Arya Sutedja & I Wayan Sutedja – UC Silver, Dua Generasi Pendarkan Perak Bali

Sekawanan capung yang kerap terbang di atas petak-petak hijau sawah, kini menjelma sebagai inspirasi perhiasan perak incaran para sosialita lokal hingga Internasional. Bahkan dengan mengenal sosoknya di Bali akan menuntun kita kepada sebuah brand perhiasan perak ternama karya putra Pulau Dewata, yakni UC Silver. Ya, capung telah menjadi identitas dan ikon filosofis dari perusahaan perak yang didirikan oleh empat bersaudara, I Wayan Sutedja, I Made Dharmawan, I Nyoman Eriawan, dan I Ketut Sudiarsana sejak 1989 silam tersebut.

Dari sebuah toko kecil yang lokasinya berada di salah satu pojok jalan di Ubud (yang kemudian menjadi inspirasi untuk nama brand-nya), Ubud Corner atau UC Silver pun mengawali bisnis peraknya. Untuk membuat bisnis tersebut bertumbuh, empat pria bersaudara itu pun saling membagi tugasnya. I Wayan Sutedja selaku anak tertua fokus untuk pemasaran, sementara I Made Dharmawan berkutat dengan proses produksi. Ada pula I Ketut Sudiarsana yang bertanggung jawab untuk keuangan dan pengerjaan desain-desain perhiasan dibebankan kepada I Nyoman Eriawan yang notabene berbekal latarbelakang pendidikan teknik kimia.

Demi memperkuat eksistensi brand-nya, UC Silver bahkan mendirikan sebuah galeri megah di tanah seluar 5.000 meter persegi di bilangan Batubulan. Galeri tersebut tidak hanya berfungsi sebagai showroom, tetapi juga workshop serta berbagai terobosan unik juga tengah dikembangkan di sana. Bisnisnya juga tumbuh secara signifikan seiring penjualan produk yang merambah ke Singapura, Australia, Cina, Amerika Serikat, dan hingga Eropa.

Daya tarik utama UC Silver adalah keunikan desainnya yang tidak hanya mengangkat capung sebagai sebuah ikon, tetapi juga kerap menggali tematema alam dan tradisi. Bentuk-bentuk yang tidak biasa tersebut diramu dengan material perak yang kualitasnya di atas standar. Tak heran jika perhiasan seperti cincin, anting-anting, kalung, gelang dan lain-lain dipatok dengan kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 110 juta.

Selama 16 tahun eksistensinya, brand lokal ini pun semakin kuat dan kian diminati oleh kalangan pencinta perhiasan di seluruh dunia. Untuk mendukung pengembangan bisnisnya, UC Silver pun melakukan regenerasi. I Wayan Sutedja, I Made Dharmawan, I Nyoman Eriawan, dan I Ketut Sudiarsana sebagai generasi pertama mengarahkan anak-anaknya untuk meneruskan UC Silver ke tingkat yang lebih lanjut. Adalah Arya Sutedja, putra pertama dari I Wayan Sutedja ditunjuk sebagai generasi kedua yang terlebih dahulu terjun membantu mengembangkan UC Silver. M&I Magazine berkesempatan mewawancarai Arya Sutedja. Berbagai pemikiran baru terkait pengembangan bisnis UC Silver pun dibagikannya dalam petikan panjang berikut.

Mengapa ada regenerasi dalam pengelolaan bisnis Uc Silver?

Jadi, tahapan tersebut dapat diketahui dari adanya maksimal limit dari generasi pertama. Ketika mereka mengelola perusahaan ini, ada beberapa kondisi yang kita lihat dari era berbeda dengan generasi yang berbeda. Saat ini, saya sebagai generasi kedua banyak berkecimpung di teknologi, sementara generasi pertama yakni bapak kita benarbenar mengembangkan usaha ini sedemikian rupa tanpa adanya teknologi. Dari sanalah generasi pertama mendesain bahwa sudah
saatnya mereka memberi ruang untuk generasi kedua masuk ke dalam usaha UC Silver dan ikut mengembangkannya. Kalau kita tidak mengikuti teknologi, kan lambat laun kita akan tertinggal. Untuk saat ini dari generasi pertama, baru saya yang dididik untuk masuk ke dalam bisnis ini.

