Aswin Pangestu – Family Business Yang Semakin Berkembang

Perkembangan kota Denpasar yang demikian cepat secara perlahan mulai merelokasi genre bisnis yang berada ditengah kota ini. Konsep metropolitan dimana retail, modern store dan entertainment menjadi bagian pusat kota, memaksa banyak usaha kecil, padat karya atau usaha meterial mulai mencari lokasi marginal. Namun hal ini tidak berlaku untuk toko Tenang, penjual bahan bangunan yang justru saat ini mungkin merupakan salah satu dari sedikit toko material yang masih bertahan di tengah kota.

Adalah Aswin Pangestu, lulusan Fakultas Teknik Sipil UKI Jakarta tahun 1990 ini yang masih mempertahankan usahanya tersebut. Unit bisnis yang sudah didirikan oleh orang tuanya tersebut, bukan hanya dipertahankan, namun juga ditingkatkan performanya. Pria yang hobi bersepeda tersebut juga kemudian mengembangkan karirnya dengan membidik properti sebagai sektor bisnis yang berhasil dikembangkannya.

Ceritakan perjalanan Anda sehingga berkecimpung di bisnis ini?

Usaha saya ini [Toko Tenang, menjual material bangunan.red] sebenarnya merupakan toko keluarga, namun pengelolaannya telah saya pegang sejak 15 tahun yang lalu. Sebenarnya toko ini sendiri sudah berdiri sejak tahun 1960-an, dan lokasinya memang disini, ditengah kota Denpasar ini [Jl. Kapten Regug]. Tapi sebelum jadi toko bahan bangunan, awalnya toko kelontong, seperti jual beras. Cuma waktu itu ada juga material bangunannya, dan belakangan orang tua akhirnya memutuskan untuk fokus agar usaha ini dijadikan toko bangunan saja. Tapi karena lokasinya yang ditengah kota, kita jadi banyak dapat orderan dari masyarakat disekitar sini, karena sekarang ini toko-toko bangunan lebih banyak berlokasi dipinggiran.

Anda kan anak bungsu dari 8 bersaudara, bagaimana proses alih generasi pengelolaan bisnis ini?

Awal berdirinya usaha ini, orang tua dibantu oleh semua anaknya, terutama kakak saya yang saat itu telah menjadi kontraktor. Karena saya yang paling bungsu, maka saya kebagian untuk menarik uang orang-orang yang ngebon ditoko kita. Lalu pada tahun 1991, saat saya telah menjadi developer, toko ini dikelola oleh ibu dan istri saya, karena semua saudara-saudara yang lain sudah mulai membangun toko material sendiri, dan memiliki kesibukan masing-masing, baru setelah tahun 1995 akhirnya pengelolaan toko diserahkan kepada saya dan istri hingga saat ini.

Diluar saya masih melihat ada gerobak, apakah masih digunakan?

Disini kita menjual semua material, dari batu, pasir, kayu, semua ada, jadi kalau mau membangun sebuah rumah, semua bahan yang dibutuhkan ada disini, jadi tidak hanya untuk finising. Kalau dulu, toko bangunan memang mengunakan gerobak sebagai alat angkutnya, tapi sekarang sudah diganti mobil pick-up. Kita juga mengunakan mobil, tapi untuk kawasan yang dekat kita masih menggunakan gerobak, dan kadangkala pembeli minta diantarkan langsung kerumah, yang umumnya ada didalam gang, sehingga ini dapat masuk dan menjangkau kedalam. Selain sebagai efisiensi kerja, juga sebagai tambahan uang bagi karyawan kita, karena kan dapat tambahan dari mengangkut material ke pelanggan.

Berarti peran orang tua dan keluarga sangat besar mempengaruhi pengetahuan bisnis Anda saat ini?

Sejak kecil orang tua telah mendidik saya untuk belajar bekerja. Saat saya duduk dibangku SD, saya sudah terbiasa membantu orang tua bekerja, mulai jaga toko dan lainnya. Sebagai imbalan, saya selalu diberi uang jajan. Lalu tanggung jawab saya meningkat, waktu SMP saya menjadi tukang tagih untuk orang-orang yang utang [ngebon]. Kemudian belakangan ikut membantu kakak yang sudah menjadi kontraktor, saya bekerja sebagai penghitung ongkos tukang waktu itu. Semua pengalaman dan bimbingan dari orang tua, dan keluarga yang akhirnya membuat saya juga terjun ke bisnis properti sebagai pengembang.

Bagaimana awalnya hingga mendapatkan proyek pertama sebagai pengembang?

Setelah saya lulus dari kuliah di Jakarta pada tahun 1990, saya pulang ke Bali. Selain untuk membantu orang tua, ya membantu kakak saya yang lain. Mulai tahun 1991, saya memulai pekerjaan sebagai pemborong kecil-kecilan, seperti renovasi rumah, membuat garasi, pemagaran tanah, dan saat itu penuh order, karena di Bali sedang ramai penjualan tanah. Baru di tahun 1992-1997 akhirnya saya menjadi kontraktor di PT. Darsanala, yang dimiliki oleh kakak. Dari perusahaan ini saya telah banyak membangun perumahan dibeberapa tempat, seperti di Mumbul, Jimbaran dan Kampial. Saya bersyukur, karena hingga saat ini saya telah mampu berdiri sendiri dari modal yang pelan-pelan saya kumpulkan. Saya pun mulai membeli tanah dan membangun sendiri, mulai ruko atau rumah tinggal yang kemudian saya jual dan demikian seterusnya.

Semuanya berjalan lancar?

Ada juga pekerjaan yang penuh perjuangan, misalkan karena dilokasi proyek yang tidak terdapat sumber air. Karena itu, setiap jam 6 pagi saya harus mengisi galon air dan membawanya dari rumah menuju lokasi proyek. Pekerjaan ini harus saya lakukan selama 2 tahun. Tapi itulah pengalaman saya dari merintis karir hingga sekarang.

Proyek apa yang saat ini dikerjakan?

Ada beberapa proyek, untuk rumah saat ini saya sedang mengerjakan pembangunan rumah 2 lantai tipe 200 m2 di daerah Kargo, dan juga membangun rumah 2 lantai sebanyak 4 unit tipe 150 M2, kemudian ruko di Jalan Wibisana, dan ada juga pembangunan rumah kost dijalan Seruni.

Sebagai pelaku di dunia property, saat ini Bapak Aswin melihat property Bali seperti apa?

Property di Bali masih bagus ya, kebutuhannya masih tinggi. Namun kalau untuk membangun ruko sudah agak susah, sehingga saya saat ini mainnya dipengembangan rumah. Ini karena harga tanah sudah tidak mendukung untuk wilayah Denpasar dan Badung Selatan, harga tanah terlalu tinggi. Didaerah yang strategis harga sudah tidak terkontrol, karena itu saya memilih membangun rumah. Itupun tidak dapat bermain perumahan kecil, harus yang tipe besar, kecuali didaerah agak pinggiran kota.

Anda termasuk generasi kedua yang menjalankan usaha keluarga, bagaimana nantinya dengan anak, apakah akan diarahkan sebagai pebisnis juga?

Anak saat ini masih kecil ya, usianya baru 10 tahun, namun saya juga mengajak dia jaga di toko saat libur sekolah, atau ke proyek yang saya sedang kerjakan. Saya ingin menunjukkan, ini lho yang orang tuanya kerjakan, sehingga saya berharap dia sudah mulai mengerti sedikit tentang bisnis orang tuanya.

Selain bisnis, Anda juga aktif di organisasi?

Saya ikut terlibat dalam kegiatan sosial, yaitu Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Saya mulai berkecimpung di INTI sekitar 5 tahun lalu, saat INTI baru didirikan waktu itu. Dalam perhimpunan itu, kebetulan saya dipercaya sebagai ketua bidang sosial kemasyarakatan, yang masih saya jalani hingga saat ini. Perhimpunan ini adalah murni sosial non politik, karena kami berkecimpung disini banyak melihat saudara-saudara kita diluar sana yang ternyata kehidupannya kurang baik. Saya merasa harus dapat berbagi dengan mereka, membantu mereka semampu saya. Oleh karena itu saya sampai saat ini masih terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh INTI, terutama kegiatan sosial.

Terakhir, apa yang ingin Anda bagi kepada para pebisnis muda yang ingin sukses seperti Anda?

Semua yang telah saya capai hingga saat ini tidak lepas dari didikan dan bimbingan orang tua, khususnya mama saya yang selalu menekankan pada saya agar selalu bertanggung jawab, jujur, serta disiplin. Serta yang memiliki andil besar adalah nasihat dan bimbingan dari kakak-kakak saya, dan juga istri yang selama ini terus mendukung dan memberi semangat. Prinsip saya dalam bekerja kita harus berpegang teguh pada prinsip kejujuran, memegang komitmen, dan menjaga kualitas pekerjaan. Kejujuran sangat penting, misalkan saat pembeli mau mencari sesuatu, kita sediakan yang sesuai dengan yang mereka minta, sehingga mereka tidak merasa dibohongi. Kalau yang dicari kayu kamper, ya kita beri yang sesuai dari kayu kamper beneran, juga ukurannya. Sehingga saat kita menjaga kualitas, pembeli akan puas. Kadang karena saya sebagai seorang pengembang, saat ada orang yang ingin membangun rumah dan membeli material, saya tanya dulu kebutuhannya seperti apa, tipe rumahnya seperti apa, sehingga mereka tidak kelebihan saat membeli material, biar tidak rugi nanti saat membangun.

Terima kasih atas waktu untuk berbagi pengalamannya?

Sama-sama.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter