Ayu Mellyta P.S – Tebar Pesona Pandan

Sebuah tas ukuran 21 cm x 29.7 cm berbahan dasar pandan dipadu padankan dengan kain endek berwarna hijau tergolek manis di atas meja yang kini ditempati Ayu Mellyta P.S bersama kawannya. Di sebelah tas tersebut, terduduk pula tas lain dengan bentuk hampir serupa. Bedanya tas bernuansa cokelat tersebut menggunakan Oscar sebagai bahan utama. Menariknya, kedua tas tersebut tidak dibelinya di sebuah butik ternama, melainkan murni rancangan kreatifnya sendiri.
“Keduanya adalah tas khusus untuk seminar,” terang perempuan yang akrab disapa Mellyta tersebut. Siapa sangka tas untuk keperluan seminar yang biasanya monoton dengan bahan Spunbond serta sablon alakadar, disulap menjadi tas gaya, unik, dan berkelas. Di bawah brand “Percy Bag” miliknya, perempuan berkulit kuning langsat ini pun mulai membaca peluang pasar dari produk tas seminar sejak 2013 lalu.

Naluri kreatif Mellyta mengalir tatkala mengamati tas-tas seminar yang dibuat sekadarnya saja. Desain tas seminar pada umumnya yang cenderung biasa, pun tanpa improvisasi dan inovasi dari segi bahan. Terlebih tidak mampu menampilkan identitas kebangsaan. “Apalagi sekarang banyak seminar dan konferensi Internasional di Bali. Tas seminar dengan aksen pandan dan Endek seperti ini, saya kira mampu menampilkan identitas khas Indonesia pada acara formal seperti itu,” ungkapnya.

Tak hanya pandan dan kain Endek, bahan Oscar dan kain tissue pun dikolaborasikannya sesuai keinginan customer. “Jarang ada tas seminar yang dibuat secara custom seperti ini kan,” celetuk perempuan penyuka Endek ini. Masuk ke segmen pasar seminar ini pun diakui oleh alumni SMAN 2 Denpasar ini berawal dari ‘coba-coba’ semata. Mellyta melihat beberapa penyelenggara seminar sering kelimpungan mencari produsen tas seminar yang bisa mempersiapkan orderan secara cepat. “Saya itu tipikal orang yang senang mengerjakan sesuatu serba dadakan dan cepat. Kalau ada yang pesan kilat seperti itu, saya bisa langsung tangani tanpa mengurangi kualitas hasilnya lho,” akunya penuh tawa.
Kini, Mellyta pun kerap disibukan dengan permintaan tas seminar. Kliennya pun kebanyakan berasal dari instansi dinas pemerintahan. Beberapa tawaran dari seminar nasional, lokal, maupun taraf Internasional berdatangan satu per satu ke tangannya. “Tentu awal-awalnya saya sempat harus ikut audiensi dulu untuk memenangkan tender proyek seminar tersebut. Dan sekarang lumayan banyak yang merekomendasikan saya untuk dibikinkan tas seminar,” jelas putri dari Ketut Sudirma.

Harga tas seminar Percy Bag pun dipatoknya lebih variatif, berada di kisaran Rp 10.000 hingga Rp 170.000 tergantung dari material dan jumlah permintaan. “Biasanya kalau konferensi Internasional bisa mencapai Rp 170.000 dengan orderan mulai dari 50-100 buah,” katanya. Inspirasi Pandan Besar dari keluarga yang jauh dari atmosfer wirausaha, tak berarti membuat insting kewirausahaan Mellyta tumpul begitu saja. Naluri kreatif dan keingintahuannya yang besar terhadap sesuatu mampu memantapkan hatinya untuk tetap berada di jalur entrepreneurship. “Orang tua selalu berharap, agar saya cepat-cepat melamar pekerjaan setamat dari kuliah. Entah kenapa, saya belum tertarik untuk kerja kantoran. Saya ingin fokus dulu di jalur entrepreneurship ini,” ungkap dara kelahiran Denpasar, 29 Mei 1991.

Mellyta mengaku bahwa sejak kecil sudah merasakan spirit kewirausahaan mengalir dalam tubuhnya. “Iya waktu SD malah saya sering jualan aksesoris dan cokelat Valentine gitu ke teman-teman,” katanya sambil tertawa. Perempuan berambut hitam panjang ini akhirnya menemukan momen kewirausahaannya ketika masih duduk sebagai mahasiswa. Ya, sebelum menjajal pasar tas seminar, perempuan berdomisili di kawasan Denpasar Barat ini pun sudah terlebih dahulu mendirikan brand “Percy Pandan Bag” yang berfokus pada tas fashion wanita dalam bentuk clutch, tas jinjing kantor, maupun tas selempang.

Gagasan Percy Pandan Bag tercetus, ketika Mellyta mengikuti sebuah kompetisi kewirausahaan bertajuk “Bali Youth Marketingpreneur 2012” silam yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. “Awalnya pesimis banget untuk ikutan kompetisi itu. Namun dosen saya terus mendorong dan meyakinkan saya untuk ikut. Cukup kaget, karena saya berhasil lolos di 23 besar dalam ajang tersebut dan meraih score tertinggi ketiga. Kemudian para finalis 23 besar pun diberi modal, pelatihan, binaan, dan dimatangkan usahanya,” tutur Juara III Wirausaha Muda Denpasar ini.