Apa yang membuat Anda tergerak untuk masuk dalam bisnis keluarga ini?

Sebenarnya bukan ingin atau tidak ingin. Tapi lebih tepatnya adalah tanggung jawab, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan mengembangkan bisnis ini. Saat ini memang mungkin karena
kewajiban itu lah, maka kita harus ambil alih.

Sebenarnya tantangan Anda sendiri sebagai generasi kedua dalam mengelola bisnis keluarga ini seperti apa?

Tantangan untuk generasi kedua adalah bagaimana menjaga dan mengembangkan apa yang telah generasi pertama ciptakan. Contoh simpelnya adalah bagaimana menyampaikan informasi bahwa tradisi yang kental itu agar diminati oleh generasi yang baru. Itu suatu tantangan yang besar. Bagaimana menjelaskan dan menyebarkan informasi yang sangat dalam terkait pengalaman mereka tersebut, agar anak muda juga mudah terinspirasi.

Adakah konsep baru yang Anda tawarkan untuk Uc Silver, ketika mengambil alih bisnis ini? Jika ya, seperti apa konsep tersebut?

Saya baru enam tahun mengambil alih dan dalam artian saya masih belajar. Masih ada sistem yang perlu dirombak dan dikaji ulang secara bertahap. Saya lebih cenderung fokus terhadap pengembangan pemasarannya. Bisa dibilang saya juga masih bekerjasama dengan desainer. Kebetulan desainer masih dipegang oleh paman nomor tiga, salah satu pendiri UC.

Saya juga telah menciptakan tim desain khusus untuk menganalisa tren perhiasan di mata dunia, menggabungkan desainer bali, desainer bangkok, dan desainer Cina. Dengan kombinasi tim tersebut, kita selalu membuat inovasi produk yg selalu menjadi tren di kalangan lokal maupun internasional. Saya belum berani bilang, jika saya sudah bisa dilepas sendiri di bisnis ini, karena jujur saja saya masih butuh banyak masukan. Generasi pertama masih membimbing saya. Generasi pertama dan generasi kedua ini berkolaborasi dan saling menyatukan pikiran. Di sana, kami menyatukan pikiran dan visi mau dibawa kemana arah brand UC itu sendiri. Saya selalu mengonversi segala hal baru yang saya terima, semisal ada desain baru pasti saya akan beri masukan dan diskusikan terlebih dahulu untuk mengacu terhadap tren apa yang akan berkembang ke depannya.

 

RESPON MASYARAKAT SANGAT LUAR BIASA DAN APPRECIATE. KAMI INGIN MEMPERKENALKAN KE MASYARAKAT, BAHWA KAMI SEBAGAI BRAND LOKAL JUGA SANGAT DIMINATI PASAR INTERNATIONAL DAN PERLAHAN MEMBUAT MEREKA MENGERTI BAHWA PRODUK LOKAL TAK KALAH BAGUS.
~ ARYA SUTEDJA ~

 

Apakah Anda juga melakukan ekspansi ke market yang baru?

Saya sendiri melihat UC Silver di generasi pertama memang sudah punya pasar yang spesifik, yakni mereka yang berusia 40 tahunan ke atas, di mana dalam artian memang sudah punya kapasitas bargaining power yang tinggi serta appreciate terhadap kesenian Bali. Dengan kehadiran saya setidaknya bisa membuat sebuah market baru. Karena memang sudah punya pasar yang bagus, tidak ada salahnya untuk ekspansi ke market yang baru. Jadi di sini, kami berupaya untuk membidik pasar 25 tahun ke atas. Generasi pertama punya pemahaman kultur yang kental, sementara generasi saya mencoba membawa modern taste, agar bisa masuk ke market yang baru, yakni kalangan muda. Kami mulai melakukan perbaikan dari segi harga dan style-nya agar terlihat lebih modern, hip, dan chic. Itulah konsep baru yang ditawarkan oleh kami, tetapi tetap menjaga kualitas dan promise kami sebagai nomor satu. Tetap mengarahkan brand UC Silver ini, agar lebih banyak lagi dikenal dan benar-benar membawa nama kerajinan dan kesenian Bali harum di kancah Internasional.

Bagaimana respon masyarakat dengan pengembangan konsep yang Anda tawarkan?

Respon masyarakat sangat luar biasa dan appreciate. Kalau dulu, kita melihat target domestik ini kan belum terlalu appreciate terhadap nilai artistik dari sebuah perhiasan. Dengan hadirnya kami di sini dan terus memperkenalkan, bahwa produk UC dibuat oleh orang asli Bali. Dan juga posisi kami sebagai brand lokal yang diminati pasar Internasional, perlahan-lahan membuat mereka mengerti bahwa kualitas produk lokal tersebut tidak kalah bagus dan menjanjikan dari produk luar negeri. Jadi dapat saya simpulkan respon positif dari pasar domestik sudah mulai berdatangan untuk membeli produk kami. Kini, mereka sudah membuka diri untuk produk lokal.

Bisa ceritakan tentang gedung Uc Silver yang berdiri megah dan unik ini di Tohpati? Bagaimana sesungguhnya konsep perancangannya?

Visinya adalah kita ingin menjadikan UC Silver sebagai sebuah destinasi. Apakah itu dalam bentuk penjualan perhiasan, museum, atau malah kuliner. Kita sepakat dengan keluarga untuk merancang konsep UC Silver menjadi sebuah destinasi. Jadi, enggak seperti orang sekadar lewat dan mampir, tapi kita sengaja ingin menciptakan bahwa kalau orang ke Bali itu, karena memang ingin mengunjungi UC Silver. Dari konsep destinasi itulah, kita korek-korek lagi lebih lanjut dan menemukan ide untuk memunculkan retail store dan factory-nya. Dari konsep inilah secara tidak langsung kita ingin mengedukasi mereka. Rencananya, kita akan ada museum perhiasan pertama di Indonesia. Selain itu, juga akan ada toko oleh-oleh, performing art, hingga jajanan pasar. We’re thinking about our 24 hours business. Ini sudah dikonsep sejak 2004 lalu. Kita percaya dengan kemampuan sendiri, sehingga semuanya kita kerjakan dari A sampai Z. Mulai dari desain arsitektur dan realisasinya. Kita enggak pakai arsitek atau kontraktor luar. Bapak sering bilang ke saya, bahwa kami harus utamakan keluarga bagaimana pun situasinya. Sistem kekeluargaan kami di UC ini diperkuat. Jadi kalau ditanya kapan selesainya, kita juga belum bisa memastikan, karena kita ingin hasil akhir yang memuaskan. Setiap meter persegi di sini ada konsepnya. Kita enggak sembarangan lho naruh patung-patung di UC.

Sejauh ini pasar yang paling dominan datang dari mana?

Masing-masing market memiliki daya beli dan season yang berbeda, baik itu domestik maupun Internasional. Tapi kalau pasar Internasional, sejauh ini sih masih dominan di Amerika, baru bergerak ke Asia, dan kini Eropa masih dalam pengembangan. Generasi pertama baru meraih pasar di Amerika saja, sementara kami dari generasi kedua mengembangkannya lebih lanjut untuk Asia dan Eropa. Sedikit informasi juga, beda market, juga beda segmen dan style-nya.

Salah satu terobosan yang Anda lakukan untuk membuat brand Uc Silver makin dikenal di mancanegara?

Memang semenjak adanya pemikiran baru, saya sudah buatkan sistem, di mana kita bergerak di IT dan dalam hal ini, kita tidak hanya fokus di Bali, tapi kita juga mendirikan perusahaan yang mendukung usaha kita di Hongkong dan Bangkok, serta Amerika yang juga tengah kami proses. Kita sudah buatkan secara sistematik, di mana IT -lah yang akan bergerak. Contohnya keberadaan online shop. Seperti kita ketahui juga, dewasa ini sudah beranjak ke kontribusi online atau e-commerce. Meskipun perkembangannya di Indonesia belum cukup signifikan dibandingkan dengan negara-negara lain. Untuk itulah, kita mencoba persiapkan dari sekarang mewanti-wanti, jikalau nanti tren e-commerce tersebut melambung di Indonesia. Ibarat senjatanya telah kita persiapkan sebelum berperang. Selain itu, saya bersama tim UC juga telah merealisasikan pembuatan silver berbentuk naga seberat 500 kg dan panjang 20 m berbahan perak dan emas. Patung naga ini dikerjakan oleh tim kreatif muda asli bali. Tujuan saya membuat ini ialah untuk memberikan inspirasi kepada generasi muda kita bahwa kita kaya akan karya seni dan talenta yg sangat luar biasa. Dengan ini juga, saya ingin agar dunia melihat Bali punya sebuah ikon dengan “wow factor”.

Bisa ceritakan konsep retail store “Angel to Angel” yang ada di celuk?

Banyak yang menganggap pasar perak di Celuk itu adalah middle to low, namun kita coba ubah mindset tersebut dengan mengarahkan kepada pasar middle to up. Oleh karena itu, kita mendirikan retail store yang berkonsep “Angel to Angel”. Kita ingin punya brand lokal yang solid dan bisa dilirik oleh pasar Internasional. Kita coba tunjukan bahwa celuk ini bukan pasar murahan lho, tapi celuk menghasilkan karya-karya yang prestisius dan bergengsi.

Ngomong-ngomong Uc juga membidik usaha akomodasi, Hotel Kuta Angel ya, mengapa?

Hotel itu ada, karena kita pikir sudah saatnya UC melakukan diversifikasi usaha dan ini juga sebagai persiapan untuk jangka panjang. Kita berusaha mengaplikasikan konsep “Always UC” ke bisnis yang berbeda, karena UC sudah punya corporate identity dengan style pakemnya. Kita bawa keunikan UC itu ke bisnis akomodasi.

Apa harapan Anda ke depan untuk Uc Silver?

UC Silver tetap menekankan untuk bisa menjadi brand Internasional. Di sini, kami akan terus kembangkan kreativitas dan inovasi serta memperjuangkan apa yang harus tetap ada dan diwariskan oleh para pendirinya.

 

Kenapa Uc Silver identik dengan desain capung?

Sebenarnya semua yang kami ciptakan di uC ini kan berangkat dari filosofis, salah satunya konsep capung. Seperti diketahui, capung itu merupakan salah satu barometer lingkungan hidup. Keberadaan capung juga menandakan bahwa lingkungan kita itu bersih. Sayang kalau anak cucu kita tidak tahu capung. Sekarang, hutan sudah mulai berkurang, dibongkar untuk dijadikan lahan pemukiman. ini akan sangat berpengaruh terhadap ekosistem capung. Capung itu adalah salah satu soulmate petani. petani itu sangat senang dengan capung, karena serangga ini merupakan predator hama padi. petani zaman dulu kalau mengalami masa paceklik, mereka akan makan capung. nah, sudah sebegitu banyaknya pengorbanan capung demi kelangsungan hidup manusia. Kini, dia juga mesti mengorbankan dirinya. Saya tinggal di kampung dan merasakan pengalaman tersebut. Jadi saya punya kepercayaan, bahwa saya tidak boleh membunuh capung. – I Wayan Sutedja

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri