300 Rise of an Empire

Para pria macho Yunani bertelanjang dada, hunusan pedang, panah dan tombak, cipratan darah serta parade peperangan slow motion over the top yang terbungkus dalam balutan gambar-gambar cantik hasil efek green screen. Ya, dari trailer-nya, semua tampak tepat sasaran. Segala kesenangan yang pernah kamu dapatkan sebelumnya dalam historical action fantasy epik 300 sepertinya masih akan ada di situ. Tetapi tentu saja Rise of an Empire akan berbeda ketika orang-orang besar di dalamnya tidak lagi terlibat. Pertama, tidak ada lagi nama Zack Snyder dibelakang kamera, diganti oleh Noam Murro . Kedua, tidak ada lagi bercerita soal Raja Leonidas dan pasukannya yang gagah berani, seperti yang kita ketahui, ia sudah mendapatkan apa yang dinamakan “kematian yang indah” ala bangsa Sparta di seri pendahulunya. Sebagai gantinya, narasi pelintiran sejarah garapan Zack Snyder dan Kurt Johnstad hasil adaptasi dari komik Xerxes milik Frank Miller yang belum dipublikasikan itu akan menarik sedikit ceritanya ke belakang, ke 10 tahun sebelum perang Thermopylae legendaris itu terjadi.

Tetapi yang menarik, kisahnya tidak hanya melulu bergerak di masa lalu, ketika Themistocles (Sullivan Stapleton), jenderal perang asal Athena berhasil membunuh Raja Darius I (Yigal Naor) dari Persia di Battle of Marathon di mana secara tidak langsung Themistocles telah menciptakan sosok penuh dendam dan amarah dari putra Darius yang kemudian akan kita kenal dengan Xerxes. Sedekade kemudian plotnya kemudian berdampingan dengan 300-nya Synder dalam pertempuran Yunani-Persia part 2. Dari sini kita tahu persis apa yang terjadi di Gerbang Panas itu, namun tidak dengan apa yang terjadi di luarnya. Ada Artemisia (Eva Green), perempuan Yunani yang membelot menjadi jenderal tangguh Persia, memimpin ratusan armada Xerxes dengan misi meratakan Yunani dengan tanah.

Sebagai sebuah prekuel, sidekuel sekaligus sekuel, Rise of Empire yang sebelumnya sempat diberi sub judul Battle of Artemisia sebenarnya adalah film pendamping yang menarik buat penonton yang ingin mengetahui apa yang terjadi sebelum dan sesudah perang Thermopylae di 300. Apalagi dengan bekal cerita baru dari Frank Miller yang sepertinya juga akan mengupas tuntas siapa sebenarnya Xerxes itu. Sayang, jika kamu mengharapkan itu maka bersiaplah akan kecewa. Ya, memang ada proses bagaimana salah satu pemimpin Persia paling disegani itu terlahir kembali dari api dendam, tetapi ya, hanya sebatas perkenalan basa-basi biasa tanpa kedalaman, dan porsinya sama seperti yang terjadi di film pendahulunya, Xerxes yang masih dimainkan oleh Rodrigo Santoro seperti disimpan kembali untuk kemungkinan sekuel lanjutan. Sementara itu, aktor Australia yang memerankan Themistocles jelas bukan tandingan Lonidasnya Gerard Butler yang penuh pesona dan cerita perjuangan rakyat Athena pun tidak ada apa-apanya dengan apa yang telah dilakukan para manusia Sparta.

—————————————-Baca juga : Batman Vs Superman————————————-

Bagian aksinya tentu yang paling ditunggu. Murro melakukan apa yang pernah dibuat Synder dengan kembali membawa DNA 300-nya yang berisi banyak sekuens aksi dan pertempuran epik dalam bungkusan CGI berat dan sinematografi keren garapan Simon Duggan. Diantaranya meliputi banyak pengunaan layar hijau dan efek slowmotion dan tidak ketinggalan, cahaya berlebih. Kali ini settingnya lebih luas, tidak hanya darat namun juga lautan , bersama banyak kapal perang Yunani dan Persia yang saling bertabrakan, menghasilkan lautan penuh api dan darah. Termasuk di dalamnya, Murro menambahkan lebih banyak lagi galonan darah CGI dan kekerasan berlebih. Tetapi, meskipun masih terlihat sama cantik dan spektakulernya, namun, entahlah, terasa hampa dan membosankan, saya tidak merasakan spirit dari 300-nya Synder.

Beruntung sekaligus ironis, buat franchise film dengan kandungan janggut, otot dan testoteron sebanyak ini ternyata sekuelnya ini harus diselamatkan oleh para wanita yang sebelumnya nyaris tidak punya andil besar. Ya, saya berbicara soal Eva Green sebagai Artemesia, jenderal wanita Persia yang ganas. Karakterya lebih menarik ketimbang tuannya, Xerxes sendiri, bahkan Synder memberikanya masa lalu, sebuah background kelam dari gadis Yunani kecil terbuang, bertransformasi menjadi mesin pembunuh paling mengerikan yang pernah dipunya Persia. Lalu wanita lain adalah istri Leonidas, Queen Gorgo yang kembali dimainkan Lena Headey. Meskipun porsinya lebih sedikit ketimbang Green, namun kemunculannya di akhir film sedikit banyak sudah memberikan aura dendam yang juga menjadi pondasi Rise of an Empire.

Related News

Leave a Reply

Flag Counter

Copyright © 2020 LESTARI MEDIA. All Rights Reserved . Designed by Literatur Negeri