Inspirasi itu pun datang dari tanaman pandan yang menurut Mellyta memiliki daya tarik tersendiri dari keunikan pola, impresi, serta komposisi materialnya. Alumnus SMPN 1 Kuta Utara ini memandang bahwa masih sangat minim penggunaan material pandan pada produk tas komersil di Bali. “Imej pandan masih sebatas pada produk cenderamata di Pasar Oleh-oleh, seperti kotak perhiasan, sandal anyaman, dompet, dll. Padahal pandan bisa lho dijadikan tas untuk keperluan kantor dan dibawa jalan-jalan,” jelasnya.

Demi merealisasikan Percy Pandan Bag, ia pun terpaksa bolakbalik dari Denpasar ke Bone, Gianyar mencari pengrajin yang mampu memproduksi tas tersebut. Di tahap awal produksi sampel, diakuinya memang terkesan masih tergesa-gesa, karena harus mengejar tenggat waktu kompetisi wirausaha pertamanya tersebut. “Semuanya aku kerjakan dalam hitungan hari dengan modal kurang dari seratus ribu untuk membuat sampel tersebut dan sudah 3-4 kali mengalami trial error,” kenangnya sambil tersenyum kecil.

Belajar dari pengalaman beberapa kali produksi, akhirnya Mellyta pun menguasai proses kerjanya; mulai dari memilah pandan, melapisinya dengan obat, agar tidak mudah dimakan rayap, memastikan anyaman serta pola desainnya, hingga cara menjahit yang benar. “Bahan pandan itu enggak boleh ketemu jahitan secara langsung,” katanya sambil menunjukan salah satu sisi jahitan pada tas pandannya. Bagi perempuan pengagum Rhenald Kasali ini, membuat tas pandan sesungguhnya tidak sulit, asalkan kita sudah paham betul bentuk pola produksinya.
Kendala terbesar justru terkadang datang dari ketersediaan bahan baku. Pandan terbilang langka untuk didapatkan di Bali. Kalaupun ada, harga yang ditaksir lumayan tinggi. Kebanyakan pandan yang Mellyta gunakan memang merupakan pasokan dari luar Bali, khususnya Jawa. Namun, bedanya justru terletak dari segi kualitas, bahwa pandan Bali memang setingkat lebih tinggi. Oleh karena itu, Mellyta menyiasatinya dengan mengkombinasikan material pandan dengan bahan-bahan lain, seperti Endek atau pun Oscar.

Fokus Membagi fokus antara kuliah dan membangun usaha memang bukan perkara mudah. Mellyta dan usaha Percy Pandan Bag –nya pun pernah mengalami krisis eksistensi. Mellyta akhirnya membatasi pesanan customer dan sempat mengurangi aktivitas wirausahanya. Mellyta juga mengaku kalau dirinya tidak terlalu memaksimalkan strategi pemasaran terhadap produk Percy Pandan Bag. Namun, anehnya ada saja pelanggan-pelanggan baru yang berhasil mendapatkan kontaknya. “Padahal saya nggak pernah promosi di media sosial sekalipun. Mungkin mereka tahunya dari mulut ke mulut dan ada pelanggan lama yang merekomendasikan saya,” paparnya.

Usai meraih gelar Sarjana S1 Ekonomi di Jurusan Manajemen Pemasaran, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Udayana pada Januari 2014 lalu, Mellyta mulai mengembalikan fokusnya untuk bergerilya di ranah kewirausahaan. Namun, ia mengubah total model dan produk bisnisnya. Dara berkulit kuning langsat ini tidak lagi menerima permintaan tas fashion, melainkan fokus menggarap pasar tas seminar. Baginya memproduksi tas fashion lebih rumit dibandingkan tas seminar.

“Kalau bikin tas fashion itu kita wajib harus update dengan trend yang ada. Jadi saya harus terus membuat desain-desain baru dan berbeda. Saya pun hanya bisa memproduksi desain tersebut dengan sistem limited edition. Cukup rumit juga harus mengikuti alur seperti ini,” katanya. Berbeda dengan produksi tas seminar, di mana Mellyta harus membuat satu model tas dengan jumlah yang cukup besar sesuai permintaan klien. “Dulu kalau satu tas fashion harganya Rp 200 ribu, sekarang satu tas seminar saja saya patok bisa mencapai Rp 170.000 dan itu pesannya minimal 50 item!, ” tuturnya dengan sumringah.

Meski, berkomitmen untuk tetap fokus di satu bidang usaha, namun Mellyta tidak pernah menutup kesempatan lain datang menghampirinya. Kini, tak hanya Percy Bag yang menjadi pundi-pundi rupiah di usianya yang terbilang muda, bahkan bisnis catering dan reseller sepatu pun dilakoninya. “Saya masih optimis bisa menjalankan Percy Bag dan usaha catering kecil-kecilan saya. Sejauh ini masih bisa membagi waktu untuk keduanya. Semua ini juga tidak luput dari dukungan orang-orang terdekat yang membuat saya tetap fokus pada bidang usaha, ” pungkasnya di akhir wawancara bersama M&I Magazine.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri