekuen panjang tanpa jeda, apalagi untuk kasus ekstrem seperti Birdman. Belum lagi semua kerumitan itu masih diperparah ketika ensemble cast di dalamnya juga harus berakting menjadi aktor dan aktris Broadway. Ini jelas gila dan tidak masuk akal. Dengan atau tanpa trik-trik manipulasi sekalipun seakan-akan membuat penontonnya percaya hanya dibuat dalam satu kali pengambilan gambar.

Ini jelas-jelas salah satu film dengan kerumitan tingkat dewa.

Berbicara soal ensemble cast, jajaran pemain Birdman bisa jadi adalah salah satu yang kumpulan cast terbaik tahun lalu. Dipimpin oleh Michael Keaton, mantan aktor pemeran Batman ini seperti sedang mempermalukan dirinya sendiri dengan cara yang hebat. Birdman seakan-akan mengolok-olok pribadi dan karier Keaton yang pesonanya juga sempat redup pasca kesuksesan dwilogi Batman milik Tim Burton di era 90’an awal. Ya, Riggan Thomson adalah karakter kompleks, sebuah studi menarik dari sosok manusia yang tengah mencari eksistensi diri pasca keterpurukan karier dan kehidupan rumah tangganya. Terbungkus dalam bayangbayang masa lalu berwujud manusia burung yang kerap menghantui kepalanya.

Riggan berupaya come back melalui pementasan drama panggung sebagai taruhan terakhirnya. Sementara kualitas pemain pendukungnya juga tidak bisa dianggap remeh. Ada Naomi Watts dan Andrea Risenborough yang menawan sebagai wanita-wanita jablai yang menemani karakter Riggan sebagai pria sok tangguh. Selain Riggan juga ada sosok Mike Shiner, aktor Broadway menyebalkan yang dimainkan bagus oleh Edward Norton. Sementara Emma Stone kebagian sebagai karakter putri sekaligus asisten Riggan yang bisa hanya sebatas pemanis. Yang menarik adalah bagaimana  Zach Galifianakis yang bertansformasi menjadi karakter paling normal sepanjang kariernya, dan ia pun bermain bagus menjadi produser, pengacara, sekaligus sahabat Riggan yang setia

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri