Bali Parkour

Pernah menonton film Yamakasi atau B13? Sebuah film yang memperlihatkan sekelompok perampok yang pandai meloloskan diri dengan melompati gedung-gedung tinggi. Sejatinya, film tersebut merupakan bagian dari sosialisasi olahraga Parkour. Istilah ini belakangan mungkin sudah tidak asing bagi kebanyakan orang, namun tidak akrab dikehidupan kita. Pada dasarnya parkour merupakan olahraga atau seni bergerak, sebuah metode latihan natural yang bertujuan untuk membantu manusia bergerak dengan cepat dan efisien. Keberadaannya sendiri menjadi populer ditanah Eropa khususnya Prancis, setelah olahraga ini dikembangkan oleh seorang pria berkebangsaan Perancis bernama David Belle. Saat ini olahraga parkour telah menyebar keseluruh dunia, tidak terkecuali Bali.

Komunitas Parkour Bali sudah terbentuk sejak 5April 2009, yang merupakan bagian dari komunitas parkour Indonesia. Namun berbeda dengan kota-kota besar lainnya yang memang memiliki banyak gedung-gedung tinggi, maka perkembangan parkour di Bali menjadi unik, hal ini terjadi karena di Bali tidak banyak terdapat kawasan yang memiliki gedung tinggi dengan jarak yang berdekatan. Sehingga bentuk pelatihan yang dikembangkan lebih pada gerakan seperti berlari, memanjat dan meloncat untuk membangun kemampuan fisik agar mampu melewati segala bentuk rintangan di berbagai situasi dan kondisi di lingkungan urban seperti di Bali. Namun sekalipun demikian, dengan kreasi dan kreatifitas, dengan segala keterbatasan yang ada, gerakan parkour Bali masih sangat memikat.

Aksi parkour dengan sisi akrobatik ini juga kerap disebut Free Running. Latihannya sendiri dibagi dalam dua kriteria yakni basic & advanced. Untuk para start up, maka memulai latihan dari teknik dasar dengan belajar gerakan keseimbangan, control, daya tahan dan teknik melompati obstacles serta gerakan yang dilakukan berdasarkan track tertentu yang diajarkan satu persatu. Dan jika sudah cukup lihai mengoptimalkan semua gerakan tersebut, baru kemudian masuk ke level advanced yang menggabungkan beberapa gerakan sekaligus. Dan sebagaimana olahraga lainnya yang mengandalkan fisik, sangat disarankan untuk memulai latihan dengan warming up atau pemanasan yang ditujukan agar fisik lebih siap saat melakukan teknik-teknik yang sulit dan meminimalisasi cedera, seperti strecthing, push up, pull up, sit up, squat jump. Kemudian latihan teknik dan ditutup dengan gerakan cooling down untuk mengendurkan otot-otot kita yang tegang setelah latihan. Parkour sendiri sesungguhnya olahraga yang aman kalau kita berlatih dengan teknik yang benar, walaupun cedera seperti lecet dan keseleo juga menjadi bagian dari olahraga ini, namun teknik yang benar dan fisik yang siap, dapat menghindarkan semua resiko cedera tersebut.

Olahraga yang tergolong ekstrim ini belakangan kian diminati anak-anak muda dan menantang adrenalin para “pejantan tangguh”, namun bukan berarti tidak menarik bagi perempuan. Hal ini terlihat dari anggota komunitas parkour Bali yang memiliki anggota perempuan bernama Sasha, menurutnya parkour memberikannya tantangan dan petualangan. Awalnya memang dihinggapi rasa takut akan resiko cedera, namun semua ketakutannya pupus setelah melihat dengan teknik yang benar akan menjauhkannya dari resiko, walaupun sering mengalami lecet dan keseleo namun ia merasakan parkour masih aman bagi perempuan.

Tantangan lainnya dari komunitas ini adalah area berlatih. Karena membutuhkan ruang yang biasanya ditempat umum, hal ini terkadang ditentang oleh pihak keamanan sekitar, karena dianggap mengganggu keamanan dan kenyamanan. Namun hal ini tidak membuat komunitas ini berhenti, mereka saat ini bahkan telah memiliki beberapa tempat latihan, seperti di lapangan Puputan pada hari Jumat pukul 19.00, hari Sabtu di lapangan Renon pukul 15.30, dan hari Minggu di seputar pantai Kuta pukul 15.30. Jadi bila anda ingin bergabung dengan komunitas yang beranggota sekitar 30 orang ini, dipersilahkan dengan tangan terbuka untuk datang atau gabung di Fb “parkour Bali” dan fan pages-nya “Bali Parkour & Freerunning”.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter